Almira Freddie
Sekembalinya kami ke markas elite, aku dan Monica duduk di dapur dan disambut dengaan tepukan tangan bangga dan dialog hangat oleh Tn. Van Groom, Levin dan juga Kinan. Mereka baru saja selesai makan siang terlambat. Aku mengatakan terlambat karena idealnya jam makan siang berada di rentan waktu pukul 12.00 hingga 13.00, Tn. Van Groom menyuruhku makan dan memerintahkan salah satu ART untuk memanggilkan dokter untuk merawat kakiku sembari aku menikmati makan siang.
Mengenai asupan energi yang harus kuisi, menu makanan yang tersaji di atas meja makan ini terlihat tak bersahabat. Terakhir kali aku makan siang di ruangan ini, dengan menu steak dan juga mesh potatoes, aku mengalami masalah pencernaan dan menyebabkan usus besarku tidak bekerja normal. Aku menghabiskan waktu berjam-jam malam harinya di atas closet duduk hanya untuk mengosongkan perut. Sejujurnya aku sendiri tidak ingat kapan terakhir kali aku mengalami frustrasi yang sama dalam keadaan begini. Aku sudah mengelilingi seisi rumah ini, dengan sosok para pengawal yang pasti ada di setiap pintu masuk―tapi ketahuilah, tak ada satu orang pun yang bisa akrab denganku meski hanya untuk bercanda, mengobrol apalagi mengajakku bermain.
Mendadakaku ingat pada lelaki yang dadanya kutembak tadi. Dada – kenapa aku tidak membidik kepalanya saja? Meskipun aku telah meyakinkan Monica bahwa pria itu pasti sudah mati dan tak mungkin baginya hidup dengan dua lubang peluru yang sudah kutembuskan, tetap saja pikiranku terganggu dengan wajah tak asing yang rasanya kukenal. Adegan penembakan yang terjadi siang tadi berkali-kali datang, seperti scene film yang diputar berulang-ulang dalam kepalaku. Semua usaha yang kukerahkan rupanya berhasil membuatku tak berselera melakukan apa pun selain menyendiri dalam kamar. Menatap keluar jendela yang berembun lantaran tempias hujan deras membentuk butiran air pada permukaan kaca. Aku masih belum bisa melupakan wajah pria itu sedikit pun. Seperti ada nama yang terselip dalam ingatanku, hanya saja aku sulit menjangkaunya karena banyaknya labirin yang membatasi kinerja otakku.
Sepi. Benarkah aku selalu sesepi ini setiap hari? Sementara mereka semua berada di luar sana, yang sedang berpesta pora merayakan kemenangan. Dentuman musik DJ, minuman keras, suara tawa serta umpatan dan obrolan kotor, sama sekali tidak membuatku nyaman. Mereka terlalu berisik. Telinga dan kepalaku sampai sakit mendengarnya. Ini masih jam sepuluh malam, tapi mereka berpesta pora seolah malam sudah larut dan tak menghiraukan apa pun kecuali kesenangan.
Aku sendiri di kamar ini. Seperti serangga kecil yang tak dihiraukan oleh siapa-siapa. Aku mencondongkan tubuhku keluar pintu kamar melihat situasi di luar, berharap menemukan Monica untuk bersedia mengajakku mengobrol. Ada sesuatu yang ingin kutanyakan padanya. Menuntut janji Monica yang katanya akan mengabulkan permintaanku jika operasi rahasia kami berhasil.
Ah, kulihat dia masih senang berkumpul dengan para bad boy yang memperlakukannya seperti wanita penghibur. Menyediakan bokongnya untuk di pangku oleh seorang pria yang tampak lebih muda darinya. Ia terlihat senang dan bergairah sekali, membuatku harus berpikir ulang jika hanya sekadar mengganggunya. Hanya sebentar saja kupikir, lagipula permintaanku tidak sulit, Monica pasti bersedia menurutiku.
Kuhelakan napasku sekali sebelum melajukan kursiku ke arah kerumunan di ruang bar, tapi mendadak niatku terhenti karena Levin lebih dulu menghampiriku dari belakang.
"Kamu mau ke mana?" tanyanya memergokiku.
Wajahku menengadah padanya. "Ada sesuatu yang mau kuminta pada Monic. Apa kau bisa membantuku memanggilnya?"
Levin menoleh ke arah Monica sebentar, lalu kembali mengarah padaku. Tangan kanannya menyentuh rambutku, membelai kepalaku dengan raut wajah iba. Entah apa yang kulakukan, tangan kiriku refleks menepis tangan Levin yang menurutku tidak wajar. Aku memintanya untuk memanggil Monica, bukan memintanya menyentuhku.
KAMU SEDANG MEMBACA
THE LADY HAMMER
AçãoACTION, THRILLER, ROMANCE Arjuna Shander, seorang agen rahasia yang ditugaskan khusus untuk mencari barang bukti kasus pembunuhan seorang Pejabat Menteri bidang Kemaritiman 6 tahun lalu yg mungkin disimpan oleh mantan atlet downhill bike bernama Alm...
