5.

1.8K 140 19
                                        

"Eomma, aku berangkat dulu ya"



Eunwoo bergegas membawa bekalnya dan berpamitan dengan ibunya. Moonbin sudah menunggunya di luar dengan mobil hitamnya yang tidak begitu mewah, namun terkesan cocok dengan wibawa seorang Moonbin.



Hari ini Moonbin mulai menjemput Eunwoo untuk berangkat menuju kantor mereka, lebih tepatnya kantor milik Moonbin sendiri. Moonbin mempersilakan Eunwoo untuk memasuki mobilnya dan duduk di bangku samping Moonbin. Pria tampan itu segera menjalankan mobilnya dengan kecepatan yang tidak begitu kencang.



"Hyung, apa kau sudah sarapan?" tanya Eunwoo memecah keheningan ketika Moonbin sibuk menatap jalanan

"Belum, semenjak aku tinggal sendiri aku tidak pernah sarapan" Moonbin menjawab pertanyaan Eunwoo dan menatap pria manis itu

"Oh begitu, Eomma membawakanku sarapan. Tapi porsinya terlalu banyak bagiku, jadi ayo kita makan bersama?" Eunwoo membalas tatapan Moonbin tentu disusul dengan senyuman tulus dari bibirnya

"Kalau begitu kita makan sekarang saja. Kalau di kantor pasti tidak sempat" Moonbin mengelus pelan pipi Eunwoo lalu kembali mengendalikan stir mobilnya

"Nee, hyung" Eunwoo mulai membuka tempat makannya yang berisikan empat potong roti dengan selai cokelat yang terlihat sangat lezat

"Hyung, kan kau sedang menyetir, mau aku suapi?" ucap Eunwoo setelah mengambil satu roti tersebut

"Boleh, sudah lama aku tidak disuapi sejak aku mulai masuk sekolah dasar" jawab Moonbin disusul dengan tawaan kecil dan eyesmile yang terpampang di wajah tampannya. 'Tampan' pikir Eunwoo dalam hati

"Baiklah, kalau begitu aku akan membawakan sarapan untukmu setiap hari dan menyuapimu saat di perjalanan. Kalau kau selalu menjemputmu" Eunwoo mulai memberikan satu suapan roti pada Moonbin. Moonbin mulai mengunyahnya dan menunjukkan ekspresi seperti mengatakan 'sangat lezat'.

"Kalau aku tidak menjemputmu?" Moonbin menatap Eunwoo yang sedang menyantap sarapannya

"Kan biasanya aku naik bus, jadi aku akan menyuapi pak sopirnya" jawab Eunwoo lalu tertawa pelan, membuat Moonbin semakin gemas padanya. Melihat wajah Moonbin yang sedikit kesal, Eunwoo kembali mencoba menyuapi Moonbin. "Hehe, bercanda, hyung. Sini aku suapi lagi"





Moonbin melahap suapan kedua yang Eunwoo berikan, hingga Ia sedikit tersedak dan membuat Eunwoo terkejut.




"Ah iya, ini minum dulu hyung" Eunwoo mengambil sebotol air putih yang juga Ia bawa dari rumah. Eunwoo menyuapi air putih itu pada Moonbin.

"Kau memang seperti malaikat, selalu menyelamatkanku saat aku kesulitan" Moonbin tersenyum saat Ia sudah merasa lega pada lehernya. Ia kembali fokus mengendalikan stir mobilnya. Membiarkan Eunwoo yang tengah memerah wajahnya, karena kalimat yang baru saja Moonbin katakan padanya. Hati Eunwoo tidak baik baik saja.

"Ah, hyung. Itu hanya ketidaksengajaan, hehehe" Eunwoo membereskan tempat makannya, dan kembali memandangi jalanan yang mereka lewati. Hingga akhirnya mereka sudah sampai di kantor milik Moonbin.

Eunwoo turun terlebih dahulu lalu menunggu Moonbin yang menyusul. Mereka berdua berjalan berdampingan dan seperti biasa Moonbin selalu disapa oleh karyawan-karyawannya. Namun Eunwoo lah yang membalas sapaan itu.

"Mulai sekarang, kau bekerja di ruanganku saja. Temani aku, ya?" tanya Moonbin saat mereka mulai memasuki lift, tangannya mulai menyentuh tangan Eunwoo lalu menggenggamnya. Eunwoo dibuat terkejut dengan perlakuan yang Moonbin berikan

"Oke, hyung!" Eunwoo membiarkan tangannya digenggam oleh pria tampan disampingnya, sampai mereka keluar lift dan menuju ruangan Moonbin





Moonbin tersenyum melihat persetujuan dari Eunwoo. Ia menggandeng Eunwoo kedalam ruangannya dan segera duduk di sofa yang cukup besar untuk mereka berdua. Eunwoo mengikuti arahan Moonbin tanpa berpikir macam-macam. Karena Eunwoo tahu, Moonbin adalah orang yang baik.



"Masih pagi, mengapa aku sudah mengantuk saja" Moonbin melepas tautan tangan mereka dan segera menaruh kepalanya pada paha Eunwoo, nyaman seperti bantal di rumahnya, namun kali ini jauh lebih nyaman

"Tapi kan, masih banyak pekerjaan yang harus kau selesaikan, hyung" Eunwoo membiarkan Moonbin menaruh kepalanya pada paha miliknya, sedikit kebingungan dengan tingkah Moonbin yang seperti ini.

"Ah biarkan, kan aku bos disini. Masih banyak yang bisa mengerjakannya, mereka digaji untuk itu" Moonbin mencari posisi yang paling nyaman lalu mulai menutup matanya

"Itu artinya aku juga harus bekerja, hyung. Aku akan mengambil bantal untukmu dan aku akan mulai bekerja" Eunwoo menatap Moonbin yang berada di bawahnya, bukannya melepas, Moonbin malah memberikan pelukan pada pinggang Eunwoo. Eunwoo tidak tau apa yang harus Ia lakukan.

"Tidak, hari ini kau temani aku saja, tidak usah kau pikir masalah gaji. Kau sudah tau siapa aku, dan sikapku seperti ini padamu apa kau belum paham?" jelas Moonbin yang kemudian menatap mata Eunwoo yang tepat berada diatasnya.

"Aku paham, hyung" Eunwoo tersenyum, setidaknya Moonbin sudah memberi aba aba, Ia mulai mengelus rambut Moonbin dengan lembut mempersilakan pria itu untuk kembali menutup matanya.




Moonbin lega, Ia sudah memberi sedikit kepastian pada Eunwoo. Ia tidak ingin menyia-nyiakan hal yang sudah Ia tunggu sedari dulu yang sekarang sudah kembali lagi padanya. Moonbin sangat bahagia karena itu.

Moonbin menutup matanya, kembali memeluk pinggang Eunwoo dengan erat, sedangkan Eunwoo, masih mengelus rambut Moonbin dan menatap Moonbin yang berada di pahanya.

Entah apa yang sudah Eunwoo lalukan, sehingga Tuhan memberikannya kebahagiaan saat Ia bertemu dengan Moonbin, Eunwoo merasa Ia sudah menemukan seseorang yang dapat membuatnya luluh, walaupun orang itu adalah pria sama sepertinya.












































___________________________, tbc.

(BinWoo) GO&STOPTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang