Setelah pertemuan di Ulang tahun Yujin, Wonyoung mulai dekat dengan Nako. Tak jarang saat weekend ia mengundang Nako kerumahnya. Maminya seneng dong ketemu Nako karena sama sama orang Jepang, tapi bagi si bungsu itu ngeselin karena pasti bakal ngomong pake bahasa Jepang. Kayak sekarang, Wonyoung sama Minju cuma bisa diem dengerin ocehan Mami mereka dengan Nako.
"Nyoung, si mami sama gebetan Lo ngobrol apaan sih?" Minju berbisik selagi memberi makan Husein, iguana jantan peliharaannya.
"Mana gue tahu, kak. Gue nggak terlalu fasih, cuma ngerti watashi, Kimi, Anata....."
"Harusnya sebagai bungsu Lo harus bisa bahasa Jepang dong."
"Kok gitu?"
"Yakan adil, si akang belajar Jepang, gue belajar Chinese, Lo dapet keduanya. Anak bungsu kan harus smart."
"Enak aja Wonyoung dikasih dua, dan diantara kita bertiga perasaan kak Minju deh yang rata rata ranking kelasnya rendah."
"Heh! Angkatan gue jauh lebih pinter anak anaknya daripada angkatan elo. Masih mending gue masuk 5 besar."
"Kebanyakan berteman sama si Murti sih."
"Murti jauh lebih pengertian daripada punya elo, Vicky si kelinci."
"Vicky gemesin tau daripada kadal nyeremin."
"Apaan kelinci hewan lemah kayak gitu"
"Plis deh kak, tarik nggak kata kata kakak sebelum si Husein gue kawinin sama biawak nya Mang Dadang."
"Kalian berdua apaan sih?! Bahas kawin kawin....apalagi kamu Wonyoung! Kamu itu masih SMP gak usah ngomong yang aneh aneh!" Kedua kakak beradik langsung diam seribu bahasa ketika mami mereka menegur. Wonyoung mengerucutkan bibirnya kesal dan memilih pergi ke kandang kelinci di pojok halaman rumah.
"Mami sih, ngambek kan dia."
"Lho kok mami yang salah?" Minju mengehela nafas sebelum melirik ke arah Nako sekilas untuk memberi petunjuk. Sana mengerutkan dahi sebelum mengerti apa yang dimaksud anak keduanya itu, senyum jahil mengambang cantik di wajahnya.
"Nako-chan, kenapa kamu tidak menghampiri Wonyoung?" Yang dipanggil menoleh kearah pemilik rumah, membalas senyum dan mengangguk, menyusul Wonyoung yang sibuk dengan kelinci peliharaannya.
Setelah kepergian gadis mungil itu, pasangan ibu-anak itu tersenyum kearah satu sama lain, berpikiran sama. sebelum teriakan anak sulung keluarga Chou memecah keheningan.
"CHOU MINJU! MURTI KABUR LAGI SAMA BIAWAKNYA MANG DADANG!!"
"Nyoung, ikut akang yuk. Lo gabut kan?"
Wonyoung yang gabut dan sedang memilah Milah channel tv pun, langsung berbinar saat mendengar ajakan akangnya. Tanpa babibu, ia langsung mengiyakan dan berlari ke kamar untuk mengambil jaket. Gara-gara pengumuman libur akibat KLB virus Corona, gabut deh dia. Rebahan udah, nonton tv gak bermutu, main hp gak ada yang menarik, kak Minju ikut Mami ke pasar, si papi masuk kerja, tinggal dia sama akangnya deh.
"Emangnya mau kemana, kang?" Wonyoung bertanya ketika Hyewon mengeluarkan motor dari garasi.
"Mau apelin calon kakak ipar kamu. Baik hati kan gue, Lo gue ajak. Siapa tahu adeknya Sakura di rumah..."
"YAUDAH YUK KANG! GASS CEPET!" Hyewon hampir menggulingkan motornya saat tiba tiba adeknya yang kelebihan tinggi itu melompat duduk ke jok motor. Cepat cepat ia memegang setir motor untuk menyeimbangkan. Untung aja kaki adeknya panjang, kalo nggak udah roboh mereka.
"Eh, bangsat! Mau jatuh ini woi!"
"Bjirr...giliran sama adeknya mbak kembang semangat bat."
Baru saja Hyewon menyalakan mesin, eh yang dari pasar datang. Minju mengerutkan dahi melihat kedua saudaranya sudah siap untuk pergi, ia membuka kaca helmnya dan mematikan mesin motor maticnya, tak lupa juga menurunkan beberapa belanjaan.
KAMU SEDANG MEMBACA
SEME BARU GEDE
De TodoMeet Chou Wonyoung, si bungsu keluarga Chou yang nggak kalah keren sama akang dan kakaknya. Dan ini cerita Wonyoung mengenai masa pubertas dan cinta pertamanya pada Hirai Nako yang lebih tua darinya.
