Ruang terdalam, 03 Agustus 2019
Dear, yang bersedih.
Hai, hai, hai.
Ada cerita apa hari ini? Aku, diriku, sedang mendapatkan cahaya khusus dari tuhan untuk menuliskan surat terbuka, ditujukan pada setiap manusia yang bersedih. Aku tidak tahu apa sebab kau bersedih. Ada banyak hal yang bisa menyebabkannya pun ada banyak akibat yang akan ada setelahnya. Tapi terlepas dari itu, setiap manusia layak untuk bahagia. Siapa yang mengatakan mereka tidak layak? Sini, kutendang ke laut agar ia sadar seberapa pentingnya bahagia itu untuk manusia. Tapi aku juga tidak mengatakan kau tidak boleh bersedih. Boleh. Silahkan. Tapi ingat, jangan lama yah?
Kau boleh bersedih untuk alasan apapun itu, entah karena lelah dengan hidupmu, atau karena sedang kehilangan seseorang, bahkan merasa bahwa kau berada dalam kesendirian dan tidak ada yang peduli padamu. Ada banyak alasan kenapa bersedih. Begitu banyak. Kalau begitu, juga banyak alasan untuk bahagia kan? Setuju tidak? Jika setuju, coba tutup matamu dan katakan pada hatimu, "Mari kita bahagia, kita bekerja sama oke?" Lalu buka matamu dan tersenyumlah, walaupun tipis, biarkan dunia tahu bahwa senyumanmu layak untuk mereka.
Walaupun begitu, aku sebagai manusia sejati yang bebas juga sadar dan tahu bahwa tidak semudah itu untuk menyembuhkan luka yang ada. Tidak semudah debu yang hinggap setiap hari di teras rumah, tidak semudah itu. Luka itu, entah ringan atau sangat parah. Tidak akan mudah disembuhkan.
Lalu, apa yang menyebabkan kau bersedih? Patah hati mungkin? Atau kehilangan seseorang? Uang jajanmu kurang hari ini? Cintamu tak terbalas? Dosenmu moody-an atau bagaimana? Putus cinta? Masalah keluarga?Tidak bisa menjadi yang terbaik? Astaga, banyak sekali. Sedih bisa datang kapan saja dan darimana saja, tempatnya tak tentu, yang menyebabkannya bisa dari hal yang terkecil hingga terbesar. Sudah kukatakan boleh bersedih, tapi jangan lama yah? Tidak boleh lama. Jangan larut dalam kesedihan, biarkan jiwa dan ragamu mencicipi bahkan merasakan bagaimana bahagia itu. Mulai dari hargai dirimu. Mulai dari jangan menyakiti dirimu untuk hal yang tidak layak. Mulai dari benahi dirimu agar mempunyai mental yang kuat. Mulai dari senyuman yang kau berikan secara tulus, walaupun tipis, yah, walaupun tipis, itu tidak masalah.
Sekali lagi, siapa yang mengatakan tidak boleh bersedih? Boleh, tapi jangan lama yah?
Kita sebagai manusia sejati yang memiliki banyak emosi yang beragam, tentu berhak merasakan itu. Sesekali, jika berada di titik terendah atau mari menyebutnya sebagai titik jenuh, biarkan dirimu bersedih, biarkan air mata terjun bebas dari matamu yang lelah itu, biarkan hatimu sembuh perlahan seiring air mata yang keluar itu. Biarkan tubuhmu melakukan protesan sebanyak yang ia bisa, kemudian beristirahatlah sejenak. Biarkan perlahan lahan dadamu terasa lapang dan senyuman terbit dari wajahmu.
Sahabat, yang bersedih. Sahabatku yang pantas bahagia. Setiap raga dan jiwa pantas mendapatkan kebahagiaan, siapapun. Dari kelas manapun. Siapa yang mengatakannya tidak boleh? Jewer saja telinganya hingga merah.
Seperti yang kukatakan tadi, ada banyak hal yang bisa menyebabkan kau bersedih, tapi juga ada banyak hal yang bisa membuatmu bahagia. Tak terduga juga. Siapa yang akan tahu kedepannya bukan? Siapa tau kau hanya duduk di depan rumahmu, bersantai, lalu tiba tiba hatimu merasa nyaman, lalu kau tersenyum, dan terasa penuh, lalu merasa bahagia? Sesederhana itu, sesederhana angin yang membelai wajahmu dengan lembut. Untuk yang bersedih, bahagia itu tidak sulit, tapi, kau yang mempersulitnya. Bisa saja, bahagiamu datang lalu kau yang menolak untuk menyambutnya bukan?
Lalu bagaimana jika aku terus bersedih? Bahagia tidak datang padaku? Aku harus melakukan apa?
Raih bahagiamu, raih itu, dengan tulus, ikhlas. Usaha yah? Usaha tidak apa apa kan? Semuanya memang perlu usaha kan? Tidak ada yang instan kan? Mau usaha tidak? Ayo usaha, mari berusaha untuk meraihnya. Hehe. Jika lelah, sahabatku, jika lelah jangan menyerah, jangan yah, jangan. Enggak boleh. Mengeluh boleh, tapi jangan menyerah.
KAMU SEDANG MEMBACA
Catatan Hati
ŞiirHanya sekadar catatan hati. Ketika tak bisa terucap lagi melalui lisan, tulisan jelas menjadi pilihan.
