Remus, tubuhnya bergerak cepat, ia berjalan cepat melalui hutan. Dia mencari James. Manusia serigala itu berlari di depannya, berlari dengan kecepatan tinggi yang menurut Remus mustahil dilakukan oleh seseorang yang kekurangan gizi.
Tapi kehendak serigalanya lebih kuat daripada kelemahan tubuhnya. Remus gemetar saat mengingat ketakutan yang jelas ketika serigala itu mengoyak setiap penangkal yang telah mereka pasang dengan sangat hati-hati di sekeliling tanah terbuka itu. Dia tidak bisa melakukan apa pun selain membuntuti serigala itu.
Nyaris saja — sangat nyaris, dan terlampau nyaris sekali. James nyaris mencabik-cabik Harry dan Ron. Remus merasakan rentetan kejengkelan yang ditimbulkan rasa khawatir. Mereka bisa saja terbunuh! Mengapa mereka — mereka bertiga! — keluar malam ini? Satu — satu! — malam yang sangat berbahaya bagi mereka.
James telah mengoyak lapisan-lapisan penangkal yang kuat. Bill dan Remus menghabiskan sepanjang sore itu untuk memasangnya. Remus tidak pernah mengira bahwa James sekuat itu — sangat, sangat kuat. Dia lebih cepat dari yang Remus bayangkan, dan dia hampir membunuh semua orang.
Remus terus berjalan, mengikuti jejak manusia serigala yang terobsesi oleh rasa kebebasan kecilnya. Itu adalah kebebasan yang James sendiri masih cari. Dia belum menemukannya, terperangkap dalam celah-celah pikirannya sendiri.
James terkurung seperti di Malfoy Manor karena, sungguh, tak peduli di manapun dia berada atau siapapun yang ada di dekatnya, dia tidak pernah lepas dari kegelapan yang mengelilinginya seperti parit kastil. Itu membuatnya bingung, James bertindak seolah hanya itu yang dia tahu. Mungkin — dalam benaknya, tersiksa dan hancur — hanya itu yang dia tahu.
Remus ingin — sangat ingin — melihat James yang dulu di dalam dirinya.
Atau — bahkan berani dia berpikir seperti itu — dia berharap James mati. Karena dari cara dia hidup sekarang... tak ada seorang pun yang layak hidup seperti itu. Remus tidak akan berharap nasib itu terjadi pada siapa pun, bahkan musuh terburuknya.
Tapi mengapa dia mendapati dirinya berharap sahabat karibnya bertahan?
Sambil menyisihkan semak-semak yang agak banyak, Remus memperhatikan bahwa jejaknya melambat. Ini pasti saat bulan terbenam.
Benar saja, beberapa langkah di depan adalah James.
Dia bergumam sesekali dalam tidurnya, hampir bangun.
"Lily... A-aku merindukanmu..." Hampir segera setelah ia mendengar kata-kata itu, Remus berbalik sedikit. Ia selalu, ketika dia mengira James sudah mati, percaya bahwa setidaknya dia bersama Lily. Mereka, bersama selamanya, bisa mengatasinya setelah terpisah dengan begitu kejam dari teman-teman dan anak mereka. Dia akan bersama orang tuanya dan bersama Lily. James akan melihat Gideon dan Fabian lagi serta Marlene dan Mary.
Itulah satu hal yang selalu dia percayai. Sekarang, dia tahu dia salah. James telah disiksa, sendirian, selama bertahun-tahun, dan semua rasa sakit yang Remus rasakan, juga James rasakan, tetapi lebih buruk. Bahkan sekarang, jika apa yang dikatakan Harry benar, James tidak tahu bahwa Sirius sudah rujuk dengan Harry.
Hell, James tidak percaya Harry masih hidup, dan Remus tidak bisa menyalahkannya. Dia bertindak seolah-olah dia tersesat dalam labirin, sendirian, dan tidak dapat terus mencari. Meski begitu, dia terkadang tampak tenang.
Remus takut suatu hari dia akan mencapai ujungnya, hanya untuk menemukannya terkunci, dan dia tidak bisa keluar dari sana.
Tiba-tiba, James mengerang. Dia bangun.
"Lily... Apa kau ingat ketika Harry dilahirkan? Tentu saja kau ingat... Kau sangat bahagia. Kita semua bahagia. Sirius, kau, aku, dan P- d-dan Remus. Kita semua bertaruh apakah dia laki-laki atau perempuan."
James berhenti bergumam, matanya menatap ke hutan. Dia jelas tidak menyadari Remus.
"Sirius dan aku memutuskan bahwa dia perempuan. Kami tidak pernah mengatakan itu padamu, Lily. Kau akan membunuh kami untuk itu. We said that only a bitch could kick that much. Tapi... Remus... Remus bilang — dia bilang-"
"Bahwa hanya anak lelaki Potter yang tidak menghormati ibunya dan menyebabkannya sangat kesakitan."
James berbalik, matanya terbelalak.
"Kau..." dia berkata. "Kau — Remus — kau... Itu bukan kau! Dia bukan kau. Aku tidak tahu apa yang sedang kau mainkan, tetapi kau bukan-"
"Aku Remus, James. Aku Remus Lupin. Aku adalah manusia serigala yang mencegahmu mencabik orang lain tadi malam."
"Mengapa kau menghentikanku? Aku sudah menjadi pembunuh. Para Pelahap Maut itu meninggalkan mereka di sana saat bulan purnama, dan aku tidak bisa menahan diri... Aku membunuh mereka." Remus menggigit bibirnya. James melakukan apa yang dulu Remus lakukan. Dia harus memahami bahwa manusia serigala itu bukan dia. Manusia serigala itu adalah Moony di dalam dirinya. Di dalam James, Remus tidak tahu. Jelas itu bukan Prongs, tapi itu juga bukan James.
"Kau bukan pembunuh, James. Pembunuhnya adalah manusia serigala itu. Apa kau ingat ketika kau mengatakan hal yang sama padaku? Aku bukan serigala; Moony-lah serigalanya. Sama denganmu." James menatap mata Remus.
"Kau benar-benar percaya itu?" bisik James.
"Aku percaya," kata Remus pelan. "Dan kau percaya, juga. Kau mengatakan itu padaku, James. Ingat?"
"Yeah," bisik James. "Aku ingat, tapi aku tidak yakin ini nyata." Remus menelan ludah dengan susah payah. Itu adalah kemajuan, kemajuan yang baik, tapi dia tidak bisa menahan diri untuk berharap lebih. Mata James masih memiliki secercah dari apa yang telah ada, dan Remus menginginkannya kembali. Merlin, Remus menginginkannya kembali.
"Ini nyata, James. Ini nyata, dan kami juga. Aku, Bill, Harry — ya, dia nyata. Kami bukan pelahap maut, dan ini bukan tipuan. Tolong, percayalah," Remus berkata dengan ketenangan yang jelas tidak dia rasakan. James mengalihkan pandangannya ke tanah hutan. Remus menunggu, dan setelah satu menit, James mengangkat kepalanya lagi.
Saat dia mendongak, matanya lebih jernih, lebih terang. Mata itu lebih seperti mata James yang dulu, tetapi tidak sama.
"Aku ingin, tapi kurasa aku tidak bisa. Belum, tapi... Remus... terima kasih."
"Untuk apa?" bisik Remus. James memejamkan mata, dan tiba-tiba, ada air mata terbentuk di sudut-sudut matanya dan mengalir di pipinya.
"Untuk berusaha."
"Aku temanmu, James. Aku akan selalu berusaha," Remus bersumpah. Mengejutkannya, mata James terselubung dengan kesuraman sekali lagi.
"Itu tidak benar. Aku berpikir seperti itu, dulu sekali, dan aku gagal. Kau juga akan." Remus melangkah maju ke arah James dan memberanikan diri meletakkan tangan di bahunya. Secara mengejutkan, James tidak melepaskannya. Sebaliknya, dia tersenyum. Senyum kecil, tapi itu sesuatu — sesuatu yang besar.
"Bukan berarti aku tidak akan berusaha yang terbaik." Tiba-tiba James bersandar ke Remus dan isak tangis meledak keluar.
"Aku — aku mengatakan itu pada Lily. Aku berkata padanya bahwa aku akan melindunginya," dia berteriak dan menangis. "Kenapa aku tidak bisa, Remus?"
"Karena-" Remus sedikit goyah saat dia memeluk teman yang sudah lama tidak dia temui itu. "Karena kita semua diminta untuk mengikuti takdir. Lily mati agar Harry bisa hidup. Dia masih hidup, James."
"Lalu mengapa aku hidup! Mengapa aku tidak mati bersamanya?" James hampir menjerit, air mata mengalir keluar dari matanya.
"Kau hidup untuk membantu Harry, James, dan dia membutuhkannya. Bantu anakmu, James. Bergabunglah dengan Orde, dan kita bisa memenangkan perang ini. Ini belum berakhir, tidak selama Harry masih hidup!" James menarik wajahnya yang berlinangan air mata dari bahu Remus.
"Aku tidak akan bisa membantu. Aku bahkan tidak bisa menggunakan tongkat lagi. Aku bukan Prongs — Kau tahu bahwa manusia serigala tidak bisa menjadi Animagus."
"Bill mungkin bisa menghilangkan kutukan di lenganmu, James. Dan ada cara lain untuk membantu. Kau dapat memperoleh kembali rumah di mana kau tumbuh, dan kita dapat menggunakannya untuk Orde. Kami telah kehilangan Grimmauld Place. Harus ada tempat di mana kita semua bisa bertemu."
"Akan kulakukan," kata James. "Dan jika Bill bisa menyingkirkan benda di lenganku ini, aku juga akan bertarung."
KAMU SEDANG MEMBACA
In His Eyes | ✔
FanfictionKetika Harry, Ron, dan Hermione dibawa ke Malfoy Manor, sudah ada seorang pria di sana. Dia memiliki kebencian khusus terhadap Wormtail, dan dia mengaku telah ditangkap selama bertahun-tahun. Oh yeah, dan dia juga mengaku sebagai James Potter. Jelas...
