Sebelas

4.3K 244 11
                                        

Pagi yang cerah. Kelopak mata yang tertutup sejak kemarin sudah terbuka perlahan. Melihat semua yang ada di sekitarnya.

Rumah sakit. Dia melihat ada selang infus yang menancap pada urat tangannya. Tidak bisa dipungkiri jika dia masih lemas.

"Satya, kamu udah sadar," ucap Dhifa sambil menggenggam tangannya.

Satya mengerjapkan matanya, menjelaskan sosok Dhifa di depannya.

Satya hanya tersenyum sebagai jawaban. Dia belum bisa bersuara, lidahnya terasa keluh untuk mengeluarkan suara.

"Apa yang sakit? Kaki kamu masih sakit?" tanya Dhifa khawatir.

Satya menggeleng. Tubuhnya hanya lemas, sakit di kakinya juga tidak terasa lagi.

"Nanti Dokter mau melakukan ronsen sama kamu. Jadi sekarang kamu makan dulu ya," ucap Dhifa.

"Gak usah, aku udah ke ... nyang," jawab Satya pelan.

"Makan dong Satya. Kan kamu baru sadar, kemarin juga kamu belum makan, jangan buat aku khawatir dong," kaya Dhifa.

"Yau ... dah," jawab Satya akhirnya.

Dia tidak mau melihat Dhifa sedih jika dia tidak mau makan.

Dhifa membantu Satua untuk duduk. Walaupun lemas, Satya memaksa tubuhnya untuk duduk dan bersandar.

Dhifa mulai menyuapi Satya sesuap demi sesuap. Hingga suapan ke lima Satya sudah tidak tahan.

"Udah," kata Satya.

"Baru lima suap loh," balas Dhifa.

"Udah, mual," ucap Satya.

"Yaudah. Sekarang kamu minum obat terus istirahat, biar nanti kamu ada tenaga lagi," ucap Dhifa.

Setelah minum obat. Satya dibantu oleh Dhifa untuk berbaring kembali. Dhifa mengusap rambut Satya lembut. Membuat Satya merasa nyaman dengan sentuhan itu. Dia jadi merindukan bundanya. Seandainya bundanya di sini dan melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan Dhifa sekarang, dia pasti akan sangat senang.

Tapi hal itu hanya ada di dalam hayalannya. Bahkan sekarang pun dia tidak melihat keberadaan bunda dan ayahnya. Hingga Satya tidak sadar air matanya menetes.

"Eh, kok kamu nangis," kata Dhifa lalu menghapus air mata Satya.

"Bunda kenapa gak ke sini?" tanya Satya pelan.

"Bunda pasti bakalan ke sini kok. Kemarin aja bunda nemenin kamu di sini. Tapi dia izin pulang karena Wara lagi demam," kata Dhifa menjelaskan.

"Aku pengen bunda di sini," ucap Satya jujur.

"Kamu yang sabar ya. Aku tahu bunda kamu pasti sayang banget sama kamu. Dia bingung harus nemenin kamu atau adik kamu, tapi aku tahu kok dia pasti akan selalu sayang sama kamu," kata Dhifa.

"Enggak, bunda gak sayang sama aku. Sekarang dia aja lebih milih nemenin Wara daripada aku. Kan ada ayah yang bisa jagain Wara," balas Satya tidak terima.

"Kamu yang tenang ya. Kalau kamu gak tenang gini, kamu malah tambah lemas. Udah sekarang kamu istirahat, ada aku yang selalu di samping kamu," kata Dhifa yang melanjutkan usapan pada rambut Satya.

***

Update

Maaf banget aku udah gak update update lagi. Soalnya aku sibuk banget. Maaf ya, aku udah mulai pkl jadi pulang sampai jam 6 dan sampai rumah langsung istirahat. Yah malah curhat:(

VOTE N COMMENT

Difference ✔ [Terbit]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang