"Assalamu'alaikum Pak Ian" Mas Yanto yang menjemput kami di bandara mengulurkan tangannya yang langsung aku jabat.
"Wa'alaikumussalam Warahmatullah... Bagaimana kabarnya Mas Yanto?"
"Alhamdulillah, Baik Pak Ian. Bagaimana honey moonnya? Saya segera dapat keponakan dong? Ha ha ha" Sebentar Mas Yanto mengerlingkan mata jail pada ku lalu melirik ke arah Syfa yang dijawab tangkupan kedua tangan didepan dada oleh Syfa. Mas Yanto lantas melakun hal yang sama.
"Doakan saja Mas. Bagaimana kabar galeri?" Kami mengobrol sambil berjalan menuju parkiran mobil.
"Biar saja saja Mas. Nggak apa-apa" Tolak ku halus saat Mas Yanto ingin mendorong teroli barang bawaan kami yang beranak sepulang dari Raja Ampat.
"Si Karman sudah tidak sabar bertemu Pak Ian. Sedang menunggu di galeri dia"
"Oh ya? Bagaimana kabarnya? Sudah lama juga aku tidak bertemu si Karman tegil itu"
"Baik. Sedang kasmaran dia Pak, kabarnya sedang mendekati calon pegawai baru di galeri cabang"
"Karman, Karman.... Masih saja bocah satu itu."
Sesampainya di parkiran, aku membantu Mas Yanto memasukkan barang ke bagasi setelahnya membukakan pintu mobil untuk Syfa yang mendapat ledekan iri dari Mas Yanto.
"Pipinya jangan semerah itu sayang, Mas Yanto bisa terpesona lihat cantiknya kamu kalau sedang malu"
"Tenang Pak, saya masih setia kawan. Apa lagi, masih sangat cinta dengan Santi di rumah haha"
Hampir sembilan puluh menit kami berkendara. Selepas melewati tol, belok ke arah kanan melewati jalan Veteran Utara lalu berbelok lagi ke arah kiri memasuki kawasan Pantai Losari. Mas Yanto menepikan mobilnya di depan galeri cabang. Kami bertiga turun dari mobil. Belum juga sempat membuka pintu galeri cabang, salam heboh Karman sudah menyambut.
"Rindu ka' Pak sama kita" teriaknya dengan logad Makassar kental dengan kedua tangan di bentangkan seperti anak kecil yang meminta di gendong. Aku segera memeluknya. Kawan ku yang satu ini juga menjadi saksi sejarah bagaimana aku bisa sampai di titik ini sekarang.
"Apa kabar kamu Man?"
"Baik... Baik... Hati saja ini, sepi. Belum ada yang menemani"
"Halah, tiap ada cewek bening sedikit saja langsung dimodusin" Mas Yanto mencibir dari balik mobil, hanya kepalanya yang terlihat jelas. Masih sibuk menurunkan beberapa koper. Kami semua tertawa bersama.
"Ini, aku kenalkan. Syfa, istri ku. Awas saja kalau berani modusin bidadari ku"
"Halah, sombong!" Karman tersenyum lebar pada Syfa, agak malu-malu menyodorkan tangannya setelah mengusapnya di ujung kemejanya sebelumnya. "Syfa" namun Syfa segera menangkupkan kedua tangannya di dada yang membuat Karman sadar lalu malu sendiri.
"Istri temen mu, jangan main sosor kamu" Mas Yanto kembali nyeletuk saat hendak masuk ke dalam galeri sambil membawa dua koper di kedua tangannya.
"Orang cuma mau kenalan. Sirik aja kamu!"
"Cantik ya istinya Pak. Kalau kata orang Makassar, malebbi" mendengar Kata-kata Karman, Syfa melirik ke arah ku.
"Maksudnya, perempuan kalem. Wajahnya enak di pandang" Syfa mangut-mangut, kami bertiga memasuki galeri.
Aku sibuk dengan Karman dan Mas Yanto membahas persiapan pembukaan galeri cabang bulan depan. Syfa sedang berkeliling melihat-lihat. Satu jam kemudian, Mas Yanto pamit untuk mengurus hal lain. Karman pun pamit untuk mengecek stok untuk pembukaan galeri cabang.
Aku melihat Syfa sedang berdiri di depan jendela besar dilantai dua yang langsung menghadap ke arah Pantai Losari.
"Maaf ya, saya tinggal lama" Syfa yang kaget karena aku yang berbicara tepat ditelinga kirinya sontak menoleh. Jarak wajah kami yang sangat dekat membuat Syfa hampir saja mencium pipi ku. Wajahnya bersemu merah saat menyadari posisi kami. Aku sangat senang menggodanya seperti ini.
"Mas Yanto sama Mas Karman kemana Mas?"
