Dua Puluh Empat

3K 393 112
                                        

Tanpa edit. Maap klo ada typo.

.
.
.

Tidak terasa, waktu bergulir dengan cepat. Beberapa minggu telah terlewati dengan banyak kegiatan dan juga drama.

Jongin, Sehun, beserta teman-teman seangkatannya sudah menyelesaikan Ujian Semesternya tepat seminggu yang lalu. Tinggal menunggu beberapa bulan lagi untuk menghadapi UNAS.
Jongin berharap semuanya akan baik-baik saja.

Jongin selalu berdoa, semoga tidak ada teman-teman di sekolahnya atau bahkan sahabat dekatnya yang tau tentang kehamilannya. Ia merasa tidak siap, dan tidak mau dijauhi. Selama Ujian minggu lalu pun Jongin selalu memakai jaket yang lebih besar dari ukuran bajunya. Beralasan sakit, untuk menutupi perutnya yang padahal lebih kecil dari kehamilan pada umumnya. Entahlah, Jongin juga tidak tau kenapa begitu, tapi setidaknya ia bersyukur.

Untuk keadaan rumah keluarga Kim, tidak ada yang banyak berubah. Masih beraura dingin dan terkadang terasa canggung bagi Jongin. Yuri masih tampak acuh, tidak mau berbicara dengan Jongin sedikitpun, namun masih memberikan perhatian secara diam-diam. Seperti membuatkan susu, menyiapkan sepiring sarapan sebelum Jongin turun dari kamar, dan mengunjungi kamar Jongin saat si bungsu telah terlelap.

Sedangkan Siwon, lelaki itu sudah banyak berbicara, meski terkadang terdengar kaku. Mungkin masih tidak percaya dengan apa yang terjadi pada putra bungsunya. Tapi, Ayah dua anak itu tetap mengawasi Jongin setiap si anak berada pada penglihatannya.

Jongin bersyukur Namjoon masih menjadi Kakak yang menyebalkan dan menyayangi Jongin. Lelaki tinggi itu banyak sekali membantu Jongin dalam hal apapun. Termasuk menghibur, saat si bungsu merasa sedih karena sikap Ibunya atau saat bermimpi buruk.

"Udah?" Tanya Namjoon melihat sang adik yang baru saja menandaskan segelas susunya.

"Udah." Jongin mengangguk seraya mengusap bibirnya.

"Ayok berangkat. Ntar telat gue." Ajak Namjoon beranjak dari tempat duduknya. "Berangkat ya Ma, Pa."

"Hati-hati." Balas Siwon.

Jongin dan Namjoon tersenyum hangat pada Siwon, sedangkan Yuri masih diam tanpa mau menoleh sedikitpun.

"Kita berangkat Ma." Ulang Namjoon.

"Hmm." Gumam Yuri singkat.

Namjoon menghela nafas, lalu merangkul adiknya dan berjalan keluar rumah. Terkadang ia sedikit kesal, tapi ia juga tidak bisa menyalahkan Yuri. Ibunya mungkin masih sakit hati. Setidaknya Yuri masih mau memberi perhatian; meski secara diam-diam, itu sudah cukup.

.

.

.

"Harusnya gak usah masuk. Udah mau liburan juga." Ujar Namjoon saat di perjalanan.

"Gak bisa lah, yang lain masih masuk."

"Palingan yang masuk cuma anak Mipa." Cibir Namjoon.

"Enggak ya!" Ketus Jongin. "Semuanya harus masuk."

"Halah. Gue juga pernah sekolah ya. Jadi gue tau, pasti banyak yang gak masuk."

"Serah." Balas Jongin menyerah, karena memang sebenarnya sudah banyak yang tidak masuk sekolah.

"Emang Sehun masuk?"

"Masuk lah. Dia kan remidi."

Crazy Relationship [Hunkai]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang