🎶 Aku pernah menjadi yang paling keras jatuh hati 🎶 -Meiska
***
Sudah seminggu lebih berlalu, hari berjalan normal setelah insiden tabrak pagar oleh sang adik, dan selama itu juga ia bahkan tidak pernah melihat sosok Pandji. Tidak dengan fisik, bayangan, pun kabarnya. Tidak pernah ada update terbaru dari instagram laki-laki itu. Post terakhir hampir setahun lalu, storynya bahkan hanya hitungan jari yang pernah Ara lihat begitupun dengan story WhatsApp.
Hidup Pandji benar-benar seprivat itu dan se low profil seperti yang orang-orang bilang. Bahkan postingan di akun media sosial laki-laki yang berusia 28 tahun itu tidak cukup dari lima puluh sejak postingan pertama di tahun 2013. Sangat disayangkan, para followers Pandji yang berjumlah ratusan ribu itu hanya akan mendapat asupan melalui cidukan-cidukan yang menandai akunnya. Termasuk dirinya, tak jarang, jika Ara ingin tahu keberadaan Pandji, maka ia tak segan dan tidak malu-malu untuk mengecek akun laki-laki itu. Kadang dapat info dan terkadang juga nihil.
Hingga suatu pagi Jum'at yang awalnya normal seperti biasanya, Gani yang kebetulan berencana menghabiskan malam tahun baru dengan Nala yang tak lain dan tak bukan adalah adik Pandji sendiri, datang membawa kabar selepas menginap di rumah Nala.
Gani ia dapati tengah mejeng di meja makan tepat ketika ia baru saja dari halaman belakang, mengambil alih kegiatan menyirami bunga-bunga yang biasanya dilakukan oleh Mbok Suti setelah selesai dengan urusan dapur, tapi pagi itu berbeda. Mbok Suti masih bergelut dengan perabotan dapur saat ia turun pagi-pagi tadi.
Jam belum menunjukkan pukul tujuh saat sarapan sudah terhidang di atas meja. Menghadang Mbok Suti ketika hendak kebelakang. "Udah aku siram, Mbok. Tinggal yang di depan, tapi makan dulu," ujarnya menyeret Mbok Suti untuk ikut sarapan.
"Yey yang nganggur," goda Ara menarik kursi sebelum duduk.
"Yey yang nggak ada libur." Gani membalas dan diterima dengan lapang dada oleh Ara. Benar tidak ada libur. Anthara sedang tutup buku akhir tahun.
"Tahun baruan di mana?"
"Sama Nala, teman-teman yang lain."
"Di mana?" Ara ulang bertanya sambil menuangkan air ke gelas. Sarapannya sudah ada di piring, tinggal ia makan.
"Ada deh."
Ara memicing, mencoba membaca raut muka sang adik. "Kamu jangan macam-macam, ya."
"Nggak lah."
"Aku sama Mbok boleh ikut nggak?" Ara makan seraya kembali menggoda Gani, Mbok Suti hanya tersenyum memperlihatkan interaksi keduanya sambil ikut menikmati sarapan.
Gani melayangkan tatapan tidak percaya. "Yang bener aja, Mbak. Itu si Mas Pandji lagi demam."
Raut ceria Ara menghilang seketika. Ia menatap adiknya bingung.
"Mas Pandji sakit," ulang Gani.
Itulah baiknya jika Gani menginap di rumah Nala, ada saja informasi tentang Pandji yang ia terima.
Ara belum merespon ketika adiknya kembali bersuara. "Tapi katanya udah mendingan pas subuh-subuh tadi."
"Kamu balik jam berapa?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Pulang
Roman d'amour"Tak mengapa seperti ini, tak mengapa juga dengan sikapnya. Asal dia benar-benar pulangku." -Dianara Lantana Bratadikara "Egois tidak menjadi masalah, asal itu tentangnya." -Rayi Aresatya "Aku tidak mau mengulang kesalahan yang kedua kali. Cukup sek...
