Chapter 2.1

7 0 0
                                    

Di pagi yang cukup spesial. Dengan minimnya derung mesin-mesin kedaraan bermotor, alarm yang seharusnya menyala beberapa jam kedepan sudah menyiapkan diri untuk berdering.

"AZURA!!! A!!! ZU!!! RA!!!! AZURA! AZURA! AZURA!!!! BANGUN!!! OY!!!!"

Suara yang sangat keras itu membangunkan sepucuk surai hitam yang sedang bermalas-malasan di atas bantalnya.

"Lima menit... lagi..." jawab Azura setengah sadar.

"Hm..." ketika sedang kesal karena Azura sangat sulit dibangunkan, ada sebuah ide yang muncul di benak Zane.

"Hehe... oh Zane baru sadar! Ternyata udah jam 9... oke deh..." setelah kalimat itu berakhir Azura dengan segera langsung duduk dan terkejut.

"Jam sembilan?!" Azura mengecek Phonecardnya yang ada di atas meja belajarnya, ia dengan segera melihat jam pada Phonecardnya. Terkejutlah Azura karena telah dibohongi Zane.

"Zane..." dengan aura yang mencengkam Azura menatap Zane yang sedang memakai seragam yang sama dengan Azura namun tertutupi celemek berlumuran bumbu dapur.

"Eh, itu..." Zane sedikit ketakutan.

"... selamat pagi. Kau sudah mandi? Kalau sudah aku akan mandi sekarang. Hari ini kau juga akan sekolah bukan?" tanya Azura.

"Ah... selamat pagi Azura! Zane udah mandi. Lagi nyiapin sarapan!" jawab Zane tersenyum bahagia.

"Baguslah. Ini emang terlalu pagi tapi tidak masalah. Kamu harus menyiapkan mental dulu, kan?" tanya Azura dengan nada yang lembut dan senyum tipis.

"Oh..." Zane malah terlihat kagum.

"Kenapa?" tanya Azura keheranan sembari mengambil handuknya.

"Entah... tapi rasanya ada banyak bunga yang bermekaran saat Azura tersenyum!" jawab Zane masih kagum.

"... terserah! Aku mandi dulu, jangan kotori seragammu dengan bumbu masakan!" segera Azura masuk ke dalam kamar mandi.

"Baik~"

Pagi yang berjalan damai dan tentram. Saat pukul 7 Zane dan Azura berangkat bersama, mereka mengobrolkan banyak hal yang tidak penting. Setelah melalui berbagai cara untuk menuju gerbang sekolah, akhirnya mereka sampai di tujuan mereka.

"Wah!!! Keren!!" Zane memandangi setiap sudut sekolah itu. Menjalari satu per satu bentuk dan bidang yang ada di sana. Halaman yang luas, air mancur di tengah halaman, kebun di selasar kelas yang hijau, warna cat yang selaras, jumlah ruangan yang tidak terhitung oleh jari tangan, banyaknya murid yang bercanda dan mengobrol. Itu adalah pemandangan -yang sepertinya- baru bagi Zane. Seperti tidak memberi Zane kesempatan untuk mengagumi lebih lama, Azura sudah berjalan dan melewati Zane.

"Azura! Tunggu!!" saat nama Azura disebut, suasana menjadi sedikit legang.

Orang-orang di sekitar mereka mulai menatap dengan berbagai macam jenis tatapan. Mulai dari kagum, senang, takut, heran, dan bahkan ada tatapan iri kali ini. Tapi tatapan itu tidak ditunjukan untuk Azura yang sudah lama menjabat sebagai murid paling keren, paling pintar, dan paling-paling lainnya. Tatapan itu justru ditunjukan pada Zane yang dengan tenangnya memanggil nama Azura.

Azura yang biasanya tidak peduli dengan panggilan orang-orang melihat kearah Zane yang memanggilnya. Seketika suasana benar-benar terasa legang.

"Aku akan mengantarmu ke ruang guru. Jangan tertinggal di belakang," jawab Azura yang langsung melesat masuk ke dalam sekolah. Mendengar kalimat itu, keadaan legang tadi berkurang, beberapa orang berpikir mungkin itu adalah murid baru yang harus diantarkan ke ruang guru oleh Azura. Tidak lebih.

Ego or HumanityTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang