1+1=4

391 68 4
                                        

Happy Reading zheyeng❤❤
Mian sama typo dan cerita yang absurd


Jangan lupa vote dan comment









Wooseok menggeliat kecil, merasakan pegal yang mendera pergalangan tangan dan juga lehernya. Dia ketiduran rupanya.

'Mas Seungwoo belum pulang ya'

Ini sudah pukul 3 dini hari. Dan tidak ada notifikasi yang berisikan pesan dari seungwoo.

'Mungkin mas kelelahan, jadi nginep'

Semua yang ada dipikiran wooseok adalah hal positif tentang seungwoo. Tidak ada yang negatif. Kecuali saat seungwoo betah tidur dan tidak ada niat bangun jika wooseok tidak membangunkan.

Seungwoonya adalah pria yang manis, perhatian dan selalu ada untuknya. Tidak pernah membuatnya khawatir atau merasa gelisah.

Untuk hari ini, mungkin mas nya terlalu lelah dan memutuskan istirahat lebih awal dirumah orang tuanya. Jadi tidak sempat mengabari dirinya.

Wooseok beranjak dari duduknya, mengambil mangkuk kari yang telah dingin lalu memasukannya kedalam kulkas. Dia akan menghangatkannya saat seungwoo pulang.

Lalu kakinya berjalan menuju kamarnya dan seungwoo, membaringkan tubuhnya. Deru nafasnya terdengar tersenggal tipis.

Dia khawatir.

'semuanya baik'

Sebisa mungkin wooseok mensugesti dirinya dengan kata kata baik. Sampai dirinya terpejam dan terlelap untuk kesekian kalinya.
.
.
.
.
.
.
Wooseok memandang seungwoo dengan senyum. Mas nya datang saat jam kuliahnya telah berakhir. Bersandar pada mobil hitamnya dengan kaos putih melekat indah pada tubuhnya.

Masih tampan dan tidak kurang.

Tapi kenapa ada yang berbeda, masnya terlihat sedih dari sorot matanya. Walau senyum terlukis dibibirnya.

'Apa sesuatu terjadi ?'

Dan benar dugaan wooseok, masnya berbeda. Masnya jadi lebih diam, tatapan matanya pun kosong. Seperti Ada yang tengah memenuhi pikiranya.

Wooseok mencoba memulai pembicaraan, bercerita tentang harinya dikampus, namun masnya hanya tersenyum dan menyimak.

Wooseok mencoba melempar pertanyaan, masnya hanya mengelus kepalanya.

Bahkan saat wooseok mengodanya dengan lelucon, masnya lagi lagi hanya tersenyum dan mengelus tangannya. Tidak ada tawa gemas seperti biasanya.

Jadi wooseok mencoba memberanikan diri untuk mencium masnya. Nihil, masih tetap sama. Tidak ada balasan.

Namun saat wooseok akan beranjak, tangannya ditarik dan dibawa pada sebuah pelukan. Erat dan masih penuh dengan cinta.

Namun ada rasa sedih dan ketakutan tersirat disana.

Terasa dingin, dan membingungkan.

Wooseok bertahan pada posisi ini, membalas pelukan seungwoo tak kalah eratnya. Menyalurkan seluruh rasa yang ada pada dirinya. Seolah wooseok menyakinkan bahwa dia ada dan selalu siap atas semua keluh dan kesahnya.

"Sayang" Akhirnya seungwoo bersuara.

"Iya mas"

"Mau liburan engga?" Tanya seungwoo sambil menatap mata wooseok.

Wooseok tersenyum.

Tulus dan penuh cinta.

"Ayo, mau kemana?"

"Mau kepantai aja, tapi nginep ya?"

Wooseok tidak menjawab hanya mengangguk dan senyumnya masih belum pudar.

"Kamu engga papakan libur kuliah dulu" Lanjut seungwoo masih menatap wooseok.

"Engga papa kok mas, aku juga pengen liburan sama mas"

Dan setelah wooseok menjawab, seungwoo kembali memeluk wooseoknya.

Dalam dan penuh makna.

Bahkan wooseok bingung dibuatnya.

Jadi wooseok hanya membalas pelukan seungwoo dan mengusap ringan punggungnya. Berharap beban atau apapun yang ditanggung seungwoo terangkat seiring usapan tangan wooseok.

.
.
.
.
.
.

WINGSTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang