Soobin lelah. Seharian dia membersihkan halaman belakang sekolah karena ketahuan membawa rokok di tasnya saat razia tadi.
Padahal bukan dia yang membawanya, dia sendiri bingung kenapa ada tiga bungkus rokok di dalam tasnya.
Namun setelah dicari tahu, ternyata rokok tersebut adalah milik Yunseong beserta antek-anteknya. Mereka sengaja menaruh rokok mereka di dalam tas Soobin agar mereka terhindar dari hukuman.
Ck, untung Soobin sabar.
"Aduh, masih banyak banget daunnya," gumamnya sambil menyeka keringat di dahinya.
"Ayo, lo harus semangat biar cepet selesai!"
Soobin pun melanjutkan aktivitasnya menyapu daun kering di sekitarnya. Melihat tumpukan daun kering di dekat semak-semak, dia mendengus sebal.
"Siapa coba yang taruh daun disana."
Dengan langkah gontai dia berjalan ke arah tumpukan daun tersebut untuk disapu dan dibuang. Tapi saat disapu, dia merasa ada benda keras di bawah tumpukan daun tersebut.
Dia penasaran, ada batunya apa gimana?
Dia terus menyapunya, tak peduli kalau daunnya berserakan. Dia hanya ingin tahu apa yang ada di dalam tumpukan daun tersebut.
Saat tumpukan daun tersebut sudah terbuka, Soobin menganga tak percaya. Sapu ditangannya jatuh ke tanah.
Mayat Jaemin terpampang jelas di depannya dengan mata melotot lebar, sebelum akhirnya berubah menjadi abu dan hilang karena tertiup angin.
Ting!
Vampire pertama sudah tewas! Sekarang saatnya orang kedua, ya. Cluenya dia pendiam, dingin, dan berambut hitam. Selamat mencari ^^
Pesan yang baru saja dia baca itu membuatnya mematung. Dia mulai mengerti jalan permainannya. Pemain dalam permainannya adalah teman-temannya sendiri.
Otomatis siapa yang dimaksud dalam permainan adalah salah satu di antara mereka atau bisa jadi lebih dari satu.
Tapi tunggu sebentar, yang dimaksud masih seputar vampire, tapi dia dingin, pendiam, dan berambut hitam.
Mungkinkah di antara Hwall dan Jinyoung? Atau mungkin Hyunjin, karena dia berambut hitam.
Ah, Soobin pusing memikirkannya.
"Sung, lo yang bunuh Jaemin? Lo apain dia?" Tanya Haechan penasaran.
"Gue racunin pake ramuan bawang," jawab Jisung sesantai mungkin. "Bodo amat kalo dia temen gue, gue masih mau hidup, bro."
"Anjay, bagus juga cara lo. Tapi lo yakin dia gak bakal hidup lagi?"
Jisung mengangguk. "Yakin 100%, kalaupun hidup lagi tinggal dikasih bawang," katanya acuh tak acuh.
Haechan bertepuk tangan dengan hebohnya. "Pinter banget sih lo, salut gue punya temen kayak lo."
"Han Jisung gitu loh." Jisung menepuk dadanya dengan bangga. "Btw, udah baca e-mail belom?"
"Udah, katanya masih ada vampire di sekolah ini. Tapi, gue curiga sama Jinyoung. Dia pendiem, dingin, terus rambutnya hitam. Terus dia pucat gitu, kan?" Cerocos Haechan antusias.
"Nah, sepemikiran kita Chan! Terus kita gak pernah liat dia makan, kan?"
"Betul itu, lo siapin ramuan bawang buatan lo. Nanti biar gue yang kasih."
"Oke deh!"
Seseorang yang sejak tadi menguping pembicaraan Haechan dan Jisung segera pergi dari sana setelah memastikan tidak ada orang yang mencurigai dirinya.
Lalu, dia masuk ke dalam gudang dan menutup pintunya. Kemudian, dia merogoh saku celana untuk mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.
"Gue tau siapa yang bikin Jaemin mati," katanya ketika panggilannya diangkat.
"Secepat itu? Gila, emang siapa?"
"Han Jisung, temen deketnya Hyunjin."
"Ck, ternyata dugaan gue bener. Terus dia mau diapain?"
"Kita gak boleh gegabah. Dia temen deketnya Hyunjin, lo sendiri tau gimana ganasnya Hyunjin kalo marah. Kita bisa sakit berbulan-bulan."
"Ya udah kalo gitu, kita harus hati-hati di deket dia. Btw, gue tutup panggilannya, Sanha lagi jalan ke arah gue."
"Oke."
Setelah panggilan telepon berakhir. Dia menyimpan ponselnya di saku celana. Lalu tersenyum penuh arti dengan bola mata yang berubah menjadi merah menyala dalam beberapa detik, setelah itu kembali normal.
"Lo pikir lo bisa musnahin vampire-vampire yang ada di sekolah ini. Gue tau lo jenius, Han Jisung. Tapi sayangnya, gue lebih jenius dari penyihir kayak lo."
