🎶 Keras kepalaku sama denganmu, caraku marah, caraku tersenyum 🎶 -Nadin Amizah
***
Minggu pagi yang syahdu, ia baru sampai di rumah ketika hujan baru saja reda. Subuh tadi saat masih bergelut di sofa milik Pandji hujan kembali turun. Dan tidur nyenyaknya yang cuma sebentar itu harus terganggu oleh keberadaan Pandji yang katanya akan ikut pulang. Jadilah keduanya menerobos hujan bersama. Awalnya ia berusaha untuk tidak membiarkan Pandji membawa mobil, tapi laki-laki itu tetap ngotot ingin menyetir. Jadilah ia cukup duduk anteng di samping kemudi hingga keduanya tiba di depan rumah.
Ayah dan Ara tidak ada ketika ia sampai di rumah. Kata Mbok Suti, barusan mereka keluar tidak lama sebelum Ara datang.
Hingga hampir jam sepuluh pagi, Gani muncul dengan setelan baju olahraga saat Ara tengah duduk di ruang tengah. Memainkan ponsel, Rayi mengirimkan pesan di pukul setengah delapan pagi tadi, mengabarkan bahwa laki-laki itu sudah berada dalam perjalanan pulang menuju Jogja. Dan Ara baru membalasnya setelah ia selesai membersihkan diri beberapa menit lalu.
"Ayah mana?"
"Tadi pagi udah pamit."
Ayahnya tidak pamit kepadanya?
Dan ketika menjelang siang, pesan itu masuk. Ara terdiam melihat pesan tersebut datang dari siapa. Bukankah ayahnya sudah pamit hendak pulang ke Bandung katanya?
Mbak, boleh ketemu sebelum ayah balik?
Kenapa tidak menunggui Ara saja tadi pagi? Masih dengan kebingungan, Ara mengiyakan permintaan ayahnya.
Ayah di mana?
Balasan datang tidak lama yang menyebutkan bahwa ayahnya masih ada di sekitar Jakarta, di sebuah kafe. Perjalanan menuju ke kafe tersebut ia perkirakan sekitar setengah jam dari rumah.
Firasat itu tidak muncul sama sekali. Yang Ara tahu hanyalah ia harus bergegas menemui sang ayah. Meskipun enggan, tapi Ara akan tetap melakukannya.
Langit siang nan cerah selepas hujan pagi-pagi buta itu sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda apapun saat Ara sampai di kafe yang dimaksud sang ayah.
Ara mengedarkan pandangan. Tidak sulit menemukan keberadaan laki-laki yang bernama lengkap Harlan Bratadikara itu. Konsep sederhana dan tidak ramai pengunjung itu sangat membantu. Ayah duduk tak jauh dari pintu masuk, sebelah kirinya. Terlihat sendiri saat Ara mendekat dan ayahnya berdiri menyambut dengan senyuman.
Kalau Ara perhatikan sedikit lebih lama, maka ia temukan perubahan-perubahan di wajah yang amat mirip dengannya. Meskipun samar, garis di sudut mata dan kerutan di kening itu sekarang begitu nyata.
Ara berusaha membalas senyuman tersebut dengan senyuman pula. Meski agak canggung ia tetap duduk, mengambil posisi di depan ayah.
Pertemuan-pertemuan semenjak ayah menetap di Bandung masih ada. Ayah selalu berusaha untuk hadir di sekitar Ara dan Gani meski terkadang ia dan adiknya abai atau karena mereka tidak dapat merasakan itu.
Momen-momen yang tidak ada ayah didalamnya itulah yang membuat Ara berpikiran bahwa sang ayah tidak lagi sama. Atau karena Ara sudah dari awal menganggap bahwa ayahnyalah yang tidak berusaha mencegah kepergian sang ibu.
Ayahnya memang payah.
Maka di hari kepergian ibu dari rumah, hari itu juga Ara puasa bicara dan berakhir dengan menolak keras ikut ayahnya ke Bandung. Ara pernah menghakimi ayah, bahkan sampai sekarang ego itu masih ada. Sedangkan ayahnya hanya diam menerima, tidak berusaha membela diri.
"Pandji gimana?"
"Pandji udah di rumahnya. Udah baikan." Ara memberi jeda. "Ayah udah mau pulang?"
Herlan mengangguk lalu tersenyum. Ada helaan napas yang ikut keluar. "Padahal rencana ayah sebelumnya mau weekend-nan bareng kamu sama Gani." Lalu ayahnya terlihat tersenyum. "Gani puas dan senang."
KAMU SEDANG MEMBACA
Pulang
ChickLit"Tak mengapa seperti ini, tak mengapa juga dengan sikapnya. Asal dia benar-benar pulangku." -Dianara Lantana Bratadikara "Egois tidak menjadi masalah, asal itu tentangnya." -Rayi Aresatya "Aku tidak mau mengulang kesalahan yang kedua kali. Cukup sek...
