Tiga puluh menit sudah, berulang kali Ilhoon memanjangkan kepala demi melongok ke dalam gedung besar di depannya. Sementara Hyunsik yang sudah berada dalam mobil bersama Peniel memerhatikan gerak saudaranya itu.
Beberapa saat, karena mata Hyunsik lelah melihat Ilhoon, ditambah tidak ingin keluar lagi dari mobil segera menekan nomor Ilhoon dari ponsel yang kebetulan dirinya pegang.
"Ya, Hyung?" Ilhoon menerima telepon seraya menoleh ke arah mobil van di tempat parkir sudut. Baru hendak bertanya 'ada apa', Hyunsik sudah menyembur kalimat duluan.
"Hoon cepat masuk mobil, kalau tidak angin yang akan memasuki tubuhmu!"
"Sebentar lagi. Tunggu Sungjae," balas Ilhoon. Kepalanya kembali melongok ke dalam gedung.
"Tunggunya di dalam mobil saja." Nada bicara Hyunsik ini terdengar membujuk, tetapi seseorang yang tengah dibujuk berkepala batu.
"Tidak, aku mau menunggu di sini." Ilhoon menaikkan tangan kirinya sejenak guna melihat jam yang melingkar di pergelangan tangan. "Katanya hanya sebentar ke toilet, tapi ini sudah terlalu lama. Apa jangan-jangan... Sungjae jatuh di kamar mandi? Atau, tidak ada tisu, dan Sungjae tidak bisa membasuh...."
Ilhoon seakan tidak sanggup melanjutkan kalimat sendiri. Hyunsik geleng-geleng kepala, matanya fokus menatap punggung Ilhoon.
"Jika kau amat cemas, kenapa tidak menyusul saja?"
"Benar juga!" Ilhoon menampilkan seringai lebar seiring Hyunsik yang segera mengimbuh kalimatnya.
"Tapi menurutku Sungjae tidak seperti yang kau pikirkan."
Betul.
Sungjae terlihat baik-baik saja. Tubuh tinggi itu keluar dari balik dinding—hanya wajah diturunkan, entah apa bagusnya keramik gedung tempat dia dan tiga anggota lain mengisi acara.
"Cepat suruh Sungjae masuk mobil."
Itu perintah Hyunsik sebelum mematikan sambungan telepon. Meski sudah tak tersambung, Hyunsik tetap memerhatikan adik-adiknya di sana.
Ilhoon memasukkan benda pipihnya ke dalam saku celana. Tepat di hadapan Ilhoon, Sungjae berhenti lalu mendongak—memandang Ilhoon tanpa tersirat apa-apa dari sinar matanya.
"Sungjae kau—"
"Hyung...." Sungjae bersuara, membuat Ilhoon menahan kalimat belum tuntas; menunggu apa selanjutnya yang akan dikatakan laki-laki muda ini.
"Aku mulai berpikir, kalau dunia berbentuk kotak, apa tidak akan berputar?"
"Hah?" Ilhoon langsung bereaksi. Alih-alih memikirkan pertanyaan Sungjae, Ilhoon justru berpikir bahwa wajah ceria pemuda yang sempat bertahan selama sepuluh jam itu tidak lagi tampak.
Tidak biasa, tentu. Setelah melihat lautan manusia berwarna biru, mendengar jerit Melody yang seakan menyuarakan rasa rindu mereka, tidak berarti membuat Sungjae lelah. Anak itu hanya menampilkan wajah tak biasa jika merasa lelah, atau wajah menekuk ketika marah. Ilhoon jelas mengenal Yook Sungjae.
"Jika dunia tidak berputar, masalah tidak akan ada bukan?" kemudian hela napas keluar, seolah Sungjae sedang menetralkan sesak.
"Kau ini kenapa? Ayo masuk mobil, sudah terlampau malam." Ilhoon mengajak, justru dapat tatapan sedih dari Sungjae yang Ilhoon tidak tahu apa sebabnya.
"Hyung tidak mengerti apa yang aku ucapkan, ya?"
Ingin membenarkan, aura Sungjae sedang tidak baik saat ini; takut akan mengecewakan. Di sini Ilhoon baru menyadari, kalau menjaga perasaan seseorang terkadang sulit dan serba salah.
KAMU SEDANG MEMBACA
By Your Side BTOB [√]
Fan-FictionApa ini? Kumpulan one shoot Born to Beat. Mengapa diberi judul By Your Side BTOB? Karena si pengarang akan tetap bersama BTOB. Percayalah, Melody akan selalu bersama Born to Beat. Sama seperti Born to Beat yang akan selalu ada untuk Melody. Work in...
![By Your Side BTOB [√]](https://img.wattpad.com/cover/164437992-64-k456304.jpg)