Sulit Disukai

31 2 0
                                        

🎶 Sendiri kutempuh hanya tuk bertemu denganmu 🎶 -Yura Yunita

***

"Lina mana?"

"Belum turun. Masih ada kerjaan kali," Dani lebih dulu menyahut karena teman kantornya itu melihat Dayu pertama kali dari arah belakang.

Ara perlu memasukkan makanan ke dalam mulut lebih dulu sebelum menoleh. "Emang nggak ada di atas, Mbak?"

Perempuan yang sudah lama menjadi atasannya itu menggeleng kemudian menarik kursi tepat di samping Ara. "Nggak liat."

"Atau lagi makan di luar," kata Ara sambil melanjutkan makan. "Udah pesan, Mbak?" tanyanya kembali melihat Dayu datang tidak membawa makanan apapun.

Dayu mengangguk. "Cuaca kayak gini? Effort banget."

Mengisi perut di jam-jam sekarat seperti hampir jam satu siang memang enaknya di kantin kantor. Ditambah lagi cuaca yang sedang labil-labilnya, pagi cerah, siang tiba-tiba hujan.

"Tapi worth it sih kalau emang makan di gang sebelah," Ara mengeluarkan apa yang dipikirannya. Barangkali memang Alina makan di langganan mereka.

"Kalau hujan gini gue sih mikir-mikir lagi." Dayu mengangkat bahu kemudian berkata, "Kecuali kalau ada yang lain butuh effort tambahan."

"Iya, Alina mah gitu nggak pernah cerita-cerita," Dani berseloroh setelah sebelumnya diam menikmati makanan.

Mereka memang sudah beberapa kali melihat Alina diantar jemput oleh seorang laki-laki yang tentu saja mereka anggap sebagai orang spesial Alina. "Ya, emang nggak perlu dicerita nggak sih, kan kita udah pernah liat, tinggal disimpulkan aja."

Dayu di sampingnya mengangguk. "Nah, bener." Lalu kembali menambahkan. "Hidup itu jangan terlalu diumbar, juga jangan kelebihan kepo ama kehidupan orang lain."

"Bukan kepo, Mbak. Maksud gue tuh kan kalau emang bener, kasih tau kitalah biar bantu doakan."

Dayu mencibir, "Ya kalau doanya baik, kalau buruk?"

Ara hampir tertawa melihat ekspresi lucu Dani. Terlihat kaget dan terzolimi secara bersamaan. "Ya nggak lah, Mbak–" Dani mengangkat dagu. "Nah, itu anaknya. Woi, sini lo."

Anggota divisi keuangan memang terbilang cukup akrab satu sama lain, tapi kalau untuk bertukar cerita masing-masing masalah kehidupan pribadi, Ara, Alina maupun Dayu tidak sedekat itu. Hal itu yang tak jarang membuat Dani, sosok paling perhatian itu tidak dianggap.

"Halo geng, Halo Mbak. Wah enak nih hujan-hujan gini emang enaknya makan berkuah." Alina muncul dan meletakkan barangnya di meja.

Ara segera bertanya melihat barang bawaan Alina. "Paket lo, Lin?"

"Iya, gue dari depan ambil."

"Gue kira lo keluar makan."

"Hujan, Ra. Hujan."

Dapat dilihatnya Dayu juga Dani saling memandang, seolah mereka sedang berbicara lewat mata.

"Mbak? Belum makan?"

"Belum diantar."

"Oh sekalian gue ambil, gue juga mau pesan."

"Okedeh, makasih Lin."

Alina berlalu, Ara kemudian bergeser untuk memberi tempat Alina nantinya. Barangkali perempuan itu tidak mau duduk bersebelahan dengan Dani. Seperti yang sudah-sudah.

"Makasih. Oh, iya. Revisi tadi ada di meja lo ya, Lin," tukas Dayu saat Alina datang dengan dua porsi makanan di diletakkan di meja.

"Siap, Mbak." Benar saja Alina bergerak untuk duduk di samping Ara dan tentu saja berhasil mengundang protes dari Dani. "Lo pada ngumpul di situ semua. Berasa virus aja gue."

PulangCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang