7th Chapter - [Lollipop Boy]

3.1K 495 161
                                        

Arjuna Shanders

Kamar ini terlalu dingin saat mimpi hampir menyudahi tidurku. Samar-samar, aku merasakan daun telingaku sejuk dan menggeli. Udara seakan ditiupkan samar. Beberapa kali aku mengusap telinga sebelah kiriku, tapi tetap saja sesuatu yang hangat mengganggu.

Akhirnya aku membuka mata, memperjelas pandangan mencari tahu. Bayangan seseorang terasa begitu dekat dengan kasurku. Aku mengabaikannya dan kembali menutup mata. Baru kusadari kalau itu bukanlah bayangan, melainkan wujud seseorang yang nyata. Aku pun terhentak.

"Kamu?! Kenapa kamu bisa masuk ke kamarku?"

Itu Almira. Dia sudah duduk di kursinya dari tadi mungkin. Sementara aku masih terkejut lantaran heran. Bagaimana dia bisa masuk dengan seenaknya ke zona ini?

Duduk tegak di atas tahtanya, Almira menunjukan simpul tawa di wajahnya yang sudah terlihat cantik dan aroma mewangi menyerebak hampir ke penjuru kamar.

"Dasar bodoh! Kamu lupa kunci pintu. Apa kamu pikir ini hotel bintang lima yang pintunya bisa terkunci otomatis?"

"Ah, kamu! Ngejutin aja, sih," gerutuku kesal. "Aku masih ngantuk. Balik ke kamar kamu sana, aku mau tidur lagi." Kuambil bantal untuk menutupi kepalaku. Setidaknya lima belas menit saja.

"Han! Ini udah jam enam pagi. Ayo bangun."

Almira berusaha menarik bantal yang menutupi kepalaku. Aku tidak peduli dengant tetap membiarkan telingaku menuli.

"Sebentar lagi! Lima belas menit aja."

"Bangunlah! Kamu juga belum sholat subuh, dasar pemalas!"

"Arkhhh ... pergi sana. Aku bilang lima belas menit lagi. Apa kamu ngga tahu? Badanku ini masih sakit semua gara-gara berantem semalam. Ngerti dikit, dong!" Terjadi saling tarik menarik bantal antara aku dan Almira. Tidak ada yang mau menyerah. Kuat juga tenaganya. "Berhenti menarik bantalku!"

"Isshh ... Han! Ayo bangun. Kita harus pergi sekarang."

Almira masih berusaha melepaskan bantal dari kepalaku. Sedikit iseng, dengan sengaja aku melepaskan genggaman mendadak.

"Kyaaa!"

Almira berteriak disusul suara sesuatu yang terjatuh bersamaan.

Aku spontan bangkit. Kulihat Almira sudah tergeletak di lantai dalam posisi kursi terbalik dan roda berputar.

"Almira!" Kepanikanku semakin bertambah tatkala kulihat gadis tersebut tidak bergerak. Dia pingsan pikirku. Aku pun refleks melompat dan menghampiri tubuhnya yang tergeletak diam. "Almira bangun. Maaf, aku ngga sengaja." Kuangkat kepala Almira dan memukul pipinya berusaha membangunkan. "Please, Ra ...."

Beberapa detik kemudian Almira membuka matanya. Tertawa. Ia tertawa kencang sekali. Dia berhasil menipuku ternyata, padahal jantungku hampir mau copot saat kupikir dia pingsan.

"Kamu? Aku hampir mati kena serangan jantung, kupikir kamu udah gegar otak."

"Haha! Haha! Ekspresi kamu lucu banget. Ya ampun aku ngga bisa berhenti ketawa. Haha! Haha!"

Kulempar bantal ke wajahnya melampiaskan kekesalan. "Ngga lucu!"

"Kamu kesal karena udah ngga ngantuk, 'kan? Bukan karena takut aku mati."

"Udah jelas aku takut kamu mati. Di kamar ini cuma ada aku sama kamu. Kalau kamu mati, udah pasti aku yang disangka bunuh kamu."

Yah, gadis ini masih senang tertawa. Memasang wajah manis padaku yang juga terbawa suasana.

THE LADY HAMMER Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang