Chapter 4

4.9K 116 0
                                        

i'm back!!

selamat membaca semuanyaa!!

++++++++++

chapter 4

Dulu waktu aku dan keluargaku tinggal di jogja, saat aku masih kecil. Aku ingat saat aku berulang tahun ke 9. Ibu mengundang tetangga rumah ku dan ada satu anak yang saat itu aku sangat benci. Bisa kalian bilang dia itu adalah musuh buyutan ku.

Di saat aku mau meniup lilin kue ulang tahun ku, dia sudah duluan meniupkannya duluan. Lalu di saat aku ingin memotong kue, dia dengan seenak hatinya menyoel kue ulang tahunku lalu memeperkannya di pipi serta dress yang sedang ku pakai.

Bisa dibilang itu adalah hari ulang tahun ter-burukku dan hari yang paling mencekam, di sepanjang umur hidupku.

Ralat! Hari paling mencekam seumur hidupku itu adalah hari ini!

Suasana di dalam mobil antara aku dan axel sangat sangat mencekam. Diantara kami tidak ada yang mengutarkan satu patah kata apapun. Walau pun ada keheningan diantara kami. Tapi kalian masih bisa merasakan suasana mencekam di mobil ini.

Acara uji nyali yang sering kalian tonton di televisi? Kalah dengan suasana mencekam yang terjadi saat ini.

Kalau misalnya kita disini cuma diem - dieman mending tadi aku pulang sama ayah dan ibu, plus devan. Setidaknya selama perjalanan pulang aku ada hiburan ter-sendiri, yaitu devan.

Tapi.. kalo misalnya tadi aku gak pulang sama dia. Aku bakal di nikahin sama si cowok ter-resek di dunia ini. Iiihh amit-amit mending aku ambil jalan aman aja deh.

Tapi lagi.. kalo kita diem - dieman gini terus, gimana mau saling kenal? Mau ngomong duluan aja gengsi.

Aku mendengus sebal memikirkannya.

"Eh,kenapa lo? Gitu-gitu sendiri? Jangan-jangan lo beneran gila ya?!" Suara tuduhnya memecahkan keheningan diantara kami.

Aku langsung memicingkan mata ku ke arahnya. "Enak aja lo! Bilang gue gila! Gini-gini gue masih normal tau!" Ujarku ketus.

Dia mengangkat tangannya yang tadi sedang berada di atas setiran mobil. "Siapa juga yang bilang lo gila? Gue kan cuman nanya, bukan bilang. Beda tau!" Belanya lalu memfokuskan dirinya ke jalan kembali.

Aku hanya memutarkan kedua bola mataku. Malas untuk berantam dengan dia lagi.

Tuh kan! Setiap salah satu dari kita membuka mulut untuk berbicara adanya kami hanya berantam saja. Kayak gini gimana mau kenal satu sama lain?

Dia berdeham, membuat ku tersadar dari lamunanku. "Lo suka apa?" Tanyanya tiba-tiba.

Aku terkejut dengar dia bertanya. Bukan karena pertanyaannya melainkan karena dia berani bertanya duluan. Dari tadi aku perhatikan dia mau bertanya sesuatu, tapi kayaknya dia terlalu gengsi untuk bertanya. Tidak jauh berbeda dengan aku sih sebenarnya.

"Lo di tanya, eh malah diem. Gimana sih?"

"Hah?" Hanya itu jawabku.

"Hah heh, lo ditanya sukanya apa, malah diem." Ujarnya, melirik ku sebentar lalu fokus ke jalan lagi.

"Suka?" Ulangku.

"Iya suka, lo gak budeg kan?"

Cepat-cepat aku menggeleng, "Gue suka.. hmm.. apaan ya?" Tiba-tiba aku jadi bingung sendiri.

Dia menggeram pelan, " Lo manusia kan? Masa gak punya hobby apaan kek gitu, gini deh yang gampang. Kata mama lo kerja, kerja lo dimana?"

"Di wedding organizer dirtaginanjar. Lo sendiri?" Jawabku, lalu tiba-tiba teringat dengan claudia. Sampai jakarta nanti aku harus telpon claudia. Mengingatkannya buat pertemuan kita minggu depan.

Mantan TerindahTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang