=== 30 Daily Writing Challenge NPC 2019 ===
Tema : Wikipedia's Featured Article - Rumah Panggung
•••
Aku mendesah. Kamu menatapku dengan bibir tersungging sebelah, walau hanya sebentar karena kamu harus tetap fokus pada jalanan. Kala itu, kita berada di mobil yang baru saja keluar dari area bandara. Aku memutar bola mataku, malas menebak apa yang ada dipikiranmu.
"Salju pertama belum turun, tapi udah masuk winter kok. Kamu bakalan lihat salju pertama turun, untuk musim dingin pertama kamu. Kamu beruntung."
Aku memberengutkan bibir. "Apa aja sih yang dia ceritain tentang aku ke kamu?" tanyaku. Aku penasaran, hal apa lagi selain tentang 'obsesi salju'ku yang dia ceritakan pada kamu.
"Cukup untuk membuat perjalanan kita tidak canggung karena tidak tahu harus membahas apa," jawabmu demokratis. "Well, New York isn't bad for some snowy pic but it isn't the best too," kamu melanjutkan.
Aku menarik nafas dalam dan membuangnya cepat. "No other choice. Kamu tahu? Tanggalnya sudah mendekat. Dengan jadwalnya yang sangat padat, kami enggak bisa menunggu kepastian kapan dia bisa cuti panjang dan mencari tempat terbaik. So this is it, at least New York still snowy."
Kamu menepuk pundakku, memberikan tanda bahwa kamu mengeri keadaanku. Namun, apa kamu tahu? Ada sesuatu yang aneh, seolah-olah ribuan Joule energi berpindah dari kamu ke tubuhku. Aku tersenyum. "Kalau kamu?" tanyaku.
"Aku? Kenapa denganku?"
"Latar pilihanmu untuk foto pra-nikah?"
Kamu tertawa. Lagi-lagi tawa yang membuatku tertegun sepersekian detik. Mungkin benar kata orang, bahagia itu menular, tapi entah kenapa rasanya kebahagiaan yang kamu tularkan berkali-kali lipat rasanya. Lagi-lagi aku tersenyum menyambut tawamu.
"Rumah panggung," jawabmu.
Kini, aku yang tertawa. "Kamu sudah di sini setengah hidupmu, dan yang ada dipikiranmu itu rumah panggung? Aku rasa aku salah menilai kamu."
"Woah, hold on. Hometown always be missed, right?"
Aku menaikkan kedua bahuku, berusaha tidak peduli dengan pertanyaan retorikmu, walau dalam hati, aku menggangguk menyetujui.
"Waktu aku masih di Indonesia, aku sempat tinggal bersama nenekku. Di kampung, di pinggir pantai, rumah-rumah dengan tiang-tiang pacak kayu yang menjulang. Rumah-rumah itu tampak lapuk, diterjang air asin setiap hari, yet I feel so safe."
"Safe?"
Kamu mengangguk. "Bukan karena masih ada Oma, Ibu dan Ayah, tapi filosofi rumah panggung itu juga buat aku ngerasa aman."
"Filosofi?"
Kamu menggeleng, lalu mengulurkan tanganmu ke puncak kepalaku. "You're so clueless, city kid."
"Rumah panggung itu dibangun dengan berbagai macam aturan. Sedikit mistis, tapi dianggap penting demi keselamatan penghuninya. Setiap elemen rumahnya punya nilai dan aturan pembuatannya. It makes me feel safe."
"Hah? Ada-ada aja sih kamu. Ya lebih aman yang dihitung sama arsitek dan sipil lah. Scientific proven," bantahku, kala itu.
Kamu tersenyum kecil sambil menggeleng. "Kamu tahu? Di setiap rumah panggung, ada sebuah tangga. Namanya, balaksuji. Tangga itu dianggap dapat menolak bala, makanya setiap orang yang mau masuk, harus mencuci kakinya, sebagai bentuk penyucian diri. Norma-norma itu yang buat aku merasa aman. Semua orang punya aturan, punya tata krama yang yang harus dituruti demi menjaga keteraturan."
Aku mengangguk mengerti. Mungkin lama hidup di negara bebas seperti Amerika ini membuat kamu merindukan keteraturan, norma-norma adat budaya yang mengikat penduduknya.
"Tapi tetap ajakan, kenapa harus rumah panggung untuk
foto pra-nikah?"
"Siapa yang bilang harus?"
"Ih!!!" Aku menggurut kesal.
"Loh, ya benar. Aku punya bayangan tapi enggak harus terwujud. But well, kenapa rumah panggung? Selain rustic dan cocok dengan tema bohemian—which my fiancè loves so much, rumah panggung mengingatkan aku dengan latar belakangku, aku rasa nilai-nilai itu yang inginku tanamkan terhadap pernikahan Pernikahan itu ibadah, untuk memasukinya kamu harus suci, dan patuh terhadap beberapa norma agar kamu bisa merasakan aman dan tentram di dalamnya. Meski tampak rapuh, tapi sebenarnya sangat mampu melindungi."
Kamu terdiam setelah menyelesaikan kalimatmu. Matamu memandang jalanan dengan serius, tetapi aku tahu, kala itu, pikiranmu melayang entah kemana. Mungkin melihat sebuah memori yang sudah lama kamu kubur. Di detik itu pula, semua raut bahagia yang kamu tularkan tadi, sirna. Aku pun hanya bisa menggengam tanganmu yang erat memegang tuas gigi.
•••
To Be Continued.
=== 30 Daily Writing Challenge NPC 2019 ===
Tema : Wikipedia's Featured Article - Rumah Panggung
KAMU SEDANG MEMBACA
SATU BULAN
De Todo[COMPLETED] Satu bulan aku bertemu dengannya, seluruh hidupku kini berubah - 30 Daily Writing Challenge by Nusantara Pen Circle. Sampul magis by @pandu_an.
