Epilog

51.1K 10.2K 5.7K
                                        

"Hai Jeno, apa kabar? Maaf, gue lama gak berkunjung kesini. Ada banyak hal yang harus gue urus."

Soobin terkekeh pelan, namun senyumannya begitu pedih untuk ditunjukkan. Ah, bahkan hatinya juga terasa sakit.

"Semua udah selesai. Jinyoung dan Yoonbin udah pulih, mereka udah masuk sekolah seperti biasa. Renjun dirawat di rumah sakit setelah melakukan operasi karena beberapa tulang rusuknya patah. Kalau yang lain-"

Soobin diam sejenak. Terlalu sulit unuk mengatakannya.

"-mereka udah tiada. Yonghee, Sanha, Jaemin, Jisung, Seungmin, Felix, Jihoon, Junkyu, Hyunjoon, dan Sunwoo."

Perlahan, tangan Soobin terangkat untuk menepuk pundak Jeno. "Jen, kapan lo bangun? Gue berharap lo baik-baik aja, begitu juga dengan ingatan lo."

Tak ada jawaban. Berada disana membuat hati Soobin terasa sesak. Oleh karena itu, dia memilih keluar dari ruangan tempat dimana Jeno dirawat dan menghampiri teman-temannya.

"Jeno udah bangun?" Tanya Yoonbin, Soobin membalasnya dengan gelengan.

"Kalau Haechan... ada kabar tentang dia?"

Semuanya diam, tak menjawab pertanyaan Soobin.

Semenjak kejadian dimana Haechan membunuh Sunwoo, pemuda itu langsung menghilang ketika Hyunjin hendak berterima kasih padanya.

Sampai sekarang, tidak diketahui dimana keberadaannya. Tapi, Soobin sempat mendengar Haechan mengatakan sesuatu ketika berada di rumahnya.

"Bin, hari ini adalah hari dimana kita terakhir bertemu. Jangan lupain gue ya."

"Jinyoung, Hyunjin kemana?"

"Pergi ke makam Jisung. Jangan ganggu dia dulu."

"Kalo gitu, kita kesana aja. Besok kan sekolah, gue takut kita gak ada waktu buat kesana," ajak Soobin.

Yoonbin dan Jinyoung mengangguk setuju. Kemudian mereka pun meninggalkan ruang rawat Jeno menuju kesana.

Tanpa mereka ketahui, jari-jemari Jebo bergerak, dan kedua matanya pun terbuka.




















































"Kok mereka cuma bertiga?"

"Denger-denger sih yang lain meninggal."

"Hah? Kasus pembunuhan yang 'itu'?"

"Iya, kasian banget ya mereka. Dari berenam belas jadi bertiga."

Sebenarnya Yoonbin hendak memaki orang-orang yang menjadikan mereka bahan gosip. Telinganya panas mendengar itu semua. Tapi Jinyoung langsung melarangnya, Yoonbin kalau sudah marah tidak pernah bisa dianggap remeh.

"Gue kangen kita yang dulu," ucap Soobin tiba-tiba. "Sekarang rasanya hampa. Gue kangen mereka."

"Masa lalu, biarlah masa lalu," celetuk Jinyoung bercanda.

Sontak hal tersebut membuat Yoonbin dan Soobin terkejut.

"WOI LAH, JINYOUNG BISA BERCANDA?! KEAJAIBAN DUNIA WOI!"

Jinyoung mendengus. Astaga, dia jadi menyesal mengatakan hal tadi. Kalau dia manusia, pasti wajahnya sudah memerah karena malu.

"Mau ke kelasnya Hyunjin, gak? Kasian dia sendirian," tawar Yoonbin.

"Ya udah, tapi jangan lama-lama, ya. Sebentar lagi bel."

"Iya, Jinyoung."

"Ehm, permisi."

Baru saja mereka berjalan, mereka dihentikan dengan suara seseorang dari arah belakang. Mereka terkejut, sangat terkejut.

"Haechan?!"

Pemuda yang menjadi sasaran seruan kaget tersebut kebingungan. "Maaf, kok kalian tau nama saya?"

Jinyoung menatap pemuda mirip Haechan itu dari atas sampai bawah, lalu kembali ke atas. Benar-benar mirip Haechan.

"Mau minta tolong apa?" Tanya Jinyoung to the point.

"Itu, saya murid baru disini, kelas 10 ips 1. Bisa anterin saya kesana, gak?"

"Oh, ya udah," jawab Jinyoung cuek lalu memimpin jalan. Yoonbin bingung, akhirnya dia memutuskan untuk mengekori, meninggalkan Soobin yang masih mencerna semuanya.

"Kok rasanya ada yang aneh, ya?"

Dengan bingung, dia menatap pemuda mirip Haechan itu. Namun apa yang terjadi, pemuda itu menoleh padanya sambil mengedipkan mata jahil.

Soobin terbelalak. Pemuda mirip Haechan itu terkikik iseng lalu menghadap ke depan. Senyum Soobin perlahan merekah, kemudian berlari menyusul mereka.

"Kok gue ditinggalin, sih?!"

"Apaan sih, Bin!"

Tawa mereka pecah. Kemudian saling kejar-kejaran setelah Haechan mengaku kalau dia memanglah Haechan.

Perkataan Jinyoung ada benarnya. Masa lalu biarlah berlalu. Dan sekarang, adalah saatnya memulai yang baru. Memulai semuanya dari awal, tanpa ada perpecahan dan rasa saling curiga.

Membangun persahabatan, yang akan bertahan sampai akhir hayat mereka nanti.



Fin

Dead or Kill | 00 Line ✓Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang