"Kalian itu kalau abis baca terus ngembaliin buku ke rak mbok yah ditata yang rapi gitu!" Suara cempreng bu Lina adalah hal pertama yang menyambut Tara saat dia masuk perpustakaan sekolah, menatap bu Lina yang kini mengomel dan dua murid cowok yang berdiri canggung didepannya.
"Permisi bu, saya mau ambil buku paket bahasa inggris disuruh Miss Aura." Bu Lina menoleh dan langsung merubah raut wajahnya kemudian mengambil tumpukan buku tebal dari meja dan menyerahkan ke Tara.
"Sudah saya siapkan, bilang ke Miss Aura bukunya cuma itu saya cari-cari di semua rak juga gak ada." Tara menerima buku itu dengan kewalahan, tumpukan buku itu sampai menutupi sebagian wajahnya.
"Terima kasih bu, saya permisi." Tara keluar dari perpustakaan beserta tumpukan buku yang cukup membuatnya kesulitan berjalan, karena pandangannya yang terhalang ditambah banyaknya murid yang berlalu lalang karena ini jam istirahat.
Tara berjalan perlahan dengan hati -hati saat kemudian dia menyadari bahwa tali sepatunya tidak terikat dengan benar, Tara akan membetulkannya sebelum sebuah tangan lebih dulu mengikatnya,Tara menunduk menatap Erik yang kini sedang jongkok dan mengikat tali sepatunya, mengacuhkan tatapan sebagian murid yang kini memandangi mereka.
Tara menatap Erik jengah "Mau jadi sok gentleman gitu."
"Gue baik salah, gue usil lo tendang bingung gue sama lo." Erik menatap jengkel dengan mengambil buku yang sebelumnya dibawa Tara setelah selesai mengikat tali sepatu cewek itu.
"Dibawa kemana?"
"Ke ruangan Miss Aura, cepetan ayo." Tara berjalan mendahului Erik yang kini membawa tumpukan buku itu,
Erik berdecak "Dasar."
"Ra pulang sekolah nanti ikut gue yuk." Ucap Erik saat berhasil menyamakan langkahnya dengan Tara, kini mereka berjalan berdampingan.
Tara menoleh dan menatap Erik, sedikit kasihan melihat Erik membawa buku seberat itu, Tara mengambil beberapa buku dan membawanya dengan begitu setidaknya akan mengurangi beban Erik
"Kemana?"
"Andre ulang tahun terus anak basket semua di traktir sama dia di cafe, gue pengen ngajak lo."
"Lah kan gue bukan anak basket, gue juga gak kenal sama Andre temen lo itu."
"Yah gapapa, biar gue ada temen berangkat gitu hehe." Ucap Erik sambil tertawa.
"Biar lo gak dirumah terus." lanjutnya
Tara berpikir sejenak "Emang gak apa-apa kalau gue ikut?"
"Gak apa-apa."
"Kenapa lo gak ngajakin Indira gebetan lo itu?" Tara mencibir
"Ciee, cemburu lo?" Erik tertawa menggoda Tara yang kini membuat gestur seperti orang muntah
"Najis."
Erik memutar bola mata jengah "Indira gak asik, yang dia tahu tuh cuma soal lipstick, blush on, bulu mata palsu, tas branded gitu doang."
Tara berdecak sebal "Kalo lo gak suka sama dia jangan kasih harapan, jangan bertindak seolah-olah lo tuh tertarik sama dia padahal lo cuma main-main."
Erik menghela napas "Gue gak pernah ngerasa ngasih dia harapan gitu, dianya sendiri yang bertingkah seolah-olah gue tertarik sama, dia selalu ngechat gue tiap malam nanyain udah makan, lagi ngapain, lagi dimana, kalo gue gak bales gue dianggep sombong."
Tara terkekeh "Namanya juga cewek, lo bales chatnya kurang dari dua menit aja udah nganggepnya lo suka sama dia."
"Nah itu masalahnya, jadi harusnya gue gak salah dong."
KAMU SEDANG MEMBACA
That Should be Me
Teen Fiction"Mau kemana?" Erik menahan tangan Tara dan menggenggamnya erat sebelum gadis itu melangkah keluar "Mau balik ke kahyangan" jawab Tara Sambil menjulurkan lidah dan raut muka mengejek "Haha lucu" Erik berkata sinis tapi tetap menggenggam tangan itu e...
