Chapter 7

16 2 0
                                    

Happy reading
Jangan lupa vote ya





¤¤¤

"Apa iya gue suka sama dia?tanyanya dalam hati.
"Ah gamungkin lah"jawabnya sendiri.

"Eh baek-baek lo ntar kesambet"ujar Amanda.

"Ih apaan sih".

Tingggg

Handpone Dhira berbunyi menandakan ada notifikasi yang masuk, ia pun melihat siapa yang mengirimkannya pesan.Belum saja Dhira membuka pesan itu dia mengernyit bingung pasalnya yang memberinya pesan adalah cowok yang benar-benar mengganggu pikirannya.

Aldi

Lo dimana? Dah nyampe rumah atau belum?

"sok perhatian banget nih anak"batinnya.

Ursannya sm lo ap?

Ya elah jangan sok dingin sama gue
Ntar jatuh cinta lagi:)

Pd bngt sih lo jd orng

Orang ganteng mah bebas

SETERAH

Sans aja kali gausah ngegas

Mau lo ap sih

Gue mau lo jadi milik gue.

Deggg

"ini mimpi gak sih"batinnya.

"Turun kali dah sampe juga"cibir Amanda.

"H-hah dah sampe ya"tanyanya.

"Lo kok aneh gini sih Dhir"tanyanya balik.

"H-ha aneh gimana?".

" Lo perasaan dari tadi diam aja".

"P-perasaan lo aja kali,yaudah gue duluan ya lo hati-hati"ucapnya terbata sembari keluar dari mobil Amanda.

"Aneh"gumamnya dan berlalu dari kediaman Dhira.

"Assalamualaikum" ucapnya dengan nada pelan dan lembut.

"Tumben banget lo biasanya juga teriak kaya tarzan"cibir Rafa.

"Bukannya dijawab malah ngatain"ketusnya.

"Waalaikumsalam adekku yang cantikkk"ucapnya dramatis.

"Semerdeka lo"malas berdebat dengan abangnya dia memilih untuk merebahkan dirinya di kamar.

"kenapa dah dia? "gumamnya.

Entah kenapa Dhira merasa ada yang aneh dengan dirinya.Semenjak dia ketemu sama Aldi dia merasa nyaman didekatnya. Entah hanya perasaan nya saja atau pun memang benar adanya.

"gak,gamungkin gue suka samanya.gamungkin"batinnya.

Cklekk

"Ayok turun, makan malam"ajak Rafa.

"Ck,iya"balasnya singkat.Dan menyusul Rafa kebawah dan makan malam dengan keluarganya.

Ya memang keluarga Dhira sering berkumpul di rumah jika malam. Orang tua nya tidak mau menghabiskan waktunya hanya untuk bekerja, walaupun hasilnya untuk kedua anaknya tetap saja mereka tidak mau, karena mereka tau anak-anaknya membutuhkan waktu bersama keluarganya.Jadi mereka memutuskan untuk bekerja sampai jam 6 sore saja,beda halmya jika ada keperluan atau meeting yang benar-benar penting.

🍀🍀🍀

Sesampainya di meja makan tidak ada yang membuka suara.Hanya suara dentingan sendok dan garpu yang menemani mereka.Sehingga terdengar suara bell rumah yang menandakan datangnya tamu.

Ting tongg

"Bi tolong bukain pintunya"teriak Nita pada bi Tuti.

"Iya nya"jawabnya.

"Nyari siapa ya den?"tanya bi Tuti kepada cowok jangkung didepannya.

"Dhira nya ada bi?"tanyanya sopan.

"Ada,sebentar ya bibi panggilkan dulu, silahkan duduk den"jawab bi Tuti sembari menyuruh Aldo untuk duduk di kursi yang berada di teras rumahnya Dhira.

"Dhira ke kamar dulu ya pah mah"pamitnya.

Tapi baru saja dia hendak pergi dari meja makan bi Tuti menghampirinya.

"Non diluar ada temennya non"kata bi Tuti.

"Siapa bi?"tanyanya.

"Bibi juga gatau non,temennya cowok non"ucap bik Tuti.

"cowok? Perasaan temen cowok gue gada yang tau rumah gue"batinnya.

"Oh yaudah makasih ya bi".

"iya non".

"Pacar lo ya?"tanya Rafa.

"Engga".

"Ngeles aja lo".

Dhira pun tak menghiraukan ucapan abangnya yang unfaedah dan berlalu meninggalkannya menuju ke teras rumahnya.Tetapi saat dia melihat siapa yang datang tubuhnya seakan menegang seketika.Ia tak habis fikir bagaimana cowok ini datang kerumahnya malam-malam begini.

22 Maret 2020





Indhira [On Going]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang