Chapter 10

129 14 0
                                        

Apa yang akan terjadi ? Luna ingin tahu.

Mereka berbincang layaknya pasangan yang masih dimabuk cinta. Sesekali tertawa lalu tidak berapa lama mereka kembali serius. Mereka berjodoh tapi kenapa benang merah mereka pudar ? Tiba-tiba Luna teringat Dirga. Mungkinkah ini juga yang akan terjadi padanya dan Dirga ?

Luna takut.

“Dek ?”

“Dek ? Udah selesai.”

Luna mendongak dengan tatapan gelisah ketika pundaknya ditepuk.

“Lo kenapa ?” tanya Bayu mengenyitkan dahi.

Secepat mungkin Luna menggeleng.

“Ayo pulang.”

Bukannya berdiri, Luna kembali memperhatikan suami istri itu. Sekarang suaminya mendapat giliran untuk diperiksa. Yang Luna lihat, wajah suaminya cukup takut ketika ia mulai melangkah menuju ruangan.

“Luna!”

“I.. Iya, ayo.”

Rasa penasaran Luna belum terjawab namun Bayu sudah mendesaknya pulang. Mau tidak mau, Luna berdiri. Langkahnya benar-benar berat. Belum berapa langkah, teriakan kaget menghentikan Luna. Ia berbalik cepat sementara Bayu sudah lebih dulu berlari ke tempat sebelumnya.

Dengan ragu Luna menghampiri kerumunan orang duduk dilantai. Jantung Luna memompang cepat saat matanya melihat laki-laki paruh baya yang sedari tadi ia perhatikan terkapar dilantai. Istrinya menangis dan meminta orang-orang segera membawanya. Luna menutup mulut dengan kedua tangannya, pekikannya hampir lolos melihat benang merah suami istri itu menghilang.

Tubuh Luna lemas seketika, bahkan kakinya tidak sanggup menopang tubuh kecilnya. Luna tidak tahu apa yang terjadi selanjutnya, pandangannya kabur karena genangan air mata dan kepalanya kosong. Sejak kapan ia duduk di kursi ? Luna menunduk dan memandang kedua tangan yang berada di pangkuannya.

***

“Kak, bapak-bapak yang tadi gimana ?”

Walaupun belum siap menerima kabar buruk yang bisa saja terjadi. Luna tidak punya pilihan lain. Ia menatap keluar jendela sementara Bayu fokus menyetir.

“Serangan jantung Lun, bapaknya nggak bisa diselametin.”

Luna bungkam. Apa ini yang juga akan terjadi padanya ?

“Dari tadi kok diem aja ? Kaget yah karena kejadian tadi ?”

Luna menganggu sembari menghela napas panjang. Air matanya kembali ingin menerobos keluar, tapi sebisa mungkin Luna tahan.

“Seharusnya gue nggak ngajak lo.”

Tidak. Ini lebih baik. Luna akhirnya tahu jawaban yang selama ini ia cari. Lalu apa ? Tidak mungkin Luna mengatakan hal ini pada Dirga. Salah satu diantara kita akan mati! Apa yang akan laki-laki itu pikirkan tentangnya.

“Nggak apa-apa kok kak.” ucap Luna lemas.

“Kasian istrinya, kayak nggak rela suaminya pergi.”

“Itu kan mendadak kak, wajar.” kata Luna pelan.

“Iya sih.”

“Kak, kalo aku serangan jantung juga gimana ?”

“Apaan sih ngaco, orang lo nggakpunya penyakit jantung.”

Bukan serangan jantung. Mungkin dengan cara lain, yang Luna tidak bisa tebak.

***

Luna melirik layar ponsel yang tergeletak di samping kepalanya. Pelan-pelan Luna duduk dan membuka pesan Whatsapp yang masuk. Kepalanya sedikit karena menangis cukup lama dan melewatkan makan malam. Nafsu makannya hilang.

“Besok, kamu sibuk nggak ?”

Luna tersenyum namun segera mengulum bibirnya ketika air matanya tiba-tiba jatuh. Ia tidak kuat jika mengingat wajah Dirga. Laki-laki itu tidak tahu apa-apa dan menikmati masa-masa yang sebenarnya akan segera berakhir.

“Nggak, mau ngajak jalan ? Hehee..”

“Tau banget. Maukan ?”

Seharusnya Luna menghabiskan waktu lebih lama. Kalau saja dulu, begitu tahu siapa jodohnya Luna harusnya bergerak cepat. Tanpa peduli siapa yang Dirga sukai. Luna menyesal. Rasa sabarnya sama sekali tidak menguntungkan.

“Mau kak.” balas Luna.

Yang bisa ia lakukan saat ini hanyalah memanfaatkan waktu sebaik mungkin. Mengukir kisah menyenangkan dan indah bersama jodohnya, membahagiakan orang tua dan kakaknya dan membalas kebaikan Candra sahabatnya.

TBC

Udah bilang nggak sih kalo ini sad ending ? Lupa juga gua.
Yah sblm kalian ngerasa kecewa duluan, mending gue samperin dluan hehee:D
Sisa 1 part dan epilog.

A Mate For A Moment [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang