"Wonyoung, Bangun! Wonyoung..."
"5 menit lagi, Nako sayang."
"BANGSAT! CHOU WONYOUNG BANGUN ANJING! UDAH JAM 8!"
Minju mendorong adiknya sampe jatuh dari kasur setelah kaget mendengar Wonyoung mengigau pada tidurnya. Dia memandang adik perempuannya dengan geli, kerasukan apa tu bocah manggil sayang.
"Aduh! Fuck! Ternyata cuma mimpi bangsat! Kak Minju sih! Ganggu mimpi indah aja!" Wonyoung mengacak-acak rambutnya sebelum berdiri dan kembali ke kasurnya.
"Lo ngatain gue?! Gue aduin Mami nih biar mulut lo dijahit mampus!" Wonyoung langsung kembali berdiri dan ngegas ke kamar mandi.
"Nggak kok, kak! Ini cuma sakit aja. Mending kakak kebawah aja dulu. Nanti gue nyusul." Minju melipat tangannya di depan dadanya, memutar bola matanya kesal sebelum memutuskan untuk keluar dari kamar Wonyoung yang didominasi warna ungu.
Dibawah ia menjumpai Hyewon sedang duduk di depan tv dengan Murti di pangkuannya dan Husein di bahunya. Murti yang menyadari keberadaan pemiliknya langsung terbangun dan menghampiri Minju dengan girang. Minju pun mengangkat Salamander peliharaannya dan menggendongnya.
"Adik lo ketularan siapa sih, kang? Alay banget sekarang dia." Hyewon menoleh ke arah Minju yang sekarang duduk di sebelahnya.
"Napa emang?"
"Masa si Wonyoung manggil gue Nako sayang? Mana bibirnya manyun manyun lagi. Geli anjir liatnya." Hyewon tertawa keras sampai air matanya keluar.
"Beneran?" Cewek gamers itu menyeka air matanya dan bersusah-payah menahan tawa. Minju mengangguk menjawab pertanyaannya.
"Udah Lo cek belum sprei nya basah apa kagak?"
"Gue nggak sempet."
"Dia tidur pake celana apa tinggal boxer doang?"
"Pake boxer sih kayaknya..."
"Palingan dia mimpi basah." Minju menatap kakaknya tidak percaya.
"Emang Wonyoung udah waktunya?"
"Pastinya lah. Badan dia gede gitu, plus dia sekarang udah punya seseorang yang dia suka."
Dan yang dibicarakan datang. Wonyoung memutuskan ikut bergabung dengan kedua saudaranya dan duduk di karpet. Matanya menatap Minju dengan tidak enak.
"Apa lo liat-liat?" Minju melototi Wonyoung yang langsung mencari perlindungan di kakak sulungnya.
"Kang, masa Kak Minju dorong gue sampe jatuh? Mana dikatain lagi."
"Gue awalnya bangunin Lo dengan halus ya! Gue udah nepuk pipi lo berkali-kali, tapi lo tau lo ngomong apa?" Minju menunjuk-nunjuk dahi Wonyoung yang berkilau.
"Emang gue ngomong apa?"
"Lo manggil gue Nako sayang, bangke!" Minju mendorong dahi Wonyoung keras sampe adiknya itu hampir tersungkur, Wonyoung langsung cemberut dan mengelus-elus dahinya. Hyewon tertawa melihat keduanya sampe perutnya hampir kram.
"Lo mimpi basah ya?" Pertanyaan tiba-tiba dari Hyewon membuat wajah Wonyoung merah padam.
"Ng-nggak kok!"
"Alah-alah, terus sprei yang sekarang dibawa Mang Dadang itu spreinya siapa?" Ketiganya menoleh ke arah Mang Dadang yang membawa sprei dan selimut Pikachu yang mereka sangat kenal punya siapa.
"Buktinya tuh, ada sprei Pikachu lo. Masih mau bohong?" Minju memutar bola matanya malas.
"Kak Minju kalo nggak suka sama Wonyoung bilang, dari tadi kok ngomel-ngomel nggak jelas mulu." Wonyoung berdiri dari tempat duduknya dan pergi ke dapur mencari makanan untuk sarapan.
KAMU SEDANG MEMBACA
SEME BARU GEDE
De TodoMeet Chou Wonyoung, si bungsu keluarga Chou yang nggak kalah keren sama akang dan kakaknya. Dan ini cerita Wonyoung mengenai masa pubertas dan cinta pertamanya pada Hirai Nako yang lebih tua darinya.
