Jaejoong menyusuri lorong rumah sakit dengan langkah tergesa. Nafasnya memburu dengan keringat yang sebesar biji kacang merah karena panik.
Jika korban dari kejadian ini bukan putranya, tentu ia tidak akan sepanik ini hanya karena sebuah luka tembakan.
Menurut keterangan dokter ㅡ yang disampaikan Yunho saat ia masih berada dijalan, peluru yang mengenai putra sulungnya tersebut meleset, karena tidak ditemukan peluru pada luka Changmin. Namun tetap saja cukup banyak darah yang keluar dari lukanya dan menyisakan robekan yang cukup lebar sehingga perlu dilakukan tindakan medis lanjutan atas luka anaknya tersebut.
"108, 109, 110, ah ini dia, 111" gumam Jaejoong ketika mencari ruang rawat Changmin.
Ia membuka pintu dan mendapati Yunho tengah tidur dengan posisi terduduk di kursi tepat disamping ranjang rawat Changmin. Sedangkan Seulgi, gadisnya itu tertidur di sofa dan masih mengenakan pakaiannya yang bersimbah darah kakaknya. Tak berbeda dengan pakaian dinas Yunho yang memiliki banyak noda darah.
"Hei," Jaejoong menggenggam tangan Yunho perlahan. Membangunkan suaminya agar tidak terkaget.
"A-ah, Jae... kau sudah datang?" Yunho segera beranjak dari duduknya begitu melihat Jaejoong berdiri dihadapannya.
"Aku baru saja datang, Yun. Jalanan menuju kemari sangat padat, aku tidak bisa lebih cepat."
"Tak apa, asal kau selamat, itu lebih baik." Ucap Yunho menepuk bahu Jaejoong.
"Bagaimana keadaan Changmin?" Tanya Jaejoong cemas. Ia bisa melihat putranya tersebut tertidur dengan pulas di ranjang rawat dengan lengan kirinya yang dibalut perban.
"Keadaannya stabil dan baik. Ia sempat kehilangan darah, tetapi tidak terlalu banyak. Dokter baru saja memberinya obat untuk mengurangi rasa sakit setelah tindakan tadi."
Jaejoong mendekat ke ranjang putranya. Mengusap sedikit keringat yang menempel di dahi Changmin dan mengecupnya singkat. Ia sempat sangat khawatir dengan keadaan Changmin.
"Ia akan baik - baik saja."
Tangan Yunho mengusap - usap punggung Jaejoong, berusaha menenangkan istrinya.
"Bagaimana ini bisa terjadi, Yun. Kenapa mereka menginginkan anak - anak?" Gumam Jaejoong sambil mengelus - elus pelan punggung tangan Changmin.
"Bukankah penjahat selalu ingin menyingkirkan siapapun yang menghalangi jalannya?"
"Ya, kau benar."
Jaejoong mengusap air mata yang menitik dari matanya. Ibu mana yang hatinya tidak hancur melihat anaknya terseret dan malah menjadi korban dalam masalah yang seharusnya menjadi urusannya?
"Changmin, ia sangat kuat dan sehat, sayang. Kau tak perlu khawatir. Ia akan segera pulih sebentar lagi. Dan semuanya akan baik - baik saja."
Yunho kemudian menarik Jaejoong dalam pelukannya. Menyandarkan kepala Jaejoong di dadanya. Berusaha memberikan istrinya ketenangan. Pun Jaejoong yang membalas pelukan Yunho. Seperti sebuah gerakan refleks, kedua tangannya dilingkarkan erat di punggung suaminya.
"Terima kasih, Yunho."
"Semuanya akan baik - baik saja, aku janji."
Yunho mengecup dahi Jaejoong singkat. Kemudian menatap mata bulat besar milik istrinya yang berkaca - kaca. Walaupum menyiratkan kesedihan dan ketakutan yang sangat, kedua mata itu tetap cantik sekali.
"Ehmmmm... apa kami mengganggu?"
Sebuah suara wanita tanpa sadar menginterupsi kegiatan keduanya. Dia adalah Hyesung, datang bersama ketua tim investigasi Jaejoong, Jo Seho.

KAMU SEDANG MEMBACA
Bon Voyage • [YUNJAE]
Fanfikce[First Published : 27/8/19] Kim Jaejoong, seorang agen dari National Intelligence Service menemui sebuah masalah besar yang mengincar keluarga serta orang - orang yang ia sayangi. Dan kehadiran Yunho kembali dalam hidupnya, menjawab semua yang ia ta...