Dua belas

3K 380 55
                                        

Chapter ini dan chapter selanjutnya bisa dibilang flashback. Jadi hati2 ya bacanya🤗

_________________________________________
.

.

.

.
.
.

Hari Minggu yang cerah. Jongin terbangun tanpa alarm dan itu adalah hal yang langka.

Pemuda Tan ini tak memiliki tidur yang nyenyak semalam, terlalu menunggu pagi dengan tak sabar hingga menyebabkan dirinya resah. Mungkin bisa di bilang Jongin yang membangunkan alarm tadi.

Jongin memiliki rencana pagi ini untuk pergi ke dokter spesialis ahli gizi di sebuah rumah sakit. Ia masih berniat menjalankan dietnya tanpa sepengetahuan Sehun. Karena bisa dipastikan lelaki tampan yang berstatus sebagai kekasihnya itu akan kembali meledak saat tau kebebalannya.

Omong-omong tentang Sehun, Jongin jadi mengingat kembali saat kekasihnya itu sempat marah dan nyaris meninggalkannya sendirian di Taman Bermain kemarin. Jongin mendengus, kenapa Sehun tidak mau mengerti? Padahal Jongin kan hanya ingin menjaga bentuk tubuhnya. Sudah cukup Jeonghan mengejeknya, yah meski sebenarnya hanya bercanda.

Saat ini Jongin sedang mematut dirinya di depan kaca almarinya, memastikan jika penampilannya tak mencolok dan tidak buruk juga. Kemudian Jongin segera menyambar tas tangannya yang berisi dompet dan ponsel. Kakinya melangkah membawa dirinya keluar rumah setelah berpamitan pada Ibunya.

Sebuah Klinik menjadi pilihan Jongin karena kebetulan Klinik itu buka setiap hari, kecuali hari besar tentu saja. Sebenarnya Jongin malas bersusah payah seperti ini, ia bisa saja membeli salah satu produk obat pelangsing di online atau apotik. Namun Jongin masih memiliki rasa takut, ia tak mau menjadi korban efek samping yang mungkin saja membuatnya mati dini. Jadi Jongin memutuskan untuk berkonsultasi dulu dengan ahli gizi agar dietnya efektif dan tidak berbahaya.

Butuh waktu tiga puluh menit untuk sampai di Klinik, Jongin melangkahkan kakinya ke dalam sana dengan ragu. Manik bulatnya mengamati bagian dalam Klinik lalu memberi senyum kecil pada wanita resepsionis.

"Selamat pagi." Sapa sang resepsionis.

"Selamat pagi." Balas Jongin menyapa, "Saya... ingin konsultasi dengan Dokter ahli Gizi."

Si resepsionis mengangguk singkat, memberitahu prosedur dan administrasi Klinik lalu meminta Jongin untuk langsung masuk ke dalam ruangan Dokter.

Jongin berjalan ke arah kanan menuju ruangan di ujung, mengetuk pintu coklat tua di sana yang menampilkan sederet nama sang Dokter sebelum membukanya dan masuk ke dalam. Senyummya mengembang manis menerima sapaan cerah dari Dokter tampan disana lalu duduk di sebuah kursi putar.

"Saya ingin berkonsultasi untuk program diet Dokter Choi." Ujar Jongin mengawali, ia sempat membaca nama Dokter tadi di depan pintu. Choi Minho.

Sang Dokter mengangguk, masih dengan senyum cerahnya. "Baiklah, sebelumnya saya akan mengukur Indeks Massa Tubuh anda kemudian akan di lakukan tes darah untuk mengetahui profil lipid (lemak tubuh), gula darah, asam urat, fungsi hati, dan fungsi ginjal."

Jongin mengangguk, ia mengikuti panduan si Dokter dengan baik. Mulai dari mengukur berat badan, tinggi badan dan tes darah yang membuatnya menunggu selama kurang lebih dua jam.

"Untuk hasil nilai IMT anda 20.4, itu nilai yang normal dan sehat."

"Tapi..," Jongin mengernyit dan menunduk, mencubit perut berlemaknya. "Saya merasa gemuk Dokter. Perut saya berlemak sekali, tidak ada obat biar kempes?" Tanyanya memohon.

"Mungkin anda perlu berolahraga." Dokter tampan itu tertawa kecil.

"Yahh... males banget." Gumam Jongin sepelan mungkin.

Crazy Relationship [Hunkai]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang