8th Chapter - [Six Years Ago]

2.9K 444 182
                                        

Play the music ☝️☝️ part kali ini panjang cuy. tinggalin comment sukak ati kalianlah ya... loveyalll

Almira Freddie



Aku ada di nomor punggung sepuluh. Tinggal menunggu dua angka lagi agar aku dapat mengayuh sepeda dan membuat fantasi. Ayah dan para personil team masih sibuk memastikan kondisi MTB yang akan kukendarai telah sempurna. Suara music backsound membahana mengisi keramaian even Kejurnas downhill di Bukit Klemuk Batu. Aku telah sampai di babak final dan sejauh ini aku memegang waktu yang tercepat dari kontestan elitewomen lainnya. 2 menit 0,3 detik untuk melintasi jarak tempuh 1,2 kilometer.

Ini adalah pertandingan kejurnas yang ke-25 bagiku sejak aku memutuskan untuk menekuni olahraga ekstrim ini dari umur dua belas tahun. Itu artinya, seperti yang kusebutkan, aku sudah bergelut dengan olahraga ini sejak kecil.

Sampai saat ini, belum ada biker wanita yang bisa mengalahkan kelincahan dan kecepatanku menaklukan medan-medan sulit diatas bukit. Lima medali emas dan dua medali perak dari kejuaraan internasional, sepuluh tropy bergengsi dari kejuaraan nasional dan-aku hampir tidak hapal semua event. Yang kutahu hanyalah, aku belum pernah kalah dalam lima tahun terakhir. Mereka menjulukiku The Lady Hammer. Julukan yang dialamatkan padaku karena ketahananku mengayuh sepeda dalam posisi berdiri pada medan apa pun.

Di area berkumpulnya para The Lady Hammer Team manakala situasi keramaian yang membahana dan kerasnya suara musik, ayah sibuk mencari keberadaanku. Yah, aku menghilang barang sepuluh menit saja. Bersembunyi― mencari privasi untuk menghisap rokok sebenarnya. Kalau ayah tahu aku merokok di saat akan bertanding, dia pasti sangat murka. Dan akan lebih marah lagi jika aku ketahuan mengingkari janjiku untuk tidak lagi menyentuh tembakau kering itu. Namun mau bagaimana lagi, aku seolah tidak memiliki nyali jika nikotin belum menyebar di otakku.

Aku merasakan nikmatnya menyendiri. Sejuk dan menenangkan. Kicauan burung dan juga serangga hutan mengganti peran musik penyelenggara. Namun, tampaknya kenyamanan ini hanya berlangsung sesaat ketika sayup-sayup aku justru mendengar suara lain. Itu terdengar seperti, suara tembakan dari senjata api serta teriakan orang yang miris menuju mati.

Aku yang sedari tadi berdiri dan bersandar pada sebuah pohon pinus raksasa menyadari hal yang tidak beres. Hanya berjarak lima puluh meter dari posisiku, aku melihat sekelompok pria menggunakan masker penutup mulut memukuli seorang pria berusia sekitar lima puluh tahunan. Tiga orang pria itu memukulinya hingga suara rintihan terdengar samar. Aku meletakan helm di bawah kakiku, di antara rerumputan lebat, dengan posisi kamera gopro jelas mengarah pada mereka dan―menyala. Sementara aku bersembunyi di balik pohon pinus raksasa, mendengarkan tanpa berani mengintip. Mereka tidak akan bisa mengetahui keberadaanku karena semak belukar membuatku tak kasatmata.

Secepatnya, kumatikan puntung rokok. Tiba-tiba, pria yang hampir mati itu berteriak menyebut nama seseorang dengan nada penuh kebencian.

"Bajingan kau Handoko!" itu kalimat terakhir yang kudengar setelah tiga buah tembakan berhasil menembus dadanya.

Kuberanikan diri sedikit mengintip. Seorang pria berperawakan tinggi masih meluruskan tangannya yang memegang pistol ke arah pria tua yang sudah tergeletak. Aku tidak melihat detail gambar tato yang ada di lengan pembunuh itu, tapi kurasa bentuknya seperti serangga, hanya itu yang kutahu. Dua orang pria itu membiarkan tubuh tak bernyawa di sana. Mati mengenaskan dengan tiga luka tembak di dada.

Di balik pohon pinus raksasa, aku merekam semua kejadian itu dengan jelas meski disertai dengan rasa cemas. Ponsel di kantung celanaku tiba-tiba berdering. Aku panik. Cepat-cepat kukeluarkan ponsel lantas membisukannya. Kulihat ayah memanggilku tapi aku tidak bisa menjawab. Dan itu membuatku harus pergi dari sini secepat mungkin sebelum mereka menyadari keberadaanku.

THE LADY HAMMER Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang