🎶 Cukupkanlah ikatanmu, relakanlah yang tak seharusnya untukmu 🎶 -Kunto Aji
***
Menjadi putri yang tidak mewarisi keceriaan sang ibu, Sekar, membuat aura Ara tidak tampak begitu aneh di mata Mbok Suti. Ia sering berada dalam kondisi yang membuatnya memasang raut wajah yang dingin tak tersentuh. Berbeda dengan sang adik, Gani. Selepas kejadian adu urat di kamarnya seminggu yang lalu, untuk yang pertama kali Gani mendadak puasa bicara kepadanya. Keceriaan gadis itu hilang entah kemana.
Gani sudah tidak pernah lagi merengek ingin nebeng atau ingin membawa mobil sang kakak ke sekolah, suasana sarapan pagi dan makan malam yang hangat sudah tidak lagi seperti biasanya. Tatapan dingin selalu Ara terima.
Hal itulah yang membuat Mbok Suti bingung sendiri berada dalam situasi tidak mengenakkan keduanya. Interaksi hangat dan menggemaskan mereka mendadak hilang. Pun seperti pagi ini, Gani tidak ikut sarapan. Gadis itu hanya menyambar tas bekal yang sudah siap di atas meja makan. Lalu pamit sambil menyahut. "Gani duluan!!"
Mbok Suti yang tidak tahu sama sekali dengan apa yang terjadi antara kakak beradik itu cuma bisa tersenyum seraya mengangguk. Ara masih menikmati sarapan saat Mbok Suti menarik kursi lalu ikut duduk, ingin tahu apa sebenarnya yang terjadi. "Sudah seminggu, Gani tidak pernah bertingkah seperti itu," Mbok Suti melabuhkan tatapan ke Ara yang mendadak menghentikan aktivitas makannya. "Mbok nggak bermaksud ikut campur. Tapi apapun masalah kalian berdua, coba diselesaikan baik-baik. Mbok juga nggak bermaksud apa-apa. Ayah kalian nggak ada di sini. Ara cuma punya Gani pun sebaliknya," Mbok Suti lalu diam, ia ingin melihat respon Ara. Tapi perempuan cantik dengan wajah duplikat sang ayah itu hanya terdiam. "Nanti kalau Gani atau Mbak Ara punya masalah di luar, mau ngadu atau cerita ke siapa?"
Ke siapa? Ia tidak punya siapa-siapa. Ibunya saja pergi sudah sangat lama dan tidak kembali-kembali.
"Ara sudah ketemu sama Salya, Mbok. Gani juga," Ara berucap dengan lirih.
"Salya?"
"Teman ayah."
"Teman?"
Dengan sedikit menunduk, Ara mengangguk. "Teman ayah dari Bandung, Mbok."
Ara diam pun dengan Mbok Suti. Perempuan berumur itu terlihat menelaah semuanya. Kemudian berakhir menghela napas. "Ara sama Gani sudah besar, tentu sudah tahu mana yang terbaik. Maafkan dan relakan semua yang seharusnya, Mbak," Mbok Suti berucap hal demikian karena paham, Ara berbeda dengan sang adik. Si sulung ini terbilang keras.
Kepergian sang ibu yang entah kemana memang membuat keduanya terpukul, kecewa, dan terkadang mengurung diri. Gani, juga mengalami masa-masa itu, tapi tidak bertahan lama. Tampak sangat si bungsu itu sudah berdamai dengan keadaan. Lain dengan Ara, perempuan berusia 26 tahun itu terlihat jelas belum menerima semuanya. Termasuk rencana ayah untuk membangun rumah tangga lagi dengan perempuan lain.
Tidak menemukan respon apa-apa dari Ara, Mbok Suti lekas melirik ke tempat bekal Ara. "Bekalnya jangan lupa dibawa, ya." Lalu bergegas ke belakang diikuti helaan nafas panjang milik Ara. Ia pikir kemunculan ayah dengan rencana itu bisa ia atasi dengan mudah, paling tidak, emosi ini tidak muncul. Dan adiknya tidak perlu semarah itu.
Bahkan dua hari setelahnya, sang adik masih menampilkan raut tidak bersahabat. Tapi di sore hari menjelang magrib saat ia baru saja keluar dari gedung kantor bersama dengan beberapa rekan kerjanya, Dani, Alina, dan tentu saja atasannya, Ibu Dayu, ia dibuat mengernyit melihat keberadaan dua orang yang sudah bertengger tak jauh dari gedung kantornya.
"Dijemput, Ra?" Dayu bertanya, merasa heran tumben bawahannya itu dijemput. Lagian mereka janjian akan berangkat bersama menuju ke rumah bos besarnya, Lian Anthara karena tengah melakukan syukuran aqiqah kelahiran sang buah hati.
KAMU SEDANG MEMBACA
Pulang
Romance"Tak mengapa seperti ini, tak mengapa juga dengan sikapnya. Asal dia benar-benar pulangku." -Dianara Lantana Bratadikara "Egois tidak menjadi masalah, asal itu tentangnya." -Rayi Aresatya "Aku tidak mau mengulang kesalahan yang kedua kali. Cukup sek...
