"Zane... mau dengar berita buruk?"
"Apa?"
"Rantai kontrak kita retak. Mungkin mereka mau memutuskan kontrak kita..."
"Retak?! Gak mungkin... gak mau! Zane gak mau sama yang lain! Zane cuma mau sama Azura! Yang lain tidak seperti Azura!!" Zane terdengar frustasi.
"Sstt... memangnya siapa yang mau berpisah denganmu bodoh?"
"Azura selalu terdengar tenang..."
"Ya... aku tidak bisa tenang sebenarnya sekarang. Melihat dirimu yang dipenuhi alat-alat aneh ini saja sudah membuatku ingin bunuh diri... aku frustasi," jawab Azura dengan nada yang tenang.
"Azura... sebenarnya sebelumnya Zane pernah membuat dan berusaha membuat kontrak dengan orang lain."
"Hm? Benarkah? Ceritakan. Aku akan mendengarkan."
"Pertama dengan seorang menteri. Namun menteri itu menggunakan kekuatan dengan berlebihan hingga Zane kehabisan stamina untuk menjaga rantai. Kedua dengan seorang anak menteri. Namun sayangnya dia tidak cocok dengan sihir. Dan ketiga presiden. Namun sebelum kontrak itu berhasil dilakukan, Zane kabur dan nyasar ke rumah Azura. Saat itu untuk bertahan hidup Zane harus mengikat kontrak dengan seseorang. Dan untungnya Azura cocok dengan sihir. Padahal seharusnya hanya turunan darah pemerintah doang yang cocok dengan sihir..." jelas Zane.
"Tapi tidak aneh kok," Azura mengingat sesuatu.
"Tidak aneh bagaimana?" tanya Zane.
"Tidak aneh karena sebenarnya orang tuaku adalah pejabat. Mereka meninggal tepat ketika aku pendapatkan Phonecardku. Ada yang bilang karena kecelakaan namun aku percaya kalau itu karena pembunuhan..." Azura menjelaskan sedikit.
"Pembunuhan? Maksudnya..."
"Maksudnya-"
"Hoya!!!! Kalian! Saatnya kontrak kalian putus ya!!!" terdengar suara seorang wanita yang datang menghampiri mereka.
"Kau siapa?!" Azura berdiri menghadap wanita yang berjalan bersama dua pria berbadan raksasa dibelakangnya.
"Lupakan siapa aku. Sekarang putuskan lah kontrak kalian!"
Dua orang itu mengambil Zane dan Azura. Yang satu melepaskan semua alat yang dipasang pada Zane dengan paksa yang membuat Zane sadar penuh akan indranya, yang satu lagi memegang Azura. Mereka berada pada jarak 10 meter. Lalu dengan kuat mereka menarik Azura dan Zane berharap rantai itu putus.
Rantainya memang semakin retak dan rawan putus. Hal itu membuat wanita tadi senang.
"Hei! Mau kalian bawa kemana!!... Zane! Kau tidak apa?!" Azura melihat Zane yang kesakitan.
"... Azura... aku..." Zane tidak bisa melanjutkan kalimatnya.
"Kalian punya surat wasiat? Kalau ada silahkan katakan. Karena kalau tidak salah aset itu akan kehilangan seluruh ingatannya kalau memutuskan kontrak dengan seseorang," ucap wanita itu yang membuat Azura terkejut.
"Hei jalang! Kau pikir Zane mau memutuskan kontrak dengan Azura?!" Zane menatap Wanita itu tajam.
"Apa kau bilang?" Wanita itu sempat geram. Namun ia segera tertawa, "Hahaha... ya terserah lah... kalian, cepat putuskan rantai sialan itu."
"Zane..."
"Lepaskan aku!! Aku tidak mau memutuskan kontrak!" Zane meronta.
"Zane..."
"Tidak ada yang sebaik Azura! Lepaskan!!!"
"Zane..."
"LEPASKAN!!!"

KAMU SEDANG MEMBACA
Ego or Humanity
Teen FictionKetika dia terbangun dari salah satu tidurnya sosok itu muncul. Dunia hitam putih miliknya berubah menjadi lebih berwarna. Sayangnya sosok itu bukanlah seorang manusia. Tamat