BERANGKAT CAMPING

15 4 1
                                        

Pagi harinya yang indah bagi siswa siswi Garuda yang akan mengadakan camping ke puncak sangat gembira.

Tak terkecuali Keana sahabat si kembar yang hobinya berada di alam terbuka ini. Tapi sekarang ia benar benar binggung si kembar beneran ikut atau engak.

Pasalnya semalam mereka berdua sialnya tak bisa di hubungi dan Keana juga gak bisa jemput.

Kan gak asik gitu duo bobroknya gak ikut berasa single nanti dia.

"Tenang lu gak usah hawatir mereka nunggu jemputan".

Kaget ya pasti orang lagi cemas eh ada dedemit nonggol. Maafkan Keana yang ngomongnya asal jeplak kek bajai ini.

Ini tiba tiba si Rendy ada di sampingnya sejak kapan.

"Lu yakin?". Tanyanya memastikan. Dan hanya di angguki oleh Rendy saja sembari berlalu pergi.

.

.

.

Sedangkan di tempat lain.
Sepasang anak kembar tengah menunggu jemputan mereka.

Persis banget kayak anak SD nunggu jemputan bis mereka.

Sumpah demi apa pun Yanna kesel setengah napas ini kenapa lama banget coba jemputnya. Kalo gini mah mending bareng sama orangtuanya mungkin udah sampe setengah jam yang lalu.
Gak nunggu kepastian kayak gini ehh.

Tak jauh dengan kakak kembarnya Yenna pun menggerut kesal. Kalo gak di ancem kemaren malam gak akan mau dia nunggu di depan rumah mereka sambil bawa slimback sama tas ransel mereka. Kan tetangga pada curiga kalo anak gadis di rumah ini di usir gak elit banget sumpah pikiran liar Yenna ini.

Tin... tin...

Akhirnya ini dia jemputannya datang.

Dillon pun keluar terlebih dahulu untuk menghampiri si kembar maksudnya ke Yenna doang:v.

"Yuk berangkat sini gua bantu." Sambil mengambil alih ransel yang di pegang Yenna, sengaja ia taruh di bawah dan memegang salah satu tali ranselnya.

Sumpah demi apa pun muka Yenna lucu di mata Dillon mana kayak orang gembel lagi nunggu di luar kenapa gak di dalem aja coba?

Yanna yang melihat itu semua pun berdecak sebal. Sempet sempetnya mesra mesraaan di depan orang single gini.

Akhirnya Ray pun turun untu melihat kenapa mereka lama masuk. Bukan niat membantu ya dia tu emang dasar.

"Cepetan keburu telat." Ujarnya.

"Emang udah telat keles, kalian tu lama banget sumpah, anak perawan aja gak selama itu". Ucap Yanna sarkas. Wajar anak perawan suka kesel.

Ray nganga mendengar penuturan Yanna, gak tau apa kota yang dia tempatin macet parah.

Tanpa babibu lagi si kembar pun nyelonong masuk ke mobil Dillon begitu saja, dan jangan lupa menitipkan ransel mereka untuk di simpan sama yang empunya mobil.

Ray dan Dillon hanya mengelus dada sabar aja.

"Kita mau pamitan sama ortu lu pada turun dulu napa." Ujar Dillon sembari membuka pintu bagian penumpang.

Si kembar hanya mengerinyit bingung.
Mereka emang gak lihat apa pintu rumah ke kunci gitu.
Gak ada orang dirumahnya.

"Orang tua kita pergi dari setengahjam yang lalu, lu lu pada gak lihat kita diluar udah kayak gembel nungguin ampek lumutan. Pakek segala pamitan, karena bapakek terburu buru jadi gak sempet menghantarkan putrinya ini di serahkan pada kalian untuk berangkat tau." Jawab Yenna kesal panjang lebar.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Jun 12, 2020 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

WANT TO CHANGECerita yang bikin terobses. Temukan sekarang