3

397 97 6
                                    

"Pagi mama." Ucap Changmin yang baru saja keluar dari kamarnya dalam keadaan setengah sadar.

"Ibumu ada di kantor sejak semalam, jika kau membutuhkannya aku akan telfon." Jawab Austin dari lantai dasar. Agen yang hampir berusia seumuran Jaejoong tersebut pun setengah terkantuk mengingat ia harus menjaga kedua anak Jaejoong semalaman penuh.

"Ck. Pasti paman Austin lagi."

"Hei sudahlah, jangan protes, segeralah mandi dan kita berangkat sekolah."

Changmin mengambil handuknya kesal. Lagi - lagi, malam ketiga bersama Paman Austin. Jelas lelaki tersebut bukan seseorang yang ia harapkan untuk menggantikan ayahnya.

Austin orang yang tidak suka berkomitmen, tidak suka anak - anak, tidak menyukai musik klasik, hanya laki - laki biasa penggemar wanita yang sedikit workaholic dan mengesalkan, tetapi baiknya ia pandai memasak.

"Bangunkan Seulgi, aku akan membuat sarapan dan mengantarkan kalian berdua sekolah."

"Baiklah paman."

Selepasnya, hanya ada suara gemericik air shower dan teriakan - teriakan kedua anak Jaejoong tersebut. Entah Changmin yang menyerobot antrian mandi Seulgi, atau Seulgi yang mencari tali sepatunya karena dipakai oleh kakaknya. Sebuah pagi yang sangat ramai menurut Austin.

Dan mendengar keduanya, ia semakin tidak ingin punya anak.

"Apakah kau masak sesuatu paman?" Changmin turun dari lantai atas lebih dulu daripada adiknya. Ia sudah mengenakan seragam dan jaket baseballnya serta membawa sebuah tas yang ia lemparkan begitu saja di sofa ruang tamu.

"Aku hanya membuat sandwich roti gandum berisi telur setengah matang, bacon, lettuce yang dicampur dengan thousand island dan parmesan." Ucap lelaki blasteran berbadan jangkung tersebut.

"Paman, aku ini orang Asia tulen, aku harus makan nasi." Komplain bocah berusia 13 tahun tersebut. Atau lebih tepatnya mendekati 14, karena minggu depan ia akan menginjak usianya yang ke-14.

"Sudah, makanlah yang ada dulu, aku tahu perutmu itu lapar, aku buatkan masing masing 2 potong agar kalian kenyang."

Dengan perasaan sedikit terpaksa, Changmin mengambil kursinya. Mengambil sandwich roti gandum karya Austin dan memakannya. Ya Tuhan, ia benar - benar ingin ibunya segera pulang.

"Hai paman. Selamat pagi." Ucap sebuah suara yang lebih manis menyapa pendengaran Austin.

"Pagi, Seulgi. Duduklah, paman sudah membuatkanmu sandwich."

Gadis berambut hitam diikat ponytail tersebut mengambil tempat duduk disamping kakaknya, berhadapan dengan Austin. Ia menggantung tasnya disamping kursi makan. Jauh lebih tertata dibandingkan Changmin.

Mereka akhirnya sarapan dengan tenang. Hanya ada suara tegukan Changmin meminum susu cair di gelasnya. Karena baik Changmin maupun Seulgi sendiri tidak tahu harus membicarakan apa. Paman Austin bukan ibu mereka, kan?

"Okay, kita segera berangkat."

Austin membuka pintu rumah untuk kemudian menguncinya, kedua anak tersebut sudah menuju ke mobil yang diparkirkan di samping rumah.

"Hei, ibu kalian berpesan agar kalian pulang ke kantor NIS saja. Ibu kalian sudah izin kepada bagian keamanan dan juga Seho. Pastikan kalian pulang bersama ibu kalian."

"Siap paman." Kompak keduanya.

Semenjak pembunuhan dari Kapten Angkatan Darat Korea Selatan Choi Young-dae dan Letnan Angkatan Udara Amerika Serikat John Alwyn di sekitar Pearl Harbor Base di Honolulu, Hawaii dan kecurigaan adanya sabotase mengenai pertemuan militer antara Amerika dan Korea Selatan di negara bagian kepulauan tersebut, berbagai korban - korban lain yang berhubungan dengan militer baik di Amerika maupun Korea muncul. Dan tidak menutupi bahwa para pembunuh akan menargetkan para agen atau keluarga mereka.

