"Junkyu, si Yoonbin kemana?" Tanya Jihoon sambil celingak-celinguk mencari temannya yang tidak kelihatan batang hidungnya sejak tadi.
"Bolos mungkin," jawab Junkyu asal sambil meraut pensilnya.
"Gak mungkin. Walaupun dia orangnya susah diatur, dia gak pernah mau yang namanya bolos."
"Nah itu tau."
Jihoon mendengus. Jika bukan karena Hwall yang menyuruhnya mencari Yoonbin, mana mau dia membuang-buang waktunya.
"Daripada lo gabut begitu, mending lo temenin gue nyari werewolf yang dimaksud. Daripada mati, mending werewolfnya yang mati," ajak Junkyu seraya berdiri dari duduknya.
"Maaf nih, bukannya gue takut, gue gak mau bunuh temen gue sendiri."
"Maksud lo?"
"Gue takut kalo werewolf yang dimaksud itu temen kita sendiri. Cluenya pirang, temen kita yang rambutnya pirang banyak."
Benar juga. Terus mereka harus bagaimana? Tidak mungkin kan kalau mereka menyelidiki teman-temannya satu-persatu? Itu membuang-buang waktu.
"Eh, gue ada ide," kata Jihoon tiba-tiba.
"Apaan?" Junkyu yang penasaran mendekat.
"Gimana kalo kita bikin acara besok malem. Besok malem bulan purnama, kan? Kita liat yang gak bisa dateng, dengan begitu kita tau siapa werewolfnya, kan?"
Junkyu tersenyum lebar sambil mengangguk-angguk. "Ide lo bagus juga, Hoon. Oke lah, nanti gue umumin di grup."
"Ide apaan yang kalian maksud?"
Suara berat seseorang mengagetkan mereka. Begitu menoleh, ternyata suara tersebut merupakan suara Felix yang kini menatap mereka dengan tatapan mengintimidasi.
"Kalian mau ngerencanain apaan?"
"Eng-enggak, itu loh, Lix. Kita kan udah lama gak kumpul, besok gue sama Jihoon mau ngadain acara, lo ajak temen terdekat lo, sekalian nambah temen," bohong Junkyu.
Felix memicingkan mata curiga. Jihoon dan Junkyu sampai menahan nafas karenanya.
"Oke deh, nanti gue ajak temen gue. Tapi acaranya jam berapa?"
"Karena besok hari sabtu, gue bakal ngadain acaranya jam 10 malem sampe jam 3 pagi. Gimana, setuju gak?"
Entah hanya perasaan mereka saja, raut wajah Felix berubah drastis, menjadi datar tanpa ekspresi.
"Gue tau maksud kalian apa." Felix tersenyum miring. "Tapi lo salah mengambil waktu, Jihoon. Werewolf bakal berubah gak terkendali di malam bulan purnama. Lo bikin acara besok sama aja mancing ajal lo untuk mendekat."
"Eh???"
"Gue cuma mau bilang, be carefull. Kita gak tau siapa yang bakal marah karena diundang ke acara lo besok, kan?"
Jihoon dan Junkyu bergidik ngeri. Kemudian mengangguk kaku membalas perkataan Felix.
"Bagus, sekarang gue mau ke kantin dulu, ya. Hati-hati ada yang nguping."
Ohh, ada yang nguping ternyata.
Sunwoo menyesap kopinya, dengan wajah ala-ala bangsawan yang sedang meminum kopi di acara makan malam bersama bangsawan lainnya.
"Tuan Haechan, apakah anda tahu kalau wilayah bagian Selatan adalah wilayah terbesar di negara saya?"
"Ohhh saya tentu saja tau, tuan Sunwoo. Siapa yang tidak mengenal anda, tuan yang kaya raya," balas Haechan sambil tertawa renyah.
"Kaya raya? Lebih kaya gue daripada Sunwoo," sela Sanha yang langsung merecoki drama yang sedang diperankan oleh dua manusia bobrok tersebut.
"Ya elah, rusuh lo, San!"
Sanha nyengir aja dimarahin sama Haechan yang ngamuk sambil melempar kotak pensilnya.
"Tau nih, tadi tuh udah bagus. Besok kita tampil buat ambil nilai," sahut Sunwoo yang sama kesalnya dengan Haechan.
Sanha cemberut. "Ya maaf, gue gabut tau. Main apa gitu yuk," ajaknya, lebih tepatnya merengek.
"Sorry San, kita sibuk. Ajak yang lain aja," balas Haechan.
"Yah, ya udah lah gue main ke kelasnya Jaemin aja."
"Ya udah sana."
Sanha mendengus. Dengan kesal dia pergi menuju kelas Jaemin yang ada di samping kelasnya.
Dengan tidak santainya Sanha membuka pintu hingga suaranya terdengar sangat keras, kemudian dia berteriak lantang.
"Jaemin, Sanha yang ganteng ini da── WOI ITU MAYAT SIAPA?!"
KAMU SEDANG MEMBACA
Dead or Kill | 00 Line ✓
Fantasia❝Gue cuma kasih dua pilihan, mati atau bunuh?❞
