34th Chapter - [Felicia]

1.7K 297 166
                                        

Almira Freddie

Dua hari sebelum insiden Global Nations.

Jam sudah menunjukkan pukul 16.00 sore, Levin sudah menjemputku sesuai janji sebelumnya. Asal kalian tahu, meski aku telah memilihnya, aku tak pernah bisa sesemangat yang kalian perkirakan jika bersama dengannya.

"Kamu cantik banget, Honey!" Levin mencium kanan kiri pipiku sebagaimana yang sering ia lakukan bila bertemu denganku. "Dan harummu bikin aku semakin tertarik. Apa kita langsung pergi sekarang?"

Aku membenahi dress dan juga rambutku. "Huff ... aku bener-bener gugup, Lev. Ini pertama kalinya kedua orang tuamu melihatku dalam kondisi seperti ini. Apa kamu benar-benar sudah yakin mereka akan menerimaku?" Tentu saja aku harus memastikan itu terlebih dahulu pada Levin. Sebelum aku mendapat jamuan makan malam yang tidak sebanding dengan kegundahanku.

Levin tersenyum padaku. Menghibur. "Tenanglah, jangan gugup. Aku sudah menceritakan semua tentang dirimu ke papa dan mama sejak lama, dan mereka menanggapiku dengan senang hati. Aku akan tetap berada di pihakmu, Honey." Levin membuka pintu hendak memintaku keluar. "Ayo, kita pergi sekarang sebelum jalanan semakin padat."

Selama di perjalanan, Levin membantu menetralisir kegundahanku dengan membicarakan beberapa topik menarik. Seperti klub downhill-nya yang semakin besar, klub shotgun-nya yang juga hampir berkembang, tapi ketika aku membicarakan niatku untuk mengajaknya menjenguk kak Sita, wajahnya berubah masam. Katanya dia ada urusan besok dan minta maaf tidak bisa menemaniku ke Rumah Sakit. Sudahlah, barangkali aku harus merengek lagi pada Nouvie untuk menemaniku.

Tujuh puluh menit kemudian, Levin membawa mobil masuk kesebuah halaman rumah satu lantai beraksen studio minimalis. Halamannya sangat luas, ada tiga mobil mewah terparkir di dekat garasi. Ini adalah tempat yang sangat asing bagiku.

Aku mengedarkan pandanganku ke sekitar ingin tahu. "Lev, apa ini rumah orang tuamu? Seingatku dulu rumahnya ngga di sini."

"Rumah baru, Ra... enggak, sih, sudah dua tahun juga mereka tinggal di sini." Levin mematikan mesin mobil. Aku mengangguk paham. Orang tua Levin adalah salah satu pengusaha sukses yang tentu saja bisa berpindah-pindah tempat tinggal sesuai keinginan mereka. Ahh, ini membuatku semakin gusar saja. Hampir tidak percaya apakah orang tua perfectionist seperti mereka bersedia menerimaku sebagai calon menantu.

Aku mendaratkan bokongku pada kursi roda setelah Levin mendekatkannya padaku. Aku kembali membenahi pakaian dan juga tatanan rambutku sekali lagi, barulah yakin untuk melaju mengiringi langkah Levin yang sudah mempersiapkan diri bila mana aku butuh bantuannya menaiki anak tangga kecil di area beranda depan.

Ia mendorong dan menjungkitkan roda kursiku untuk bisa melewati dua anak tangga menuju pintu masuk rumah, setelah itu tidak ada lagi penghalang. Aku cukup beruntung karena rumah ini hanya satu lantai dan kalaupun ada anak tangga paling hanya satu atau dua. Itu tidak masalah bagiku selama Levin ada bersamaku.

Aku menelusuri lantai marmer yang memantulkan bayangan. Panel-panel kaca berukuran besar terlihat terang benderang hampir di seluruh sisi dinding yang berwarna cokelat lembut. Rumah ini terlihat nyaman bagiku karena aksesnya yang tidak menyulitkan.

Levin mengantarku ke sebuah ruangan tidak bersekat di mana terdapat sectional sofa dan meja kayu berbentuk diagonal. Panel kaca besar membentang di sisi kiri sofa dengan hiasan tanaman palem orisinil. Aku berpindah ke sofa yang lebih nyaman dengan tidak membiarkan kursi rodaku jauh dari jangkauan.

"Apa kita akan menunggu papa mamamu di sini?" tanyaku pada Levin yang sudah duduk di sebelahku. Tangan kanannya menyentuh punggungku .

"Ya, mereka sedang dalam perjalanan pulang dari kantor. Kamu tunggu di sini dulu ya? Aku akan mengambilkan makanan atau minuman untukmu."

THE LADY HAMMER Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang