Published on : December 16
***
From : Hangyol
"Geh buru selesain masalah kalian berdua, pintu rooftop udah gua kunci jadi lu gak bisa kabur"
"Oalah jingan"
Yohan tersenyum membaca pesan dari Hangyul, sahabatnya yang satu itu memang yang paling bisa membuatnya tertawa sekaligus naik darah.
Tapi ia berterima kasih karena Hangyul, hari ini ia bisa bicara pada Yena.
Karena setiap ia ingin bicara, gadis itu selalu menghindari nya.
"Yen..."
Yena menoleh mendapati punggung lebar Yohan dihadapannya.
"Kenapa?" tanya Yena.
Yohan terdiam sejenak, kemudian menoleh pada Yena dibelakangnya.
"Lo pernah gak ngerasa cemas karena suatu hal sepele?"
"Cemas? Hmm pernah kali ya, gak tau juga sih"
Yohan menatap Yena sebentar kemudian menatap langit malam.
Dalam hati Yena "Apaansi, random amat"
"Gue cemas kita gak bisa kayak dulu, ngobrol santai tanpa canggung kayak gini"
Yena bungkam, netranya menatap Yohan sejenak sebelum akhirnya ia menghadap ke arah lain.
"Gue minta maaf kalo semisal kejadian waktu itu bikin lo ngerasa gak nyaman sama gue..." ujar Yohan.
"...Sorry juga karena gue udah nyium lo tanpa ijin" lanjutnya.
Yohan memegang pundak Yena, kemudian membalikan tubuh gadis itu supaya menghadap kearahnya.
Yena tidak bisa berkata apa-apa, ia hanya diam menunggu apa yang akan Yohan katakan selanjutnya.
"Gue kangen lo yang dulu, lo yang ngatain gue, lo yang ketawa tanpa canggung di hadapan gue"
Debaran jantung Yena memuncak, ia tidak bisa menahannya lagi.
Tapi ia tidak bisa mengaku pada Yohan sekarang, ia malu kalau harus mengatakan ia menyukai pemuda ini.
Mau ditaruh dimana image Yena yang sangar begini?
(Sok sokan sangar lo bek, dicium Yohan juga ambyar)
Dan bagaimana pikiran Yohan tentangnya nanti?
Apa Yena menyukai Yohan karena pria itu lah yang pertama mencium Yena?
Bukan itu alasannya.
Yena suka Yohan karena pria itu yang membuatnya nyaman dan pria itulah satu-satunya yang tahu rahasia besar Yena.
Baru konteks menyukai, belum benar-benar jatuh cinta.
"Yo... Gue gak apa kok. Ya emang gue canggung karena kejadian waktu itu, sorry kalo lo jadi kepikiran"
Yena melepaskan pegangan Yohan dari bahunya.
Yohan mengulum senyum, kemudian berbalik lagi.
Lagi-lagi mereka hanya saling terdiam.
"Ah iya, besok temenin gua makan ramen deket kampus"
Dahi Yena mengernyit sebentar, ini sebuah ajakan atau paksaan?
Dan akhirnya gadis itu bergumam menyetujui ajakan Yohan.
Malam itu mereka habiskan untuk melihat langit malam sembari sesekali bergurau walau masih sedikit awkward situasinya, tapi Yohan berusaha membuat Yena tak canggung lagi berada di sekitarnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Friday ; IZONE & X1 ✅
FanfictionHanya kisah tentang member IZ*ONE dan X1 Rate ; 15+ (!) Harsh words (beberapa chapter)
