🎶 Dari yang sudah sudah hanya rasa tanpa tujuan 🎶 -Kunto Aji
***
Hidup memang kadang berisi serentetan hal yang tidak kita inginkan. Dan ketika itu terjadi kadang juga kamu akan diam saja menerima semuanya.
Sama halnya dengan Ara, ia tidak pernah berpikiran bahwa ketidakhadiran keluarga Pandji dari pihak Dhananjaya itu karena tidak menyetujui perjodohan ini, ia kira hanya Pandi yang terlihat tidak setuju. Ternyata istri dari perintis Dhananjaya juga tidak merestui.
Tapi bodohnya, ia masih saja bertahan di meja makan itu meskipun ia yakin orang-orang di depan sedang melihatnya dengan tatapan tidak suka. Ya, tentu saja, perempuan yang bersama Pandji sebelum ini adalah perempuan kesukaan sejuta umat. Termasuk keluarga laki-laki itu, dari Padang.
Disa memang paling cocok dengan Pandji. Dari karir, tampang, keluarga, dan tentu saja cinta. Keduanya setara dalam hal apapun.
Apalah ia dari keluarga tidak utuh dan berantakan, Ara bukan pewaris, ia tidak punya apa-apa. Yang ia punya hanya emosi, amarah, yang senantiasa muncul dan mengelilingi dirinya.
Kadang ia bertanya-tanya kenapa takdir mempertemukan keluarga Dhananjaya dan Bratadikara. Kenapa bisa keluarga kelas menengah seperti ia bisa bertemu dengan keluarga seberada Pandji.
Perjodohan ini jelas bukan perjodohan bisnis. Keluarganya mungkin diuntungkan dengan itu, termasuk keuntungan ia bisa bekerja di Anthara. Tapi keluarga Pandji? Keluarga laki-laki itu sama sekali tidak mendapatkan keuntungan apapun.
Ara melirik tangan Pandji yang berada di atas meja dengan semua kecamuk di kepala.
Sebegitu patah hatinya laki-laki ini kala itu, sampai dijodohkan dengan siapapun ia terima-terima saja.
Di bawa meja tangan Ara meremas, ia ingin segera pergi, tidak enak sekali berada di situasi ini, mendapatkan penolakan secara langsung dari salah satu keluarga Pandji.
Sebentar-sebentar ia merutuki diri sendiri. Mencoba mengingatkan, kurang jelas apa perubahan sikap Pandji selama ini. Dari yang hangat lambat laun menjadi dingin tak tersentuh.
Ara hanya bisa merasakan tangan Tante Mala merambat menepuk pahanya beberapa kali sementara perempuan di seberangnya masih belum selesai. "Kalau beritanya masih simpang siur, kamu sangat boleh berusaha lebih lagi sebelum terlambat."
"Ibu?" Tante Mala berusaha menyelah omongan yang ia rasa sangat tidak pantas diungkit di sini.
"Bener kan? Kalian berdua sama aja, jangan beda-bedain anak. Seenaknya aja jodoh-jodohin orang."
Bibirnya kelu, tidak bisa mengatakan apa-apa untuk pembelaan. Pembelaan kepada ayahnya dan orang tua Pandji yang telah merencanakan perjodohan ini dari awal. Karena apa yang dikatakan oma Pandji benar adanya, itu juga yang sering terlintas di pikirannya selama ini. Selama ini Pandji tidak menunjukkan ketertarikan sama sekali pada perjodohan ini, kepada dirinya. Bahkan laki-laki itu terkesan lebih menarik diri.
Dalam hati ia mengejek diri sendiri. Inilah yang ia terima karena dengan lancang dan senang hati sekali ia mengiyakan perjodohan ini dulu.
Kembali sebuah tangan juga ikut menyelinap di bawah. Menarik tangan kanannya untuk digenggam di atas meja. Ara diam saja ketika hangat tangan Pandji menyatu dengan dingin tangannya. "Oma. Oma makasih banyak sebelumnya. Sudah peduli dan perhatian sama Pandji. Tapi maaf sekali, sungguh ini pilihan Pandji juga."
KAMU SEDANG MEMBACA
Pulang
Romance"Tak mengapa seperti ini, tak mengapa juga dengan sikapnya. Asal dia benar-benar pulangku." -Dianara Lantana Bratadikara "Egois tidak menjadi masalah, asal itu tentangnya." -Rayi Aresatya "Aku tidak mau mengulang kesalahan yang kedua kali. Cukup sek...
