🎶 Ku sudah tau dari awal mencintai bukan perkara kebal 🎶 -Nadin Amizah
***
Hampir seminggu berlalu dan atensinya cukup teralihkan dari Pandji karena kemunculan ayahnya dan Salya yang lalu. Ia sering merasa was-was bahwa ayahnya bisa saja tiba-tiba datang kembali dan entah akan membawa kabar apa nantinya. Seperti misalnya, cepat atau lambat ayahnya akan menikahi perempuan itu.
Pandji sering muncul di sekitarnya. Semenjak hari itu, hari di mana ia dan Pandji pulang dan semobil bersama setelah dari apartemen laki-laki itu, Pandji juga memutuskan untuk tinggal di rumahnya, terhitung sudah empat malam. Dan beberapa kali juga ia menemukan Pandji sedang terlihat terburu-buru memasuki mobil yang akan berangkat kantor, kadang membawa mobil sendiri, kadang juga ikut mobil bersama sang ayah, Wisnu Dhananjaya.
Pun hal yang sama, entah dengan angin apa. Di jam makan siang hari ini, Pandji muncul menampakkan diri di kantor milik sepupunya, Anthara.
"Katanya nggak ada janji."
Ara menatap bingung Alina, ia baru saja masuk kubikel setelah dari ruangan Dayu saat rekannya itu menyela. Mereka sebenarnya sudah janjian akan makan siang di warung tenda di gang sebelah gedung Anthara.
"Dicariin tadi, Ra," lanjut Alina sambil bersiap pergi. Orang-orang sudah pada berpencar mencari makan meskipun ada beberapa dari kubikel sebelah yang masih tetap tinggal, barangkali membawa makan dari rumah atau akan memesan makanan dari luar. Berbeda dengan Alina dan Dani, dua orang itu masih tinggal karena harus menunggu Ara dari ruangan atasan.
Tapi dari luar dinding kaca, langkah laki-laki itu terlihat mantap. Semakin mendekat Pandji, semakin mengernyit pula Ara. Seingatnya tidak ada janji bahkan ia tidak pernah berhubungan dengan Pandji setelah mereka berpisah tepat di depan rumah keduanya, Minggu pagi lalu. Dan entah ada keperluan apa tiba-tiba laki-laki itu menunjukkan batang hidungnya di Anthara menjelang jam makan siang ini.
"Siang, Pak Pandji," sapa Alina ramah sambil tersenyum dan disusul sapaan Dani selanjutnya, "Siang, Mas."
"Siang," timpal Pandji tidak lupa dengan senyuman kecil. Lalu tanpa aba-aba menoleh ke Ara. "Kamu rencana makan di mana?"
Ara belum selesai dengan raut kebingungan ketika Dani yang dari meja sebelah menyahut dengan cepat. "Tadi sebenarnya udah janjian makan di warung gang sebelah, Mas. Tapi kalau mau bawa Ara juga nggak apa-apa."
"Recommended ya di sana?" Pandji bertanya entah ke siapa.
Tapi Dani dengan seneng hati segera menjawabnya. "Nggak juga sih, Mas. Ramah di kantong doang sebenarnya.'
"Nggak. Enak kok padahal," ujar Ara cepat. Mengatakan dengan jujur, selain ramah di kantong, makanan yang dijual di warung-warung tenda berjejer di gang tersebut tidak kalah enak dengan makanan-makanan di restoran mewah. Hal itu tentu berdasarkan lidah dari beberapa teman sekantornya-bukan termasuk Dani, juga karyawan dari beberapa perusahaan yang ada di sekitar gang tersebut.
"Kalau saya ikut makan di sana boleh?" Kali ini Pandji sudah tahu mengajukan pertanyaan kepada siapa. Jadi ia melirik ke Dani.
"Boleh-boleh, Mas. Silahkan bawa Aranya aja. Saya sama Alina melipir ke gang yang sebelahnya lagi sama yang lain juga," Dani segera menjawab yang kemudian dihadiahi pelototan tajam oleh Ara, terutama Alina. Soalnya gang sebelah yang dimaksud lebih jauh lagi.
"Oh, ada juga yang lain ya?"
"Ada. Tapi nggak apa-apa, Mas. Takut ganggu."
"Nggak. Nggak ganggu. Makan rame-rame jauh lebih enak. Mbak Dayu juga mau ikut." sahut Ara cepat. Dayu mengatakan ingin ikut serta saat Ara memberitahu atasannya itu bahwa mereka akan makan siang di luar saat ia ke ruangan Dayu tadi.
KAMU SEDANG MEMBACA
Pulang
Romance"Tak mengapa seperti ini, tak mengapa juga dengan sikapnya. Asal dia benar-benar pulangku." -Dianara Lantana Bratadikara "Egois tidak menjadi masalah, asal itu tentangnya." -Rayi Aresatya "Aku tidak mau mengulang kesalahan yang kedua kali. Cukup sek...
