Malam itu aku terbayang apakah mungkin secepat ini, “nyatakah semua ini” dalam benakku.
Aku menampar beberapa kali pipiku dan ini nyata bukan mimpi maupun imajinasi apalagi ilusi.
Aku benar- benar tidak bisa tidur memikirkan ini, akhirnya semua penantian semua harapan semua angan sebentar lagi akan menjadi nyata.
.
.
.
.
Mencoba tidur untuk beberapa jam hingga tersadar adzan subuh sudah berkumandang. Aku segera bangun dari tidur dan bergegas mempersiapkan diri mulai dari mandi, sholat dan mempersiapkan hal lainnya sebelum akad.
Aku memakai gamis putih dengan kerudung dan cadar yang senada yang di bantu oleh saudara saudaraku, karena ini hanya akad jadi tak sesibuk jika di barengi dengan resepsi lagi pula persiapan juga sangat sederhana menikah di KUA dekat rumah.
Jam mulai menunjukan pukul 10.00 tepat. Aku, keluarga dan beberapa sanak saudara sudah menantinya berserta keluarganya di ruangan yang akan menjadi saksi saat ia menyebut namaku.
Hatiku mulai palpitasi tak karuan rasanya menanti kehadiran seorang yang akan memiliki gelar suami dalam hidupku.
“Assalamualaikum, maaf kami sedikit lama karena macet” ucap seseorang di depan pintu masuk ruangan.
“Wa’alaikumussalam gakpapa buk silahkan duduk buk” jawab beberapa orang yang sudah terlebih dahulu berada di dalam ruangan tersebut.
“haa itukan Mama Bang Jody mereka sudah datang berarti sebentar lagi dia akan datang” ucapnya dalam hati sembari meilirik ke arah itu lalu menunduk kembali dengan jantung yang sudah tak stabil di dalam.
“Assalamualaikum maaf kami lama” ucap seorang pria muda di ambang pintu.
“Wa’alaikumusaalam, silahkan masuk akhirnya datang juga pengantinnya mari kita mulai” ucap salah seorang saksi.
Aku mulai menyembunyikan diri di balik saudara agar ia tak melihat keberadaanku rasanya aku malu sangat malu jika ia melihat ku.
.
.
.
“Baiklah kita mulai, Bismillahirrahmanirrahim ...” ucap Pak penghulu beberapa kalimat pembukaan dan penjelasan sebelum memasuki ijab kabul.
“Silahkan Bapak bersalaman dengan mempelai prianya”
“Baiklah kita mulai, mempelai pria silahkan lebih rileks, tenang tarik nafas dulu jangan kaku dan tegang gitu ekspresinya” ucap Pak penghulu kembali.
Berjabat tangan pun di lakukan oleh Ayah dan dirinya.
“Jody Aslu Yogantara Rangkuti” suara yang kudengar ketika ayah mengucapkan itu aku memperhatikan proses itu dan kembali menunduk.
“saya Pak” ucap sang calon pengantin pria
“saya nikahkan anak kandung saya Nabilla Aprila Ningrum maharnya 3 gr emas tunai” ucap Ayah dengan lantang menantapnya
“Saya terima nikah Nabilla Aprilya Ningrum dengan Maharnya 3 gr emas tunai” suara pria dengan lantang dan satu nafas menyebut ikrar tersebut yang kini resmi mendapat gelar sebagai suami.
Hatiku rasanya bahagia sekali sekaligus terharu mendengar ikrar yang sudah menjadikan ikatan ini menjadi ikatan yang halal, mengubah gelar ini menjadi seorang istri pastinya juga telah siap menjalani rumah tangga dan kehidupan yang sesungguhnya.
Sungguh hati yang kian meragu kini telah pasti, hal yang selama ini menjadi mimpi kini telah terjadi. Rasa dalam diri ini sangatlah bahagia hingga tanpa sadar jatuhlah cairan bening di pelupuk mata, tanganku gemeter, jantungku berdegub tak karuan bahkan seluruh badanku mulai bergetar.
“Alhamdulillah silahkan Nabilla duduk di sampingnya” suruh sang penghulu
Aku menoleh kearahnya dan mulai melangkah dengan ragu begitupun ketika sudah mulai mendekat dan duduk yang masih aja jarak antara kami kecanggungan yang menyelimuti.
Memasuki prosesi penyematan cincin di jari manisku, sungguh berat rasanya menyodorkan tangan ini untuk di sematkan cincin olehnya begitu juga dengan dirinya penuh kecanggungan, ia mulai menggenggam tanganku dengan ragu dan aku juga sangat ragu dan malu tangan ini ingin di genggam olehnya.
Akhirnya dengan penuh canggung antara kami cincin itu pun terpasang di jari manisku, selanjutnya aku harus menyalami dirinya. Sungguh ntah apa yang kurasa saat itu ingin aku menyembunyikan tangan ini, namun apa dayaku itu tak mungkin ku lakukan aku harus menyalami dan mencium tangannya. Tetap saja dengan ragu aku bersalaman dengannya lalu kucium tangannya sembari mengikuti intruksi dari sanak saudara yang menyaksikan.
Selanjutnya ia membacakan doa yang memegang kepalaku dan setelah itu mengecup keningku dengan penuh khitmat.
Keraguan dan kecanggungan masih menyelimuti antara kami bahkan ketika kami sudah pulang dari KUA dan makan bersama dengan keluarga besar masih terjadi kecanggungan.
.
.
.
.
Tamat..
Maaf banget update nya terlalu lama karena berhubung author udah jadi ibu rumah tangga banyak kerjaan juga . hehe. 😂
Semoga cerita ini menginspirasi ya 😘
Menurut kalian cerita ini di lanjutin atau sampai sini aja?
Kalo di lanjutin dengan judul yang berbeda gmna?
KAMU SEDANG MEMBACA
Hijrahku Dan Hadirnya Ia
EspiritualSemua akan indah pada waktunya percayalah. Mungkin saat ini dirimu sedang di beri Allah ujian dengan berkali kali kekecewaan sebagai peringatan bahwa Allah maha pencemburu dan hatimu jatuh cinta kepada selainnya. Tapi yakinlah bahwa Allah sudah memp...
