{ negentien }

41.7K 10.1K 4.9K
                                        

"Lia!"

Gadis dengan rambut ponytailnya menoleh ketika Soobin memanggilnya. Senyumnya pun merekah, akhirnya orang yang ditunggu telah datang.

"Halo Soobin! Lama banget sih, aku sampe ditinggal sama Yeji," sapanya setengah cemberut.

Soobin tertawa kecil seraya mengusak rambut Lia dengan gemas. "Maaf ya, tadi aku ke toilet dulu. Biasa lah, ngaca dulu, ngecek masih ganteng atau enggak."

Mereka sudah bersahabat sejak kecil. Mereka juga menggunakan aku-kamu jika berdua saja. Soalnya Soobin tidak mau diledekin teman-temannya.

"Jadi, kamu mau bahas tentang apa nih?" Tanya Lia sambil bertopang dagu.

"Lia, kamu kan udah balik ke masa yang sebelumnya dan kamu udah liat siapa yang rencanain permainan itu. Kamu belum kasih tau aku siapa orangnya."

"Ehm, jujur ya, Bin," ucap Lia serius. "Aku gak liat wajah orang itu. Aku yang dalam posisi sembunyi gak bisa asal gerak, kalau enggak nanti aku ketahuan. Pokoknya, ciri-ciri orang itu ada di antara temen-temen deket kamu."

"Ciri-cirinya gimana?"

"Dia termasuk orang yang pinter, terus-"

"Kasih tau ciri-ciri yang lebih spesifik, please." Soobin memutar bola matanya jengah.

"Oke. Rambutnya cokelat, senyumnya manis banget, yang pasti dia lebih pendek dari kamu."

Setelah selesai menjelaskan, Lia terlihat khawatir. "Dia bener-bener gak terduga, aku minta kamu hati-hati ya. Aku gak bisa kasih tau kamu lebih lanjut karena aku ngerasa ada yang ngawasin kita. Maaf ya."

"Gak apa-apa. Makasih ya, Lia. Kamu hati-hati juga, kalo ada yang tanya aneh-aneh ke kamu jangan dijawab, ya. Aku takut kamu kenapa-napa," balas Soobin seraya tersenyum dan menunjukkan dimplenya.

Soobin akan pergi, namun Lia segera memegang tangannya.

"Soobin, kamu beneran manusia, kan?" Tanya Lia ragu. "Maaf, aku cuma takut."

"Kamu mau aku jujur?"

Lia mengangguk kaku. "I-iya, kamu manusia, kan?"

"Aku alien," jawab Soobin sambil menyibakkan rambutnya ke belakang. Lia terkejut, matanya membulat saking tidak percayanya.

"S-serius?"

"Iya, aku ini alien. Alien paling ganteng yang pernah ada." Soobin menaik-turunkan alisnya.

"Tujuan kamu ke bumi apa?" Tanya Lia dengan tatapan polosnya.

Soobin tertawa. "Aku pengen mendarat ke suatu tempat."

"Mendarat dimana?

"Aku pengen mendarat di hati kamu."
















































Bukan Jeno namanya kalau tidak teguh pendirian. Keputusannya sudah bulat, dia tidak akan tinggal diam. Dia akan mencari siapa yang dimaksud dalam game dan membunuhnya.

Tak peduli kalau orang itu adalah temannya sendiri, Jeno tidak bisa membendung rasa sabarnya lagi.

Saat ini dia menunggu seseorang di gerbang sekolah. Sebelum melakukan tujuannya, dia ingin berbicara empat mata dengan pemuda dengan tahi lalat di bawah matanya yang kini berjalan menghampirinya.

"Lo mau ngomong apa?" Tanya Hyunjin tak ingin basa-basi.

"Lo tahu siapa yang bukan manusia?"

Tebakan Hyunjin benar, dia sudah menduga kalau Jeno akan bertanya hal itu padanya. Jujur saja, dia berusaha mati-matian menahan dirinya agar tidak salah bicara.

"Gue gak tau, kenapa lo tanya ke gue?" Dia pun balas bertanya, Jeno mencebikkan bibirnya.

"Karena gue curiga sama lo. Bulan Maret, bulan lahir lo, kan?"

Bibir Hyunjin terkatup rapat, wajahnya berubah kebas. Jeno menyeringai tipis melihatnya.

"Ah, jadi gue bener, ya?" Jeno mengangguk-anggukkan kepalanya. "Jadi, lo ini apa?"

"Manusia," jawab Hyunjin tegas. "Lo egois, sorry," katanya selanjutnya, membuat Jeno mengernyit bingung.

"Lo berambisi bunuh orang lain yang lo tahu sendiri selalu ada buat lo. Dia gak khianatin lo, tapi lo akan. Lo tau, gue tau pemikiran licik lo yang berniat bunuh Jinyoung malam itu."

Jeno sedikit terhuyung ke belakang karena Hyunjin mendorongnya. "Lo tau Jinyoung dan Junkyu ada dimana?" Tanya Hyunjin.

Jeno tak menjawab.

"Mereka disekap di rumah temen lo sendiri," ucap Hyunjin final, lalu pergi meninggalkan Jeno sendirian, yang tidak percaya dengan ucapannya.













































Yonghee mengintip ke dalam rumah yang pemiliknya sedang pergi entah kemana. Berkali-kali ia menoleh kesana-kemari karena waspada akan bahaya.

Rumah besar yang kini ia pijak benar-benar sepi, membuat segala hal buruk muncul di benaknya. Tak hanya itu, dia juga berpikir kalau ada banyak jebakan yang ada di rumah ini.

Rumah ini adalah rumah seorang pemburu. Pemburu werewolf, vampire, penyihir, dan makhluk lainnya demi uang.

Yonghee tahu siapa yang menempati rumah ini. Asal kalian tahu, selama tiga bulan Yonghee tidak keluar kota. Dia mengawasi pemilik rumah ini diam-diam. Untungnya si pemilik rumah tidak sadar.

"Yonghee?"

Yonghee terlonjak kaget sampai hampir terjungkal. Tangannya refleks memegang dinding dan menopang tubuhnya.

"Lo ngapain disini?" Tanya Hyunjoon dengan tatapan bingungnya. "Ini rumah siapa?"

Yonghee berdeham sebentar lalu bicara. "Lo sendiri ngapain disini?"

"Gue gak sengaja lewat dan liat lo kayak maling disini," jawab Hyunjoon. "By the way, kok bau bawang ya?"

"Gue juga cium bau bawang dari tadi, gue yakin ada sesuatu di dalam rumah ini. Bawang disini terlalu banyak, orang normal gak mungkin simpan bawang sebanyak ini, kecuali dia petani bawang."

"Lo mau masuk, gak?"

"Maaf Hyunjoon, gue gak-"

"TOLONG! SIAPAPUN TOLONG!"

Teriakan panik yang entah berasal dari mana membuat mereka berdua panik. Tanpa basa-basi lagi, mereka berdua pergi dengan cepat ke sumber suara.

Mereka tidak tahu, kalau seseorang tertawa senang dari dalam rumah. Dan di sampingnya, ada teman mereka yang sedang dicari-cari semua orang.

Kim Junkyu.

Dead or Kill | 00 Line ✓Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang