8

268 76 6
                                    

"Changmin!"

Yunho dan Seulgi segera menyusul ke kamar putera sulungnya begitu mendengar suara tembakan yang ia prediksi berhasil memecah beberapa jendela kaca di lantai atas diikuti dengan teriakan Changmin setelahnya.

"Changmin, kau baik - baik saja, jagoan?" Tanya Yunho begitu sampai ke depan pintu kamar anak pertamanya.

Tidak ada sahutan apapun dari dalam kamar selain erangan kesakitan anaknya. Membuat pikiran Yunho semakin kalut. Ditambah lagi pintu kamar Changmin yang terbuat dari kayu hazelnut yang tebal tertutup rapat dan terkunci dari dalam.

Yunho tidak pernah sepanik ini saat mengetahui seseorang tertembak disekitarnya. Dirinya adalah seorang tentara angkatan darat yang telah terbiasa dengan tembakan saat terjun di medan peperangan selama lebih dari 22 tahun masa pengabdiannya.

Tetapi hatinya bukan sebagai seorang tentara saat ini. Hatinya adalah sebagai seorang ayah yang putranya terluka didalam sebuah ruangan terkunci, di dalam sana. Ia bahkan tak tahu bagian mana yang terluka dari tubuh anaknya.

"Tunggulah disini, papa akan mengambil katana, atau benda keras apapun." Ia pun segera berlari ke ruang kerjanya, tepat disamping kamar tidurnya dengan sang istri, dimana ia menyimpan benda - benda tajam miliknya. Termasuk koleksi revolver dan beberapa bilah katana kesayangannya.

Seulgi mengangguk paham. Gadis itu lalu menempelkan telinganya pada pintu, takut - takut jika erangan kakaknya tersebut berhenti dan kakaknya tidak sadarkan diri.

"Minggirlah dulu nak, biar papa yang melakukan ini." Ucap Yunho ketika ia berhasil mengambil sebilah samurai dari ruang kerjanya yang tidak terkunci.

'BRAKKK'

Yunho menghantamkan ujung baja dari selongsong katana tersebut didepan pintu kamar sang kakak dan seketika membuat kayunya terbelah menjadi dua hanya dengan sekali pukulan.

Ayahnya benar - benar sekuat itu.

"Ya Tuhan, Changmin!"

Changmin terlihat tersungkur dilantai dengan keadaan bersimbah darah yang mengucur dari lengan kirinya dan kini sedang berusaha ditahan oleh tangan kanannya. Wajahnya memerah dan meringis kesakitan.

"Seulgi, nak, bisakah kau ambilkan kotak berisi obat di kamar papa dan mama?"

"Baiklah pa."

"Ini papa, aku membawakan semuanya."

"Papa...." Rintih Changmin pelan. Ia mulai menangis. Luka di lengannya terasa sakit sekali. Rasanya seperti terbakar sebuah besi panas lalu menyisakan luka terbuka yang menganga lebar.

Yunho segera menghampiri putra sulungnya tersebut dan menyandarkan tubuhnya ke lemari. Satu tangannya menarik bagian lengan seragam sekolah Changmin hingga robek untuk mempermudah pembersihan lukanya.

Sesaat kemudian Seulgi datang dengan sekotak besar berisi peralatan medis sederhana milik Jaejoong. Ibunya tersebut selalu terencana, untuk berjaga - jaga jika terjadi sesuatu dirumahnya.

"Tenanglah jagoan, tidak apa - apa. Ini hanya luka kecil. Kau kuat nak." Ucap Yunho sambil mengucurkan cairan pembersih ke lengan Changmin.

"Syukurlah pelurunya tidak menembus lenganmu. Mungkin hanya tergores saat melesat. Kau akan baik - baik saja, nak."

Lelaki yang lebih tua tersebut kemudian mengikat kuat lengan Changmin dengan sisa seragam yang dirobeknya agar aliran darahnya berhenti sehingga mereka memiliki cukup waktu untuk membawanya ke rumah sakit terdekat.

"Apakah aku perlu menelfon mama sekarang?"

"Jangan nak, ia pasti sedang berada di jalan sekarang. Dia akan sangat panik jika tahu oppa-mu terluka. Kita akan ke rumah sakit sekarang."

"Baiklah, papa."

.
.
.
.

Jaejoong mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang di jalanan Seoul yang ramai lancar sembari bersenandung kecil.

30 menit yang lalu Changmin menghubunginya dan berkata bahwa ia sedang ada dalam perjalanan pulang ke rumah karena ia bilang bahwa ia sangat kelelahan setelah pertandingan dan ingin beristirahat. Maka Jaejoong mengiyakannya dan segera menyusul putranya karena investigasi malam ini telah dipegang oleh Hyesung dan Ga Eun serta Minho selaku tim forensik.

Setidaknya jika Changmin pulang ke rumah, ia tidak begitu khawatir karena ada Yunho dirumahnya bersama putri bungsunya, Seulgi ㅡ ini yang tidak ia sampaikan pada Changmin. Walaupun sejujurnya ia tahu, keduanya pasti akan bertengkar hebat, paling tidak, tidak ada hal yang akan membahayakan nyawa putranya tersebut.

"Eh? Yunho? Menelfon?"

Jaejoong melirik nama pemanggil di ponselnya sejenak sebelum akhirmya memencet tombol pada earphonenya untuk menjawab panggilan dari sang penelfon diseberang sana.

Ini pertama kalinya Yunho menelfon setelah mereka berpisah.

"Tumben kau menelfon, ada apa?" Tanya Jaejoong mengawali pembicaraan. Nadanya sedikit dingin, tentu saja.

"Changmin, ia dirumah sakit sekarang."

Astaga, ia tak salah dengar kan?

"Apa yang terjadi?" Jaejoong mulai panik. Apa yang terjadi pada putranya sehingga ia masuk rumah sakit? 30 menit yang lalu Changmin masih menelfonnya saat akan turun dari bus dan kini ia di rumah sakit?

"Sebaiknya kau segera menyusul, Jae. Aku sudah bersama Seulgi dan membawa barang Changmin. Kau tak perlu cemas." Ucap Yunho dari seberang linenya.

Apa yang sebenarnya terjadi saat ini?

.

.


Halo, Caca kembali dengan update super singkat! 😂😂

Mau tanya nih, kalian lebih suka update cerita tipe singkat tapi cepat atau lambat tapi panjang. 😊

Jangan lupa tinggalkan jejak ya, terima kasih!

Bon Voyage •  [YUNJAE]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang