Ambulanc yang membawa Gerald telah sampai dirumah sakit. Ia langsung dibawa keruang gawat darurat. Angel panik akan keadaan Gerald saat ini. Pikirannya jauh entah melayang kemana. Angel menatap ruang itu dengan prihatin. Tiba-tiba tangis Angel pecah. Ia manangis didepan ruangan itu. Ia berharap kalau Gerald baik-baik saja.
"Jangan kau hilangkan Gerald" Rintihnya
Ia duduk dikursi ruang tunggu sambil menundukkan kepala. Rambutnya yang panjang menutupi sebagian wajahnya. Ia tenggelam dalam tangisnya.
Tiba-tiba Tama datang, ia langsung menanyai Angel "bagaimana keadaan Gerald?" Angel menggeleng, pasalnya ruangan itu masih tertutup dari tadi. Tama ikut duduk disamping Angel.
"Gerald akan selamat, kamu tenang saja" Hibur Tama, Angel hanya bisa mengangguk pelan.
"Kamu tau? Dulu Gerald sering mengalami seperti ini? Bahkan lebih dari itu. Gerald pernah merusakkan sepeda motor dari pemimpin preman di jalan. Gerald dengan berani menyerang preman itu. Walaupun itu membuat Gerald babak belur, tetapi ia merasa senang dengan kelakuan gilanya itu. Bayangkan saja dulu ia masih kecil sudah bisa melawan pemimpin preman, kalau dalam sinetron pasti Gerald akan baik baik saja, tetapi dalam kehidupan ini pasti tak akan bisa seperti sinetron, yang penuh drama" Angel sedikit tersenyum mendengar cerita Gerald dulu masih kecil seperti itu.
"Kamu tau Angel, dulu kalau om masih ingat, pada saat Gerald berumur 5 tahun ia bermain air panas. Saat itu pembantu sedang mengganti termos air panas, tiba tiba saja telepon rumah berbunyi, pembantu langsung mengangkat telpon. Tapi yang terjadi Gerald menumpahkan air panas itu dan dibuat untuk bermain. Ia tak merasa panas, ia senang dengan mainan itu. Pada saat pembantu kembali, pembantu itu terkejut akan kelakuan Gerald. Bagaimana tidak, air panas ditumpahkan dan dibuat mainan" Tama menerawang kemasa lalu. Angel sedikit terkejut dengan cerita ayah Gerald ini.
"Gerald? Seperti itu om?" Angel hanya memastikan, Tama mengangguk, lalu mengusap punggung Angel.
"Ya seperti itu. Gerald itu menurut om anak yang kuat, ia tak takut apapun, sekalipun kematian" Angel menggeleng, ia tak setuju jika Gerald tak takut pada kematian, saat ia mau bicara tiba-tiba pintu ruangan itu terbuka. Tama langsung berdiri menanyakan bagaimana keadaan anaknya.
"Jadi begini anak bapak mengalami benturan cukup keras dikepalanya, dan itu bisa jadi membuat anak bapak amnesia. Tetapi sangat kecil kemungkinan ia bisa mengingat apa yang terjadi pada dirinya. Tetapi saya sarankan jangan menekan pasien untuk mengingat seusuatu dan itu bisa beresiko buruk buat pasien. Baiklah saya permisi" Dokter itu permisi untuk kembali keruangannya. Tama terkejut, anaknya itu akan amnesia, yang ia takutkan adalah jika Gerald tidak mengenali anaknya.
Angel juga merasa terkejut, bagaimana tidak
Angel pov..
Entah apa yang aku rasain sekarang ini. Yang terpenting aku jelas jelas khawatir sama Gerald. Laki-laki dingin ini sukses membuat perhatianku tertuju padanya.
Apalagi hal yang dibilanh dokter tadi, aku sangat takut kalau dia tak mengenalku. Ah bodoh..emang aku siapa dia? Bahkan cowok itu tak ada rasa buatku. Ayolah Angel jangan pikirkan dia.
"Angel.." Aku mendongak, melihat wajah santai ayah Gerald, Tama terlihat baik baik saja.
"Kamu menangis?" Tanyanya. Aku hanya diam, aku tak tau akan menjawab apa. Ayah Gerald mengusap kepalaku pelan.
"Gerald sudah baik baik saja, besok pasti dia akan sadar" Bisiknya, seketika aku tersenyum kecil. Tama ikut tersenyum.
"Apa itu benar?" Tanyaku dengan suara sedikit serak. Pak Tama duduk disampingku. Menyenderkan punggungnya pada kursi sambil meluruskan kakinya.
KAMU SEDANG MEMBACA
I am Crazy For You
Ficción GeneralKisah tentang Angel yang mencintai laki-laki dengan muka datar. Tetapi Angel tidak mengetahui kalau laki-laki yang dicintainya adalah seorang manusia yang mengerikan.
