Nako mengayun kedua kakinya, melihat remaja-remaja memakai seragam yang sama dengannya lalu lalang di koridor. Saat ini istirahat jam kedua, Nako memilih duduk di bangku depan kelas sendirian.
"Jangan melamun, mbak. Nanti kemasukan berabe."
Nako menoleh ke arah sumber suara. Wonyoung berjalan menghampirinya dan langsung duduk di sampingnya. Ia mendengus kesal dan menyerahkan kotak makan warna pink bergambar Sailor Moon dengan kasar kepada kekasihnya yang lebih muda.
"Telat 5 menit doang elah..." Gumam Wonyoung dan menerima kotak bekal itu.
Semenjak Wonyoung satu sekolah dengan Nako dan sekolah sudah mengijinkan pembelajaran tatap muka, Wonyoung secara resmi menjadi tukang ojek pacarnya. Kemana pun Nako pergi, Wonyoung siap mengantar. Ke sekolah, perpus, cafe, kerkel, nge-mall, bahkan ke vihara pun Wonyoung bersedia.
Wonyoung membuka kotak makannya. Matanya berbinar melihat berbagai macam sushi yang warna-warni. Wonyoung memang sangat menyukai sushi buatan Nako, padahal rasanya tidak jauh beda dengan sushi yang dijual di resto Jepang dekat komplek rumahnya. Efek cinta mungkin. Ia mengambil satu potong, namun sebelum makanan itu mendarat di lidahnya, tangannya dipukul.
"Pakai hand sanitizer dulu, ihh!" Nako menyahut sushinya dan menaruhnya kembali ke kotak. Ia menuang beberapa tetes cairan bening wangi ke tangan kanan Wonyoung. Wonyoung tersenyum tipis dan menggosokkan kedua tangannya.
"Sudah. Makan ya."
"Eh! Berdoa dulu!" Wonyoung memejamkan matanya, menahan kesal dan lapar. Nako terkekeh melihat ekspresi kesal cewek tinggi itu sebelum mempersilahkannya untuk makan.
"Enak. Tapi lebih enak lagi kalau kamu yang nyuapin."
"Nggak usah ngarep." Senyum Wonyoung sirna dan kembali menghabiskan makanannya.
"Kamu nggak makan?" Wonyoung baru sadar Nako daritadi hanya menontonnya makan.
"Nggak. Lagi diet." Nako mengerucutkan bibirnya.
"Gausah diet. Nanti kalo pipi mu kempes kyut nya berkurang lho." Ucap Wonyoung dan menunjuk-nunjuk pipi chubby pacarnya.
"Biarin."
"Aku suapin nih. Aaaa~"
"Nggak usah--ehmm." Wonyoung berhasil memasukkan sushi dengan paksa ke dalam mulut mungil Nako. Ia tersenyum puas, menatap Nako dengan mata lebarnya.
"Oh ya, nanti aku ada sparring basket dan pasti kelarnya petang....kamu pulang naik ojol mau kan? Daripada kamu nunggu." Nako menelan sushinya dan membalas pertanyaan Wonyoung dengan anggukan.
"Gampang. Nanti bisa nebeng temen." Wonyoung tersenyum lebar, mengecup kepala Nako sekilas. Sedangkan Nako tidak tahu.....apa dampak yang terjadi pada jawabannya.
"Joyul~~ Nebeng yak?"
Nako mencegat Yuri di depan pintu kelasnya. Yuri mengerutkan dahi sebelum matanya melirik ke sana kemari, mencari sosok cewek tinggi yang biasanya setia di samping teman pendeknya ini.
"Lah ojek Lo mana?" Mendengarnya, Nako hanya cemberut. Tangannya bermain dengan ujung roknya.
"Ada ekstra basket." Yuri menganggukkan kepalanya mengerti dan mengajak Nako ke parkiran, menuju motor matic Honda Scoopy warna merah. Hadiah ulang tahun sweet seventeen nya dari Yena tahun lalu.
Keduanya berjalan di melewati koridor, yang di sebelah barat berbatasan dengan lapangan basket. Nako menoleh ke arah lapangan, niatnya ingin melihat tampilan kekasihnya dalam jersey tim sekolah. Namun, tidak menemukan sosok Wonyoung di sudut mana pun.
KAMU SEDANG MEMBACA
SEME BARU GEDE
De TodoMeet Chou Wonyoung, si bungsu keluarga Chou yang nggak kalah keren sama akang dan kakaknya. Dan ini cerita Wonyoung mengenai masa pubertas dan cinta pertamanya pada Hirai Nako yang lebih tua darinya.
