Stefan meliarkan pandangannya sekeliling mencari kelibat seseorang. Zaki yang baru saja sampai langsung menegur sahabatnya.
"Lo cari siapa, Stef?."
"Enggak... Enggak cari siapa siapa kok. Gue kan lagi nunguin elo."
"Ohh... Lagi nunguin gue.. Gak biasa biasanya lo nunguin gue. Selalunya lo panasin dulu enjinnya bot, terus siap siap barang barang buat nangkap ikan." sindir Zaki.
Dia tahu, Stefan sedang mengharapkan kedatangan seseorang. Seseorang yang bikin Stefan bahagia, kuat ngelamun, nggak bisa tidur lena dan membuatnya kusut juga beberapa hari ini. Sebenarnya Zaki emang kurang setuju sama sikap dinginnya Stefan ke Bella. Kerna dia tahu betul, Stefan amat mencintai gadis itu. Tapi percuma jika dinasehatin juga, alasannya tetap sama. Darjat mereka itu berbeda dan itu yang menjadi alasan mereka gak bisa bersatu.
"Yaahh... Gue cuman lagi banyak waktu aja makanya gue nunguin lo. Udah ah ayok, ntar telat nanti kita pulangnya kemaleman lagi." Stefan coba menukar topik pembicaraan.
"Hahaha... Nggak bakal telat lah, ini juga masih pagi banget. Belum sore loh, Stef."
Sebenarnya, Stefan memang sedang menanti Bella. Dia merindui sosok gadis yang selalu meriuhkan dan mewarnai hari harinya. Hidup dia terasa sunyi setelah tiga hari gadis itu tidak menyapanya seperti selalu.
'Apa Bella sudah pulang ke Jakarta,ya' kata Stefan dalam hati.
"Woi ! Kok bengong sih? Ayok, tadi katanya takut telat." panggil Zaki.
Kini Zaki sudah berjalan duluan sampe ke bot, kemudian Stefan menghampirinya. Mereka memanaskan enjin bot dan menyiapkan alatan untuk ketengah laut. Tidak menunggu waktu lama, mereka berangkat ke tengah laut untuk menangkap ikan.
...
"Iya mi, entar kalau Bella udah rasa mau pulang.. Bella pasti pulang kok. Mami gak usah khawatir. Lagian Bella bukan pergi kemana mana kok, dikampungnya omma aja."
Bella sedang menelfon dengan maminya, Cindy. Maminya menelfon setiap hari untuk membujuknya pulang ke Jakarta.
"Kamu ngapain sih disana lama lama sayang... betah banget. Disini itu banyak kerja kamu yang tertunggak tau gak. Kamu harus inget loh, kamu tu bentar lagi bakal jadi CEO Arena Holding.. Jadi kamu cepet cepetlah pulang ke sini." Cindy sengaja menekankan perkatan CEO.
Bella memutarkan matanya. Sungguh, dia udah capek dengan semua itu.
"Iya mi, aku tau kok. Mami gak usah khawatir soal itu. Entar nanti lagi beberapa hari, aku pulang ya. Udah yah mi, aku mau bantuin omma bersih bersih rumah dulu.. Sampe ngobrol lagi, daaaa."
"Bell..."
Belum sempat Cindy menghabiskan bicaranya, Bella langsung mematikan panggilan.
"Ihh.. Males banget kalau udah ditelpon ama mami. Pasti yang diomonginnya tu soal kerja, soal pulang, soal harta. Enggak pernah tu kalau telpon aku nanya khabar kek, udah makan belom, sihat apa gak. Enggak perhatian banget sih jadi mami." omel Bella sendiri.
"Ini lagi si Stefan... Nyebelin juga tu orang, masa gue mau temanan sama dia kayak dulu, dianya gak mau. Padahal dulu kan dekat banget, nahh giliran sekarang gue pengen jadi temannya dia lagi.. Dianya jutek dan dingin gitu ke gue. Terus sok manis gitu di depan cewek yang namanya Syifa itu. Eeeeeeii... Stefan nyebelin.!"
YOU ARE READING
SUKA DARI DULU
FanfictionStefan Wijaya hanya seorang nelayan kampung. Marbella Darwina bakal CEO Arena Holding. 15 tahun berlalu. Bella kembali semula ke kampung setelah dikecewakan oleh teman lelakinya. Kepulangannya tanpa disadari ada seseorang yang setia menanti dan eng...
