"Jungkook!"
Terkejut Jungkook membalik tubuhnya, melihat Hoseok yang berlari kearah nya tanpa alas kaki. "Kenapa hyung?" tanya Jungkook terkejut, takut ada sesuatu hal yang penting. Dalam hati bersyukur karena ia baru pergi beberapa langkah saja dari rumah nya.
Hoseok mencengkram bahu Jungkook dengan kedua tangannya, ketakutan terlihat jelas di mata nya. "Ada apa hyung?" ulang Jungkook sekali lagi karena Hosoek yang terus menatapnya tanpa mengucapkan apapun.
"Kau harus pulang kesini, ke rumah kita, hm?" pinta Hoseok tiba-tiba, dengan tatapan penuh harap.
Jungkook mengerutkan dahi nya kebingungan. "Hah? Maksud mu?"
Hoseok semakin mengeratkan cengkraman tangannya yang mulai berkeringat. "Pokonya, kau harus pulang apapun yang terjadi."
Perasaan Jungkook tak enak, melihat tingkah aneh Hoseok Jungkook tahu ada yang salah. "Kau menyembunyikan sesuatu?" tanya Jungkook serius.
Tiba-tiba Hoseok memeluk Jungkook erat. "Berjanji saja kau akan pulang dengan selamat," ucap nya membuat Jungkook kebingungan setengah mati.
Jungkook membalas pelukannya, meski dengan kondisi kebingungannya. "Aku pasti akan kembali, apapun yang terjadi. Jangan khawatir hyung," ucapnya seraya menepuk punggung Hoseok untuk mengembalikan ketenangannya. "Jangan bertingkah aneh seperti ini, kau membuatku takut hyung."
Jungkook melepas pelukan erat hyung nya. "Bunda menungguku. Aku pergi ya. Tak akan lama, aku akan segera kembali," ujar nya yang di hadiahi tatapan tak rela Hoseok.
Akhirnya Hoseok menganggukkan kepalanya saat mata Jungkook tak juga beralih dari nya. "Sampaikan salam ku pada Bunda," lirih nya yang di jawab dengan anggukan oleh Jungkook.
Jangan tinggalkan aku, Jungkook-ah..
***
Suasana yang tercipta cukup terasa canggung, ini pertemuan kedua Taehyung bersama Bunda setelah sekian lama tak berjumpa, melihat Bunda sedang membuat secangkir teh citrus tak ada yang Taehyung lakukan selain menatap setiap gerakan yang Bunda ciptakan. "Bunda, aku merindukan mu," ujarnya tulus.
Sang Bunda mendekat, menyodorkan teh citrus ke hadapan Taehyung sambil terkekeh. "Benarkah? Kau harus menemui bunda lebih sering kalau begitu," canda sang Bunda seraya menarik satu kursi di hadapan Taehyung untuk di duduki nya. "Kau sepertinya sibuk sekali sekarang ini."
Taehyung tersenyum kikuk di balik cangkir teh nya. "Bunda apa kabar?"
Sang Bunda tak henti menatap Taehyung, bocah 15 tahun yang saat itu sangat ceria, senyum kotak nya yang indah masih tak berubah, kini pria 25 tahun itu memiliki rahang yang tegas dengan hidung yang mancung, benar-benar tampan. "Bunda sehat, bagaimana denganmu? Apa kau baik-baik saja?"
Apa aku baik-baik saja? Aku tidak tahu.
Taehyung menunduk beberapa saat lalu membawa pandangannya tepat pada kedua manik sang Bunda. "Aku merindukan adikku, Jungkookie. Sangat rindu hingga rasanya hampir mati," cicit nya dengan mata yang penuh luka.
Bunda menggenggam tangan Taehyung, memberi nya kekuatan. Binar mata Taehyung sudah benar-benar hilang, menyisakan keterpurukan yang mendalam. "Aku ingin bertemu dengannya Bunda.." Air mata yang sejak tadi di kendalikannya kini runtuh begitu saja, diiringi dengan isakan yang menyayat hati. Bunda mendekat, sekedar untuk memeluknya, Bunda tahu seberapa besar luka yang Taehyung torehkan untuk Jungkook, tapi Bunda tak ingin menghukum Taehyung terlalu lama, melihat Taehyung yang menangis tersedu di hadapannya membuat hatinya terasa nyeri.
"Nak.." Bunda melepas pelukannya lalu menarik Taehyung dari pelukannya, menangkup sebelah pipi nya.
"Kau menhilang dari jangkauan kami terlalu lama. Adikmu, mengalami masa-masa sulit setelah kau meninggalkannya. Kenapa kau tak menghubungi kami sama sekali setelah kepergianmu? Mengapa kau meninggalkan Jungkook begitu saja? Kau membuat Jungkook memiliki trauma berat setelah kepergianmu. Bunda tahu kau tak mungkin melakukannya tanpa sebab, jadi kenapa kau melakukan semua itu?" tanya Bunda menuntut penjelasan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Past
FanfictionAku masih mencari, adikku yang telah lama hilang, masa lalu yang masih terasa hangat. Disini terlalu tinggi, aku takut ia tak bisa menatap mata ku. Seperti apa aku dalam pikirannya? Apakah ia masih akan menatapku dengan sorot mata itu? Aku terlalu t...
