Terima kasih menurunkan dia di sampingku. Dia yang bahkan masih baru masuk ke dalam hidupku. Semoga dia adalah orang yang akan selalu mendukungku.
***
"Wara, makan ya, nanti tambah sakit," ucap Della--pacar Wara yang sedang membujuk Wara di kamarnya.
"Mulut aku pahit yang. Mau tidur aja," balas Wara.
"Kalau kamu gak makan, aku gak mau bicara sama kamu lagi," ucap Della kesal.
"Kamu ih. Yaudah deh aku makan. Tapi kamu suapin ya, badanku lemes banget yang," balas Wara manja.
"Iya, sini aku bantu duduk," kata Della lalu membantu Wara untuk duduk di ranjangnya.
Della menyuapi Wara sesuap demi sesuap. Selesai makan, Della membantu Wara untuk meminum obatnya.
"Wara, tadi Satya gak ada masuk kelas loh. Terus pas aku jumpa di koridor, dia lagi sama Dhifa," ucap Della membuat Wara kesal.
"Ngapain sih kamu bicarain dia. Males tahu gak, gak penting," kata Wara ketus.
"Tapi War, muka dia kaya pucat gitu, ya kan kamu Adiknya sih," balas Della.
"Biar aja sih, gue gak peduli. Jangan bicarain dia napa Del. Aku males banget," tutur Wara.
"Yaudah deh iya. Yaudah sekarang kamu istirahat aja, aku mau pulang. Cepat sembuh ya sayang," kata Della lalu mengecup kening Wara singkat.
"Iya, kamu hati-hati. Besok aku jemput kamu ya," ucap Wara.
"Kalau gak sanggup gak usah dipaksa ya," kata Della perhatian.
"Iya sayang," jawab Wara.
Della pergi meninggalkan Wara sendiri. Dan Wara masih kepikiran dengan ucapan Della tadi yang mengatakan jika wajah Satya pucat. Entahlah dia merasa tidak enak sekarang.
***
Di sekolah. Satya dengan santainya menggiring bola. Sejak tadi Dhifa sudah khawatir jika tiba-tiba Satya pingsan. Namun, sudah hampir satu jam Satya masih terus bermain. Padahal Dhifa bisa melihat jika wajah Satya sudah semakin pucat.
Sebenarnya Dhifa ingin sekali berteriak atau menarik Satya untuk ke pinggir lapangan. Perasaan Dhifa, entah kenapa merasa khawatir melihat wajah pucat Satya.
Akhirnya istirahat, dengan lemas Satya menghampiri Dhifa sambil tersenyum tipis. Dengan khawatir Dhifa langsung menghampiri Satya.
Satya terdiam. Pandangannya kabur, dia tidak bisa melihat jelas apa yang di depannya. Tubuhnya juga sudah mulai melemas.
Dalam hitungan detik tubuh Satya sudah ambruk di hadapan Dhifa.
"Satya!" panggil Dhifa lalu menghampiri Satya dengan cepat.
Semua anggota futsal yang mendengar nama Satya langsung menoleh dan berlari ke arah Satya yang sudah tergeletak di lantai lapangan.
Dhifa langsung memangku kepala Satya. Dan berusaha membangunkan Satya.
"Satya, bangun, bangun, katanya gak bakal tumbang," ucap Dhifa yang hampir menangis.
Entahlah air matanya tiba-tiba saja hampir saja mau keluar.
"Minggir Dhif. Biar gue sama temen-temen angkat Satya ke UKS," ucap Ferdi.
Dhifa langsung menyingkir dan mengikuti Satya yang dibawa ke UKS.
***
Yah Satya tumbang, Wkwkwk
Siapa nih yg suka Satya disiksa??
VOTE N COMMENT
KAMU SEDANG MEMBACA
Difference ✔ [Terbit]
Teen Fiction[Sebagai part dihapus untuk kepentingan penerbitan] [Novel masih bisa dipesan lewat shopee yang ada di bio profil.] Sepasang anak kembar. Mereka Abisatya dan Abiwara. Memiliki sifat dan perilaku yang berbeda. Wara yang selalu manja karena fisiknya y...
![Difference ✔ [Terbit]](https://img.wattpad.com/cover/207357391-64-k80475.jpg)