Pikirannya terus membayangkan bagaimana ia diperlakukan dulu. Dia seperti tidak dianggap di rumah itu. Hanya seperti pajangan yang selalu dibersihkan. Dan dia hanya diberi fasilitas sekolah dan makan. Benar-benar tidak diberi kasih sayang.
Wara yang selalu menjadi penghalang baginya untuk mendapatkan kasih sayang. Orang tuanya selalu membedakan mereka karena kesehatan fisik yang mereka miliki.
Dia tidak pernah menyalakan Wara dalam hal ini. Karena semuanya bukan keinginan Wara. Dia tahu Wara menjadi manja karena selalu diberi perhatian oleh Bunda dan Ayahnya.
Dan yang pasti orang tuanya yang menyebabkan ini semua. Menyebabkan dia menjadi kurang kasih sayang, selalu buat masalah di sekolah, dan menjadi pribadi yang tertutup.
Di tangannya menggenggam sebuah kertas yang terdapat hasil pemeriksaannya kemarin.
Dia masih ingat ketika sang dokter sedang memeriksanya dan mengatakan sesuatu.
"Nanti kalau orang tua kamu sudah datang, tolong jumpain saya. Saya mau memberitahu hasil ronsen kamu pada mereka," ucap Dokter Tito.
"Sama saya saja Dok. Saya berhak tahu semuanya," kata Satya tegas.
"Baiklah. Kamu sudah boleh pulang sore ini, jadi nanti sebelum pulang kamu ke ruangan saya dulu," balas Dokter Tito.
"Iya Dok," ucap Satya.
Sesuai janjinya, setelah dia sudah berpakaian untuk kembali ke rumah, dia langsung melangkah menuju ruangan dokter Tito. Dia tidak tahu apa yang akan diucapkan oleh sang dokter. Dan hanya berharap jika apa yang dia dengar nanti bukan sesuatu yang serius.
Saat Satya sudah berdiri di depan pintu dokter Tito. Dia langsung mengetuk pintu dan izin untuk masuk.
"Silakan masuk," titah Dokter Tito.
Setelah melihat Satya, dokter Tito menyuruh Satya untuk duduk.
"Jadi gimana Dok? Saya gak papa kan?" tanya Satya langsung.
"Kamu saja yang lihat. Ini hasil lap sekaligus ronsen kamu," jawab Dokter Tito sambil memberikan sebuah amplop cokelat besar.
Satya langsung melihat apa yang ada di dalamnya. Dia sedikit bingung dengan apa yang dilihatnya. Namun sebuah kalimat yang membuatnya terkejut.
Kanker tulang stadium dua
"Enggak, ini gak mungkin kan Dok. Saya gak mungkin sakit kanker Dok. Saya baik-baik aja. Buktinya dua hari yang lalu saya masih main futsal Dok," ucap Satya tidak terima.
"Saya mohon maaf. Saya sebagai Dokter juga tidak mau jika pasien saya mengidap kanker. Tapi kamu tenang saja. Ini masih stadium dua. Setidaknya kamu masih bisa menjalankan kemotrapi untuk memperlambat sel-sel kanker yang terus menyebar," kata Dokter Tito tegas.
"Cuma memperlambat Dok. Semua orang juga tahu kalau kanker ujung-ujungnya juga mati kan Dok?" tanya Satya pasrah.
"Yang menentukan seseorang akan mati hanya Tuhan. Kamu tidak bisa menghakimi jika kamu juga akan mati karena sakit kanker. Banyak orang di luar sana yang sembuh karena mereka memang berjuang untuk kesembuhan. Dan saya harap kamu juga kaya gitu, jangan patah semangat.
"Dan satu hal lagi, kamu harus memberitahu hal ini pada kedua orang tua kamu," ujar Dokter Tito.
"Dok saya akan menerima semua ini. Tapi tolong kalau ada yang nanya saya sakit apa, jangan beri tahu, biar saya saja yang merasakan sakit sendiri," kata Satya.
"Baik. Untuk sementara saya tidak akan memberitahu. Tapi kamu harus ingat, jika kamu membutuhkan kekuatan, itu hanya bisa kamu dapatkan dari orang-orang terdekatnya," kata Dokter Tito.
"Iya Dok. Kalau begitu saya pamit pulang," kata Satya akhirnya.
Apa hidupku hanya sampai di sini? tanya Satya tertawa sedih.
Dan mulai hari ini, esok, dan setelahnya dia tidak seperti dulu. Tidak akan pernah sama. Dia tidak tahu apakah dia akan diberikan kesembuhan total atau kebalikannya. Dia hanya berharap pada Tuhan saat ini.
***
Okee udah tahu yaa Satya sakit apa. Bisa tidur nyenyak deh, Hehe.
VOTE N COMMENT
KAMU SEDANG MEMBACA
Difference ✔ [Terbit]
Teen Fiction[Sebagai part dihapus untuk kepentingan penerbitan] [Novel masih bisa dipesan lewat shopee yang ada di bio profil.] Sepasang anak kembar. Mereka Abisatya dan Abiwara. Memiliki sifat dan perilaku yang berbeda. Wara yang selalu manja karena fisiknya y...
![Difference ✔ [Terbit]](https://img.wattpad.com/cover/207357391-64-k80475.jpg)