🎶 One bad day tired unhappy, i don't know what's missing, i wanna see you 🎶 -Pamungkas
***
Ayahnya pernah punya luka, lalu kemudian luka itu sembuh seiring berjalannya waktu. Bahkan sekarang laki-laki itu tidak mempermasalahkan jika Ara ingin mencaritahu keberadaan sang ibu.
Kalau diingat-ingat selama ini Ara selalu melakukan itu. Di tengah-tengah keramaian ia selalu berharap menemukan wajah ibunya.
Ayahnya bahkan tahu akan hal itu, seberapa ia mencari-cari sosok perempuan yang melahirkannya di beberapa moment, termasuk pada saat acara sekolah Gani. Besar harapannya sang ibu muncul tampil mengambil peran sebagaimana ibu yang datang mengambil rapor sang anak.
Begitu juga saat wisuda kelulusannya tiga tahun lalu. Di tengah-tengah keramaian orang yang sedang merayakan dengan orang-orang tersayang, Ara justru sibuk celingak-celinguk. Berharap seseorang memberitahu ibu dan kemudian ia akan menemukan sebentuk wajah yang sudah tidak pernah lagi ia lihat empat tahun belakangan kala itu.
Masih ia ingat ketika Gani yang baru berusia 15 tahun itu menarik lengan baju wisudanya. "Mbak?"
"Ada Nala," Gani berbisik selagi Ara masih memperhatikan wajahnya. Lalu ia mengarahkan pandangan ke arah pohon rindang yang berjejer, di sana berdiri Tante Mala dengan sebuket bunga di tangan, Nala dengan dress manisnya, pun Om Wisnu dengan batik lengan panjangnya.
Tante Mala mengangkat tangan, melambai tak ketinggalan sebuah senyuman hangat membingkai wajah cantik itu.
Saat itu Gani yang membalas, sedang Ara hanya diam mematung. Berusaha menelaah semuanya dengan sebuah senyuman, tapi yang tercipta justru air mata yang jatuh. Jadilah ia menunduk tersedu-sedu.
Di antara kesibukan keluarga Tante Mala, mereka masih saja menyempatkan hadir di hari bahagianya ini. Sedang orang yang seharusnya ada, malah tidak menampakkan diri sama sekali.
"Mbak?"
Ara tidak ingin mengangkat kepala, ia masih menunduk. Sampai akhirnya Gani yang sudah cukup mengalahkan tingginya itu menarik ia kedalam sebuah pelukan. "Mbak jangan nangis dong, makeupnya luntur tau nggak," ucap Gani dengan suara gemetarnya.
Ara selalu mencari-cari sebentuk wajah sang ibu, yang muncul justru sekeluarga itu dengan banyak cintanya.
Jadi apa lagi yang seharusnya tidak ditangisi jika begitu?
"Ih, kenapa nagis sih. Malah di sana ayah juga nangis lagi," Gani juga bahkan tidak bisa menyembunyikan kalau ia juga menangis.
Selepas pelukan itu, Ara menoleh. Mencari keberadaan ayah yang katanya tadi ingin menjemput Mbok Suti juga Kalingga. Dapat Ara lihat, sang ayah menyeka ujung matanya.
Harlan menangis. Dan raut wajah itu tetap berusaha memasang senyum kepadanya.
Segera mereka menuju keluarga Tante Mala. Berbasa-basi ria.
"Udah dapat gelar. Nangis kenapa toh, Ra?" Masih ia ingat, Tante Mala dengan raut muka haru segera menariknya dalam pelukan cukup lama sampai-sampai mata Ara kembali berkabut. Mengucapkan selamat, Om Wisnu juga melakukan hal yang sama pun dengan Nala.
"Pandji beberapa hari yang lalu katanya dia ada libur, nggak tahu dia nyempetin pulang atau nggak."
Setelah dipikir-pikir, kenapa juga Pandji bela-belain pulang ke Indonesia hanya untuk ikut serta merayakan wisudanya. Sangat tidak masuk akal.
"Tapi semalam Tante hubungi nggak bisa."
"Nggak apa-apa, Tante," kata Ara dengan suara paraunya.
Bukan ketidakhadiran Pandji yang mengganggunya. Sang ibu tidak pernah muncul, jadi apalagi yang lebih menyakitkan daripada itu?
KAMU SEDANG MEMBACA
Pulang
Roman d'amour"Tak mengapa seperti ini, tak mengapa juga dengan sikapnya. Asal dia benar-benar pulangku." -Dianara Lantana Bratadikara "Egois tidak menjadi masalah, asal itu tentangnya." -Rayi Aresatya "Aku tidak mau mengulang kesalahan yang kedua kali. Cukup sek...
