40th Chapter - [Take You Home]

1.1K 251 16
                                        

Arjuna Shanders

"Kapten! Alihkan pandanganmu! Jangan lihat matanya!" Teriakan Triana berulang kali berusaha masuk ke dalam pikiranku.

Namun aku tetap bergeming, terpaku lurus pada bola mata indah tersebut. Meskipun jarak kami jauh, tapi daya tarik yang ia rekatkan padaku tak dapat kuhalau. Aku membatu di atas kakiku sendiri.

"Leopard, lakukan sesuatu! Mata dan kata-kata wanita itu lebih berbahaya dari pada peluru." Triana terdengar panik di kejauhan sana. Begitu juga dengan para personil Apocalypso yang saling bersahutan agar tidak kehilangan sang Alfa.

"AUU!!"

Tubuhku langsung limbung begitu benda keras berupa pistol terlempar dan mendarat di kepalaku. Aku pun terjatuh dengan posisi kedua tangan dan lutut bertumpu di atas lantai.

Dari balik tembok pembatas, Jhon melompat dengan sangat cepat. Langsung menyergap Monica dari belakang. Tangan Monica yang hendak meraih pistol dari pahanyapun terkunci di belakang punggung. Menggeliat kesakitan. Jhon mengambil pistol wanita itu lalu melemparkannya ke belakang. Menjauh.

"Monic!" teriak Almira.

Aku bangkit menyesuaikan kepalaku yang masih kesakitan lantaran ulah Jhon. Tindakan antisipasi yang bijak sebelum Monica berhasil menguasaiku.

"Bangun, Kap!" seru Jhon. Kulihat ia kesulitan menahan tubuh Monica yang terus saja menggeliat keras. Setidaknya, Jhon berada di posisi yang tepat, sebab wanita itu tidak punya mata di belakang kepalanya.

"Felicia, hilf mir!" (Felicia, bantu aku).

Monica mengeluarkan kalimat dalam bahasa Jerman. Aku tidak tahu apa artinya, tapi aku yakin ini bertanda buruk. Wanita itu berusaha merasuki pikiran Almira kembali.

"Benutze deine Waffe, erschieße diesen Mann!" (Gunakan senjatamu, tembak pria ini!)

Ujung laras senapan yang semula menyentuh lantai, kini terlihat kokoh di atas kedua tangan Almira. Siap menarik trigger tanpa aba-aba. Jika Almira bisa menahan tembakannya untukku, aku tidak yakin ia akan melakukan hal yang sama pada Jhon.

Tumpuanku kini menegap bangkit, menyelipkan salah satu pistol ke pinggangku sementara dua pistol lain kubiarkan tergeletak di lantai. Dengan gerakan gesit dan cepat, aku berhasil menampik senapan yang bertepatan dengan luncuran peluru. Jhon beruntung, peluru itu menyasar ke tembok pembatas hingga mengeluarkan serpihan pasir beton.

"Jangan lakukan ini, My Lady! Ini bukan dirimu. Lepaskan senjatamu!" tanganku berusaha merebut senapan itu dari Almira. Aku tahu dia punya otot lengan yang sangat kuat, aku bahkan hampir kewalahan menahan ketangguhannya yang masih saja berniat menembak Jhon.

Almira meringis, tetap kukuh pada keinginannya untuk menolong Monica. Tanpa mendengarkan sedikitpun perkataanku.

"Felicia, bitte. Ich habe Schmerzen... Beeil Dich! Hör nicht auf den Mann." (Felicia, tolong. Aku kesakitan... Cepatlah! Jangan dengarkan pria itu.)

"Tutup mulutmu Perempuan Nazi sialan! Gunakanlah bahasa Indonesia yang baik dan benar," protes Jhon.

"Juna, lepaskan! Aku harus menolong kakakku!"

"Wanita itu bukan kakakmu, dia sudah mempengaruhimu. Sadarlah! AAAUU ...!" Aku meringis kesakitan saat Almira berhasil menggigit pergelangan tanganku hingga peganganku terlepas. Ia meninggalkan bekas gigitan yang sangat dalam.

"Aku bilang lepaskan. Monica membutuhkanku!"

Senapan itu kembali terangkat hendak membidik Jhon yang kini sudah dalam posisi memeluk Monica.

THE LADY HAMMER Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang