Senja yang tak Seperti Biasanya

58 3 0
                                        

🎶 Berkuranglah satu jiwa yang sepi 🎶 -Tulus

***

Semalam saat ia masuk gerbang, Ara disambut oleh mobil ayahnya yang tengah terparkir. Sedangkan Gani, sang adik baru muncul dua jam setelahnya. Tidak ada interaksi malam itu. Semua sampai di rumah dalam keadaan orang-orang sudah tidur. Barulah kemudian pagi-pagi sekali suara Gani terdengar paling heboh di bawah. Ara turun dan lagi-lagi keluarganya sudah berkumpul di meja makan. Mbok Suti tidak kelihatan. Ia hendak melipir ke halaman belakang, tapi keberadaannya lebih cepat diketahui oleh sang adik.

"Sudah disiram, Mbak." Bunga-bunga yang menjadi satu-satunya hal yang ditinggalkan oleh sang ibu dan masih bertahan sampai sekarang. Ara meminta tolong Mbok Suti untuk selalu merawat. Sama seperti yang dilakukan ibunya saat masih ada di rumah ini.

Mau tidak mau ia berbalik menuju meja makan, hendak bergabung. "Mbok di mana?"

"Di depan."

"Sampai jam berapa semalam, Yah?" Ara berjalan menghapiri ayah. Mengulurkan tangan hendak salim. Semalam saat Ara sampai tidak ia temukan laki-laki itu di ruang tengah pun di dapur. Dini hari rupanya sang ayah sudah tertidur pulas di kamar lamanya.

"Lewat jam sepuluh. Tahun baru di mana, Mbak?"

"Sama Mas Pandji, Yah," kali ini Gani yang menimpali dengan ekspresi menggoda.

Ara terkekeh. "Nggak tahun baruan, cuma kejebak aja di restoran." Terlihat normal, tapi sebenarnya ada jarak yang tercipta dan Ara merasakan itu.

"Mbak Ara mau ikut nggak?"

"Kemana?"

"Dufan." Gani bersorak senang. "Udah lama nggak kesana. Mau ikut nggak?"

"Lain kali aja. Mbak udah ada janji. Mau keluar juga belanja sama, Mbok."

"Ya, nggak seru!"

"Kamu ajak Nala aja biar ada teman."

"Nala nggak bisa mungkin, hari ini kayaknya seharian di apartemen Mas Pandji," ucap Gani sebelum menoleh langsung ke Ara. "Semalam pas pulang, Mas Pandji masih demam apa gimana, Mbak?"

He?

"Pandji sakit?" Kali ini ayahnya yang bertanya.

Ara menjawab dengan anggukan

"Nala bilang semalam, Mbak Ara yang temanin Mas Pandji," Gani kembali melanjutkan.

"Kelihatannya udah mendingan," jawabnya asal mengingat Pandji terlihat baik-baik saja saat di lobby apartemen semalam bersama mantan kekasih.

"Kok kelihatannya sih, Mbak?"

"Iya udah baikan. Mungkin demam lagi pas Mbak udah balik," Ara berkata sambil menyantap sarapannya.

Ayah dan Gani terlihat sudah puas dengan jawaban Ara, terbukti dengan beberapa menit kemudian, pembahasan tentang Pandji sudah berganti dengan antusiasme Gani untuk mencoba beberapa wahana di Dufan. Sejak dulu memang agenda berlibur keluarganya saat libur sekolah, kalau bukan pulang kampung, maka opsi keduanya adalah bervakansi ke Dufan. Namun semenjak ayah menetap di Bandung, liburan yang sebelumnya menjadi rutinitas keluarga Bratadikara itu sudah sangat jarang dilakukan. Ayah kadang tidak pulang ke Jakarta saat libur semester.

Ara lebih dulu menyelesaikan sarapan sebelum Gani dan Ayah. Ia kemudian bergegas ke halaman depan, mencari keberadaan Mbok Suti. Berencana mengajak Mbok-nya belanja bulanan. Ara berpikiran bahwa meskipun libur tahun baru, toko-toko masih ada yang buka.

Setelah selesai dengan Mbok Suti, Ara kembali ke kamar. Baru saja masuk kamar kala gawai miliknya di tangan bergetar. Sebuah pesan masuk. Nomor tidak dikenal.

PulangCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang