Wattpad Original
Ada 4 bab gratis lagi

Bab 5 - Dibiasakan

25.5K 3.5K 92
                                        

Bukankah wajar, membuat yang tidak biasa menjadi suatu hal yang biasa?
*****
B2C
Bab 5
*****


Aiden tidak tahu apa yang terjadi, tapi sudah terhitung nyaris seminggu dia kehilangan sosok Vio seperti awal mula pertemuan mereka. Sejujurnya, Aiden kehilangan Violeta yang banyak bicara dan sesekali melawannya.

Vio yang kini ada di hadapannya, akan bertingkah seperti kerbau dicucuk. Gadis itu dengan suka rela melakukan apa yang Aiden perintahkan tanpa menolak seperti awal-awal pertemuan mereka. Bahkan ketika Aiden menyuruhnya untuk melakukan hal-hal tidak masuk akal seperti membuatkan kopi, ataupun mengelap dinding kaca yang sebenarnya sudah bersih, Vio melakukannya dengan sangat patuh dan tanpa omelan apa pun.

Ya, meskipun Aiden cukup puas dengan kinerja Violeta yang memiliki progres signifikan. Gadis itu sudah memahami tugasnya dengan sangat-sangat baik. Mungkin, beberapa bulan lagi, Aiden benar-benar memetii buahnya. Atau bahkan ia yang sepenuhnya bergantung pada keberadaan gadis itu.

Sekarang, Aiden tak perlu lagi pusing dengan jadwalnya, ataupun memangkas berkas yang belum disortir dari awal. Pekerjaannya terasa lebih ringan, dan itu semua karena Vio yang dengan sangat cepat beradaptasi.

"Permisi, Pak. Ini berkas untuk nutrition bag sekali pakai dengan harga ekonomis."

Aiden mengangguk singkat. Kali ini, Violeta menggunakan kemeja floral sederhana dipandu dengan rok sepan yang melekat pas pada tubuhnya. Wajahnya hanya melekat make up tipis. Mungkin hanya bedak dan pewarna bibir.

Aiden bukan orang yang selalu menutup telinga ketika anak buahnya terang-terangan menjadikannya bahan gosip, dan sekarang pun sekretarisnya yang menjadi bahan perbincangan hangat.

Dia tahu, banyak yang menanyakan kenapa Violeta yang dipilih dibandingkan mantan sekretaris perusahaan sebelah yang lebih memiliki banyak prestasi dan pengalaman. Namun, Aiden memang memiliki pertimbangannya sendiri, dan terbukti sudah. Vio memang mampu menjadi sekretaris yang Aiden harapkan.

Penampilan Violeta memang tak terlalu menarik jika dibandingkan sekretaris Perusahaan tetangga. Namun, bagi Aiden itu bukan hal penting, karena yang Aiden butuhkan adalah kinerjanya. Aiden sendiri sudah cukup nyaman dengan penampilan Violeta yang apa adanya. Cukup sopan dan tidak berlebihan. Gadis itu sepertinya menjadikan sesi wawancara sebagai guru terbaik, karena Aiden sendiri akan kelimpungan jika Violeta berpenampilan seperti image sekretaris kebanyakan. Sebab, Aiden tahu, di balik tubuhnya yang mungil, Vio terlihat menarik dengan caranya sendiri. Untung saja, sekretarisnya itu masih polos dan kurang percaya diri. Meskipun begitu, cukup banyak anak buahnya dari berbagai divisi, ataupun client perusahaan lain, terang-terangan menunjukan ketertarikannya pada Violeta.

Entah kenapa, Aiden tidak suka fakta itu.

Astaga! Aiden mengurut pelipisnya. Kenapa dia jadi lebih memikirkan Violeta dibandingkan berkas-berkas yang mulai menumpuk?

Aiden menghela napas, kemudian menyesap kopi yang baru saja dibuatkan Violeta tanpa ia suruh seperti sebelumnya. "Tumben kamu lebih tanggap dulu?" netranya mengendik pada cangkir kopi yang dia bawa.

"Kerjaan saya hari ini banyak, Pak. Dan saya nggak bisa lembur. Jadi saya harus menggunakan waktu dengan efektif."

Aiden mengangkat bahu, kemudian berujar tanpa dosa. "Padahal hari ini saya ajak kamu lembur buat kejar target."

Violeta termangu di tempatnya. Sekarang dia sedang merapikan berkas yang baru saja ditandatangani Aiden. Ia mendongak, menatap Aiden kecewa.

"Maaf, Pak. Hari ini saya benar-benar nggak bisa. Saya janji, besok pagi, saya sudah sampai di kantor dan lembur setelahnya."

B2C: Benar-benar CintaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang