Arjuna Shanders
Dua puluh lima menit waktu untuk sampai di lokasi yang kami tuju. Di dalam mobil, aku masih membiarkan Almira menyerahkan kepalanya di atas pahaku--tertidur.
Keheningan mengudara. Sepuluh menit kemudian, kembali berhamburan segala macam percakapan di telinga kami ketika mobil sudah memasuki daerah kekuasaan Red Skull. Apocal 2, di mana White Horse-yang berada di urutan paling depan-berhasil memasuki pintu gerbang berkat kepiawaiannya mengelabui penjaga. Si driver membuat para penjaga berbadan besar itu percaya kalau dia membawa rombongan pasukan Red Skull kembali ke garasi mobil.
"Good Job! Minta driver itu menunjukkan di mana jalan masuk ke markas utama, Jhon," titahku pada Apocal 2, dibalas dengan suara instruksi memaksa Jhon pada si driver.
Rombongan tiga mobil yang beriringan meninggalkan kepulan debu dari daratan tanah kering. Banyak rongsokan alat-alat berat di sisi kanan dan kiri sepanjang kami melewati jalur. Hingga sampailah kami di sebuah gedung satu lantai, di mana pintu besi terbuka di kedua sisi otomatis. Mobil paling depan masuk, kemudian menghilang di balik kegelapan.
Aku baru menyadari saat mobil yang dikendarai Ben masuk, ternyata ada ruang bawah tanah dengan jalur menikung-nikung hingga membuat mobil menungkik. Almira hampir saja terjatuh jika aku tidak cepat menahan tubuhnya. Setidaknya, hal itu berhasil membuat ia terbangun.
"Kamu udah bangun?" tanyaku. Almira mengangkat tubuhnya dengan tangan yang bertumpu di atas pahaku. Matanya layu, pola celana jinku tercetak bergaris di pipi kirinya.
Jarinya mengucek mata ringan, mengedarkan pandangan ke sekeliling yang bercahaya remang. Hanya lampu-lampu LED ber-Watt rendah terpasang di langit-langit gedung.
"Ini, garasi Red Skull?" Matanya setengah terbuka saat menyadari keberadaanya. Ternyata benar, ia pernah berada di garasi ini.
"Kamu pernah masuk ke sini?"
Ia mengangguk, menyisir rambutnya dengan lima jari. "Iya, Monica sering membawaku ke ruang bawah tanah ini. Di sini aku bisa latihan menembak, dan juga memilih senjata api kesukaanku."
"Senjata api? Maksudmu, gudang senjata?"
"Iya, banyak banget." Almira tersenyum semringah, menaikkan alisnya sebelah. "Apa aku boleh milih senjata? Entah kenapa, kalau lihat benda berlaras panjang dan mengkilap itu, hatiku jadi puas. Apalagi kalau aku menggunakannya."
Mobil depan berhenti, disusul dengan mobil kami yang juga ikut berhenti. Kulihat Jhon dan rekannya sudah keluar, berdiri mengawasi situasi yang tampak lengang. White Horse masih siaga pada sandranya.
"Kamu tetap di sini, Helena akan mengawasimu."
"Aku? Bukankah harusnya aku ikut bersama kalian?" protes Helena.
"Enggak, Hel. Almira harus tetap di dalam mobil sampai aku menginstruksikannya ke kamu. Kami harus memastikan tempat ini bersih, ini markas besar Red Skull, ngga mudah mencari titik lemahnya." Aku beralih pandang pada Almira. "Kamu harus tetap di sini. Dengar?" Tentu saja aku masih ingat bagaimana Almira pernah menipu Lucas waktu misi penyelamatan Nouvie, gadis ini terlalu nekad. Aku belum bisa percaya seratus persen padanya begitu saja. Ia piawai dalam mengelabui lawan.
"Memangnya aku bisa ke mana dengan kaki kaya ini?" Almira menanggapi.
"Tetap saja aku belum bisa percaya, kamu pernah menipuku sekali saat mau membunuh Danggo. Tapi kali ini, aku ngga akan biarin itu terulang lagi." Ia malah meringis tawa kecil sampai matanya menyipit, kurasa dia ingat masa itu. "Jangan ketawa!"
KAMU SEDANG MEMBACA
THE LADY HAMMER
AcciónACTION, THRILLER, ROMANCE Arjuna Shander, seorang agen rahasia yang ditugaskan khusus untuk mencari barang bukti kasus pembunuhan seorang Pejabat Menteri bidang Kemaritiman 6 tahun lalu yg mungkin disimpan oleh mantan atlet downhill bike bernama Alm...