"Mas Yanto sedang ada urusan, kalau si Karman cek stok untuk acara bulan depan" Syfa mangut-mangut, wajahnya kembali menatap jendela yang menampakkan pemandangan Pantai Losari yang terhampar luas.
"Mau ke sana?"
"Panas"
"Sama saya tidak akan panas"
"Mana bisa?"
"Ayo! Kita cari makan."
Makassar adalah salah satu Kota di Sulawesi Selatan. Punya banyak pesona alam yang memukau. Tempat ini punya sejuta cerita tentang aku dan masa lalu.
Aku dan Syfa duduk di salah satu kedai es kelapa di bibir pantai. Sesekali angin meniup jilbab dan ujung roknya. Kami berbagi cerita ditemani dua es kelapa muda dan beberapa gorengan khas Kota Daeng.
"Kenapa membuka cabang di Makassar Mas?"
Sebentar aku tersenyum pada Syfa, "Di kota ini Ibu ku di lahirkan. Di kota ini pula orang tua ku bertemu saat Ayah merantau"
"Mas punya darah Makassar?"
"Ya begitu, wajah tampan ku ini turunan dari Ibu Fa" aku memasang wajah penuh pesona, Syfa mencibir lalu akhirnya tertawa dan akupun tertawa.
"Tidak percaya?"
"Ganteng dari mana coba?"
"Kalau tidak ganteng, mana mau kamu aku nikahi"
"Mas kan tidak ingin ditolak"
"Jadi, nikahnya terpaksa?" Syfa terdiam menatap es kelapa muda di depannya. Aku yang menyadari suasana tiba-tiba berubah, sedikit mengutuk diriku. Padahal perlahan Syfa mulai membuka dirinya pada ku selama liburan kami.
"Mas..."
"Ya?"
"Tidak jadi"
"Loh, kenapa?" Syfa menggeleng. Ah, sungguh terkadang isi hati wanita sulit tertebak.
Setelah menghabiskan es kelapa muda, kami menunaikan shalat azhar di masjid terapung lalu kembali ke galeri. Nanti malam, kami akan kembali ke Jakarta.
Mas Yanto dan Karman mengantar sampai bandara, selama di perjalanan kami masih membahas tentang pekerjaan. Setelah satu jam, kami tiba di bandara.
Karman membantu mengurus koper, aku dan Mas Yanto berjalan lebih dulu.
"Mas... Mas... Mas Ian ya? Boleh minta waktunya sebentar Mas?" Tiga orang dengan kameranya menghampiri kami. Sepertinya wartawan.
"Maaf Mas, Pak Ian buru-buru." Mas Yanto seperti biasa sangat sikap memasang badan. Bagi ku, diwawancarai wartawan bukanlah kebanggaan. Aku hanya seorang pengusaha bukan artis. Apalagi tidak semua wartawan berlaku bijak. Beberapa senang mamanfaatkan moment untuk bahan berita.
"Syfa..." Langkah ku terhenti saat suara seorang wanita terdengar memanggil nama Syfa.
"Iyakan, Syfa? Masih ingat aku kan? Aku Rindi" Seorang wanita muda mendekati kami, pakaiannya seperti petugas bandara teramat antusias menyapa Syfa yang terpaku menatapnya.
"Apa kabar kamu? Lama ya kita tidak ketemu. Lagi ngapain di Makassar? Jalan-jalan sama Kak Azka? Eh, Kaliankan sudah putus? Tahun lalu? Aku sama yang lain sampai kaget pas tau kalian putus"
Azka? Siapa dia? Seseorang dari masa lalu Syfa? Dan siapa perempuan ini, mengapa raut wajah Syfa tiba-tiba berubah melihatnya? Aku yang bingung mencerna situasi menatap Syfa bingung. Wanita berseragam biru ini pun menampilkan raut wajah yang sulit tertebak.
"Eh ini siapa? Wajahnya tidak asing" Sejenak ia berbalik matapku, tatapannya seperti alat pemindai yang memerhatikan seksama dari ujung kaki hingga ujung kepala. Rautnya berubah berfikir keras seolah sendang mengingat-ngingat siapa diriku.
Baru saja aku hendak memperkenalkan diri, "Kamu tidak selingkuh kan sampai Kak Azka putusin kamu?" tapi kalimat wanita ini membuat ku seketika bungkam menahan amarah.
"Aku baik. Kenalkan, ini suami ku"
KAMU SEDANG MEMBACA
Musahabah Cinta
ChickLitPernah merasakan sakitnya patah hati? Seakan segalanya telah hancur? Tidak percaya lagi pada cinta? Itu yang saya rasakan saat itu. Namun, seiring berjalannya waktu, Tuhan menyadarkan saya. Ternyata memang benar sebuah ungkapan "Sekuat apapun kamu m...
