🎶 Kau memang manusia tak kasat rasa, biar aku yang mengemban cinta 🎶 -Nadin Amizah
***
Ara mencoba menetralkan jantung, bel sudah ia pencet dua kali, tapi pemilik unit itu belum juga membuka pintu. Tidak tahu saja jika ia bahkan meminta Rayi untuk menurunkannya meskipun dengan sedikit paksaan tak jauh dari apartemen milik Pandji. Tidak langsung pulang ke rumah, sebenarnya ia agak kepikiran dengan kondisi Pandji yang katanya masih sakit. Kalau dipikir-pikir bahkan ia belum melakukan permintaan ibu Pandji itu, mengecek keadaan Pandji. Jadi di sinilah Ara berdiri sekarang, siap dengan apa saja kemungkinan yang ia dapati di dalam sana.
Ara kembali menekan bel, tak lama setelah itu akhirnya pintu terbuka, Pandji muncul dengan atasan putih juga celana jongger abu-abu terang. Ara mencoba memasang senyum meskipun agak kaku. Dan laki-laki itu perlu beberapa detik memandangi Ara baru kemudian membuka lebar pintu, bergeser seolah menyuruh Ara untuk masuk.
Saat melewati Pandji, dapat ia rasakan hawa hangat tubuh laki-laki itu. Ara menoleh, raut khawatir tercetak jelas di wajahnya. "Nggak ke rumah sakit?" Sudah beberapa hari dan Direktur dari DMG Studios itu masih saja betah menyiksa diri.
"Hawa badan kamu anget banget. Muka kamu merah," Ara berkata demikian karena melihat kebingungan di wajah Pandji sambil menunggu laki-laki itu.
Setelah Pandji menutup pintu ia menggeleng. "Nala tadi udah bawa obat, nggak ketemu?" Ia berjalan melewati Ara. Nala baru beberapa menit yang lalu meninggalkan unitnya, barangkali Ara ketemu di bawah.
Ara juga menggeleng, ia kembali bertanya saat Pandji semakin masuk ke apartemen miliknya. "Udah diminum obatnya?"
Dan hanya gelengan kecil yang Ara terima. "Kamu udah makan?"
"Baru mau masak pas dengar kamu datang." Pandji berkata sambil berjalan menuju dapur.
Ara yang masih berdiri segera menoleh dengan cepat. Bener-benar merepotkan diri sendiri, kan bisa laki-laki itu memesan saja tidak perlu memaksakan diri untuk memasak jika ada layanan yang bisa dimanfaatkan.
"Mau minum apa?"
Ara berdecak tak habis pikir. Apa Pandji tidak sadar bahwa ia terlihat cukup mengenaskan dengan kondisi seperti itu dan dengan bodohnya mau saja bertindak sebagai tuan rumah yang baik. "Nggak usah repot-repot." Lalu ia menghampiri Pandji. Ingin tahu laki-laki itu akan memasak apa. "Mau masak apa?"
"Bubur."
"Kamu istirahat aja. Aku bisa bantu," ucap Ara seraya meletakkan tas kecilnya di atas meja yang bentukannya seperti meja bar.
Pandji mengangguk sambil meminta maaf karena telah merepotkan. Laki-laki itu benar-benar terlihat sedang tersiksa dengan kondisinya. "Nala katanya bakal balik lagi, kamu seharusnya nggak perlu repot-repot datang ke sini," ujar Pandji saat sudah duduk di bar kecil menghadap area dapur yang ada Ara di sana tengah melanjutkan kegiatan mencuci beras.
Ara tidak merespon, sebenarnya ia ingin mengatakan bahwa kebetulan saja ia lewat jadi mampir, tapi ia tahan. Tidak apa-apa jika ia terlihat khawatir karena memang benar adanya. Ara tetap melakukan kegiatannya, mencuci, mencari sendiri keberadaan rice cooker dan melakukannya dalam diam. Berharap dengan hal itu ia bisa lupa bahwa berbagi udara dengan Pandji malam-malam di ruangan ini tidaklah baik untuk kesehatan jantungnya. Entah dengan debaran yang ia sukai pun dengan rasa ngilu yang menyakitkan.
Ia menghadap Pandji, Ara kira laki-laki itu akan segera pergi dari sana. "Kamu tiduran aja dulu sambil nunggu."
"Nggak apa-apa aku tinggal?"
Ya, terus mau bagaimana lagi?
Ara mengangguk.
"Kamu kalau mau buat minum, buat aja. Maaf aku masuk kamar dulu."
KAMU SEDANG MEMBACA
Pulang
Romance"Tak mengapa seperti ini, tak mengapa juga dengan sikapnya. Asal dia benar-benar pulangku." -Dianara Lantana Bratadikara "Egois tidak menjadi masalah, asal itu tentangnya." -Rayi Aresatya "Aku tidak mau mengulang kesalahan yang kedua kali. Cukup sek...