Apalagi Changmin dan Seulgi yang masih kecil berhubungan dengan keduanya. Ini pasti akan sangat sulit bagi Jaejoong untuk menjaga kedua anaknya seorang diri.

.
.
.

"Apakah dikantor ada tempat istirahat selain di pantry paman? Ugh, aku ingin tidur siang hari ini." Ucap Changmin setelah keduanya mengantarkan Seulgi ke sekolah.

"Memangnya semalam kau tidak tidur? Huh?" Tanya Austin sambil tetap fokus pada kemudinya.

"Aku tidur pukul 2 semalam."

"Apakah kau tahu jika ayahmu datang? Ia datang pukul 11 tadi malam, dan sempat berbincang singkat dengan ibumu."

"Aku tahu, tetapi aku tidak menemuinya. Apakah mereka berdua akan bercerai?"

Austin mengulum senyumnya. Memang anak - anak di usia Changmin pun masih berpikiran sangat sederhana. Hanya sebab dan akibat saja, bagaimana proses tersebut terjadi, mereka tidak peduli.

"Kurasa..... tidak."

"Kenapa?"

Austin menyeruput kopi panas yang dibelinya via drive thru di McDonalds begitu sampai di lampu merah. Jalannya yang searah dengan jalan menuju sekolah Changmin memudahkannya mendapatkan sarapan kecil untuk mengganjal perutnya.

"Ah, dengar Changmin. Kau tahu, sebenarnya para ayah terkadang membuat kesalahan - kesalahan yang sangat sulit untuk dimaafkan. Sama seperti yang dilakukan ayahmu."

"Aku tahu, paman. Aku pun masih sulit untuk memaafkannya."

Austin tertawa kecil, sudah ia duga.

"Ayah dan ibumu merupakan sepasang school sweetheart. Mereka saling memcintai, ditakdirkan untuk bersama. Namun aku mengakui, ayahmu adalah lelaki yang bodoh dan ceroboh. Terkadang ia sering mengambil keputusan yang salah sehingga...."

"Ia memilih berselingkuh?" Tanya Changmin.

"Tidak nak, tidak. Bukan begitu."

"Lalu?"

"Ayahmu, sebenarnya tidak berniat untuk selingkuh, Min."

"Bagaimana kau tahu, paman?"

"Aku sudah memberinya peringatan sejak ia berada di Afghanistan pada musim panas 2 tahun lalu. Letnan Kwon, ia masih cukup muda dan lajang. Tubuhnya mungil, namun cukup seksi untuk menarik para pria. Ditambah dengan sifatnya atraktif dan sedikit seduktif." Terang Austin.

"Kesalahan para pria, yah mereka terkadang buta dengan kenyamanan sesaat yang mereka miliki, nak. Itulah kelemahan setiap pria yang harus kau sadari." Lanjut lelaki yang duduk di kursi kemudi tersebut.

"Apakah itu sebabnya kau tidak menikah, paman? Kau takut jika sudah memiliki istri, kau akan mendapatkan kenyamanan yang lain? Dan mengecewakan keluargamu, mungkin?"

Austin tertawa mendengar ucapan Changmin barusan. "Ya, kau cerdas sekali."

"Ya Tuhan, paman, rambutmu sudah mulai beruban. Bagaimana jika saat tua nanti kau berakhir di panti jompo?"

"Tidak nak, aku tidak semenyedihkan itu. Sekarang turunlah disini, tempat parkir di depan sekolah cukup padat. Aku tidak bisa sembarang memarkirkan mobil disana."

"Ayayay, captain!"

Bocah berusia 13 tahun tersebut akhirnya turun, berjalan bersama kerumunan para siswa lain hingga akhirnya menghilang dibalik gerbang sekolah. Ia juga terlihat sempat menyapa beberapa kawannya di pintu gerbang.

"Ya Tuhan, dia anak yang baik."

.
.
.
.

Apakah itu CIDC? CIDC merupakan Army Criminal Investigation Division Command yaitu lembaga intelijen militer milik Amerika Serikat yang bekerja untuk menangai hal - hal kriminal yang berhubungan dengan Angkatan Darat Amerika Serikat.

Bon Voyage •  [YUNJAE]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang